Al Dan Karan

Al Dan Karan
70.Perasaan itu


__ADS_3

"Inget ya, lo tuh nggak bakal bisa menang dari gue. Percuma lo punya otak tapi hal kayak gini aja lo nggak bisa."


kepulan asap keluar dari mulut seseorang dengan mata sinis, ia melirik kearah cermin.


"Banyak bacot, lo yakin lo bisa menang dari gue?"


Derap langkah kaki semakin mendekat. Jemarinya memegang pipi, dengan seringainya seperti devil.


"Soon gue bakal buktiin ke lo."


...…...


Karan duduk di tepi lapangan setelah selesai gilirannya berlari memutari lapangan sekolah yang luas 5 x. Keringat bercucuran, nafasnya tak karuan, malas rasanya untuk bangkit dari duduk.


"Se-ma-ng-at!" teriak Karan menyemangati kedua sahabatnya meskipun dengan terbata bata.


Karan langsung menoleh kesamping, saat ada air dingin sengaja di tempelkan persis dipipinya.


"Ngapain lo?" sinis Karan


Al menaruh air mineral yang semula ia tempelkan di pipi Karan ke pangkuan gadis itu.


"Buat?"


"Menurut lo?"


Tanpa ba bi bu Karan langsung meminum air tersebut sampai habis.


"Kayak nggak minum setahun." kata Al pelan


"Gue denger anjir."


"Sengaja."


"Lo ngapain sih masih disini?"


"Ini tempat gue sebelum lo dateng."


Karan memutar bola matanya kesal. Ia veranjak pergi, tangan Al terulur menahan lengan Karan.


"Disini."


"Gak." Karan pergi meninggalkan Al dan mencari tempat duduk lain. Disebelah Emilia, diseberang sana.


Devon yang baru datang tertawa mengejek. Baru kali ini Al ditolak oleh seorang Karan secara berkali kali.


"Coba lagi lah, makanya dulu tuh jangan suka nyia-nyiain orang."


Al tak merespon perkataan Devon. Ia lebih fokus pada Karan didepan sana. Apalagi ketika cewek itu membenarkan ikatan rambutnya, berdamge bagi Al. Seketika, Al merindukan keriangan dari seorang Karan. Kini ia sudah tak mendapatkan hal itu lagi.


Karan merasa ia dari tadi tengah diperhatikan. Ia melihat kedepan dan benar saja, Al dengan terang terangan memperhatikannya. Dan wait... senyum kecil menghasi bibir Al.

__ADS_1


Hampir saja Karan akan terbius lagi. Secepat kilat cewek itu mengalihkan pandangan dan menetralkan jantungnya yang lagi lagi seperti tengah berlari Marathon.


"Baru aja putus eh udah ngembat mantan orang, gatel banget." Ralina meneriaki Karan di koridor saat Karan melewati dirinya.


Teriakan Ralina membuat beberapa siswa menatap dengan tatapan mengintimidasi kearah Karan sebagian memilih cuek bebek.


"Murahan banget jadi cewek. 10 ribu dapet badannya bisa nggak ya?"


Tawa memenuhi koridor. Karan memejamkan matanya sebelum ia berbalik menghampiri Ralina.


PLAKK


Tamparan keras dan panas mendarat mulus di pipi Ralina. Mereka kini menjadi pusat perhatian para murid.


"Ngaca dong lo. Bukannya lo yang jual murah, nempel sana sini. Najis." maki Karan


"Aww..." Ralina sengaja mengeraskan rintihannya begitu melihat Al berjalan mendekati mereka.


Ralina sudah sangat percaya diri bahwa Al akan membelanya dan mencaci maki Karan. Berhubung Al merupakan tipe cowok yang tak suka melihat cewek kasar.


"Percuma sekolah, kalau mulutnya juga nggak disekolahin." ujar Al dibelakang Karan.


Karan menoleh terkejut, ia tak tahu kapan Al datang.Ralina mengumpat dalam hati ketika realitanya tak sesuai seperti apa yang dia mau.


"Lo ngatain Karan jual murah, terus apa kabar sama lo? Karan cewek gue nggak semurah itu."


Karan kaget begitu mendengar penjelasan Al dihadapan seluruh banyak siswa yang menyaksikan mereka.


"Lo brengsek Al bisa bisanya saat lo masih sama gue lo suka cewek lain!"


Al tersenyum miring, mirip seperti seringai yang mematikan.


"Apa kabar sama lo, hm? Gue emang suka sama Karan tapi gue berusaha matiin perasaan itu demi lo.Beda sama lo yang dari awal cuma pengin main main sama gue."


Ralina mencekal lengan Al, memberanikan diri menatap Al yang sepertinya tersulut emosi.


"Gue bisa jelasin kenapa gue lakuin itu." mohon Ralina


"Selain banyak drama, lo juga murahan." Al menarik tangan Karan untuk menjauh dari kerumunan. Karan hanya pasrah mengikuti kemana Al membawanya pergi.


Kerumunan mulai berkurang, sudut pandang mereka tentang Ralina kini berubah. Cewek pintar penuh wibawa menjadi cewek drama dan tak cukup satu laki laki.


"Ew, cover emang selalu menipu," cibir seorang siswi


"Duh, nyesel gue buruk sangka sama Karan." sahut temannya.


Ralina pergi meninggalkan kerumunan yang masih tersisa dengan dendam dihatinya. "Gue pastiin lo bakal nyesel ran."


"Makasih, " kata Karan begitu mereka sampai di depan lab komputer.


Al diam, tatapannya begitu datar entah apa yang tengah dipikirkan. Tak mau lama lama berada disini, Karan beranjak pergi meninggalkan Al.

__ADS_1


"Tunggu."


Secara otomatis langkah kaki Karan terhenti.


"Di dunia ini nggak ada yang gratis, besok Minggu gue jemput lo."


"Ngapain?"


"Ntar juga tau, dandan yang cantik." Al tersenyum kecil, mengacak-acak rambut Karan. Kemudian meninggalkan Karan sendiri dengan rasa penasaran dan hatinya yang berantakan.


Sepeninggalan Al, Karan mencak mencak sendiri. Ia tak tahu harus bagaimana, ia takut kembali terjebak kedalam perasaan itu lagi. Sehingga tanda tanya tentang misi melupakan Al kembali terlintas di benaknya.


"Gue sebenernya udah bener bener move on nggak sih?"


...…...


Malam ini Karan memakai masker untuk wajahnya dan memilih pakaian yang akan dikenakan esok.


"Ini bagus nggak?" Karan menempelkan gaun berwarna putih ditubuhnya.


Nana dan Aura yang tengah bermain ponsel mengarahkan pandangan mereka kearah Karan.


"Nggak."


"Nggak ah gak cocok."


Karan menujukan baju berwarna maroon yang terlihat sedikit seksi "Kalau ini?"


"Anjir, Jakarta panas siang siang lo mau make baju kayak gitu?"


"Ah gue harus make apa dongg, masa gue make daster sih." keluh Karan.


Seisi lemarinya sudah begitu berantakan. Bahkan baju baju pun berserakan dimana mana.


"Ya lo tuh sebenernya mau kemana?" tanya Aura kesal


"Gue nggak tau. Al nggak ngasih tau gue"


"Dih, sok rahasia rahasiaan si Al mah." sahut Nana


"Mending lo make baju yang casual aja deh, daripada ribet." saran Aura "Nih," Aura mengambil beberapa setelan casual yang baginya cocok dikenakan Karan besok.


"Btw, lo tuh sebenernya masih suka nggak sih sama Al?" tanya Nana tiba tiba


Karan menghela nafasnya panjang, "Gue bingung sama perasaan gue."


"Gue rasa sih lo masih suka sama Al." Nana mengangguk setuju akan pendapat Aura.


"Nggak tau ah, gue bingung."


Sampai saat ini Karan masih tidak mengerti tentang perasaanya. Kadang bagi Karan Al tetaplah pemilik hati tertinggi, disisi lain perlakuan Al dulu membuat Karan enggan untuk melibatkan membuka perasaanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2