Al Dan Karan

Al Dan Karan
77. Jadian?


__ADS_3

Reonal menaruh kepalanya di meja kantin dengan gusar. Wajahnya terlihat begitu kebingungan.


"Lo kenapasi?" tanya Farel heran melihat tingkah Reonal daritadi begitu aneh. Mulai masuk sekolah sampai jam istirahat.


"Enaknya gue nembak Aura sekarang apa tahun depan deh?"


Devon menjitak kepala Reonal keras. "Keburu Aura gue embat, mampus lo."


"Wah, ternyata lo diem diem gitu ya von. Parah lu." ujar Reonal dramatis.


Suasana kantin hari ini begitu ramai. Sebagian topik yang tengah dijadikan perbincangan siang ini adalah tentang acara party sekolah yang diadakan berberapa hari lagi.


"Duduk dimana ih kita?" gerutu Nana begitu melihat semua tempat duduk sudah full.


"Lo sih, pake acara nyalin jawaban segala. Jadi nggak dapet kan kita." Aura menuduh Nana.


"Heh, lo juga ya njir." balas Nana tak mau kalah.


Karan geram dengan kedua sahabatnya. Selalu saja meributkan hal yang tak begitu penting. Karan berjalan ke salah satu meja di pojok. Meja dimana Al dan sahabatnya berada.


"Gue lihat dari sekian banyak meja. Meja lo kosong, gue izin duduk disini sama temen temen gue." pinta Karan.


"Mangga atuh neng." balas Devon.


Setelah Karan bersama kedua sahabatnya duduk. Devon, Farel dan Al memberi kode ke Reonal. Reonal yang dasarnya memang rada rada, tak memahami maksut dari tatapan mata teman temannya.


"Lo pada melotot melotot ke gue ngapain sih?"


Kini Reonal menjadi pusat perhatian, seluruh penghuni meja tersebut. Terutama Karan dan kedua sahabatnya.


Devon beserta Farel menatap Reonal seolah olah ingin mencengkramnya. Tangan mereka sudah gatal untuk menabok Reonal saat itu juga. Sedangkan Al hanya mengusap wajahnya kasar.


"Tembak sekarang anjing," bisik Farel tepat di telinga Reonal.


Reonal melirik ke depan. Dimana Aura tengah menikmati makanannya yang baru datang.


"Sekarang?"


"Taon depannn.."


"Yah, masih lama dong."


Farel makin gemas dengan sahabatnya yang entah kemana perginya otak di kepalanya.


"Ya sekarang dong begoo."


"Ra."


Aura mendongak begitu Reonal memanggilnya.


"Ra."


Aura masih sabar menghadapi cowok rese dihadapannya.


"Aura."


"Apasih anjir, lo kira gue budek." gemas Aura.


Farel yang disebelah Reonal menutup wajahnya. Ia merasa malu punya teman seperti Reonal.


"Ikan hiu makan sushi, lo mau jadi pa..car gue nggak?"


Nana yang memang receh tak bisa menahan tawanya lagi. Begitu mendengar pantun yang super nggak nyambung.


"Ups, sorry." Nana terkekeh dan jarinya membentuk peace begitu seluruh mata tertuju padanya..


"Lagi ngelawak lo?" sinis Aura.


Reonal menggeleng serius. Ia meraih tangan Aura dan menggengamnya.


"Ra gue beneran tulus sama lo. Gue nggak seperti yang lo simpulin, kalau gue cuma pengin main main sama lo. Nyatanya engga ra, gue serius sama lo. Gue sayang sama lo. Gue emang bukan cowok yang sempurna. Tapi, gue bakal selalu berusaha jadi yang terbaik buat lo. Aura, lo mau jadi pacar gue?"


Suasana hening. Semuanya begitu tegang mengunggu jawaban dari Aura. Termasuk Reonal yang kini menahan nafasnya sejenak. Ia sudah siap kalau akhirnya ia ditolak. Toh sadar diri saja.


"Oke gue mau jadi cewek lo ." jawab Aura tenang, setelah penuh pertimbangan


"Hah serius?" tanya Reonal tak percaya.


Aura mengangguk dengan senyum di bibirnya. Baru pertama kali ini Aura tersenyum untuk Reonal


Seluruh penghuni meja pojok bersorak-sorai.


Terutama Karan yang refleks langsung memeluk Al disampingnya. Karan turut bahagia, melihat sahabatnya itu kini telah melenyapkan status jomblo. Karan tak sadar bahwa kini dirinya. Ralat, Al dan Karan menjadi pusat perhatian seluruh penghuni meja.


"Yaela, nikah aja sekalian habis ini. Udah cocok juga." sindir Devon.


Karan yang baru sadar akan apa yang ia lakukan, segera melepas pelukannya dan kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


'Anjir bego banget gue.' batin Karan


Tanpa Karan sadari, Al tersenyum begitu kecil. Melihat tingkah Karan barusan.


"Omg karannn.. itu bakso gue pliss." Teriak Nana


Karan langsung melotot begitu sadar yang ia makan adalah bakso milik Nana. Pantas tidak terasa pedasnya.


"Ciee...salting. Sampai lupa bakso sendiri." goda Reonal


"Siapa yang salting, orang gue sengaja makan baksonya Nana. Mau nyoba rasanya."


"Alasan aja lo Maemunah." sahut Devon


"Rese lo pada." sinis Karan


Al terkekeh dan mengacak-acak rambut Karan gemas.


"Awww, soon bakal ada couple baru nih." heboh Nana.


Karan mengumpat dalam hati. Bukannya, Aura dan Reonal yang menjadi topik. Justru dirinya dan Al yang menjadi bahan godaan.


"Eh btw, lo berdua jangan lupa pajak jadian." Karan berusaha mengalihkan topik.


"Nggak usah ngalihin topik gitu, ah." kata Aura bisa menebak isi kepala Karan


Devon menepuk pundak Al dan berbisik."Cepet jedor, keburu gue ambil tau rasa lo."


"Berani deketin dia, berurusan lo sama gue." ancam Al dengan senyum sinisnya.


"Anjir ngeri lo."


"Btw thanks ya, lo udah mau jadi cewek gue. Setelah sekian lama gue menjomblo. Nanti kalau pulang kerumah gue dulu ya."


"Ngapain?"


"Gue mau pamer ke bunda gue.


Kalau gue udah punya bidadari.Tau aja habis ini diadain syukuran dirumah."


Ketiga sahabat Reonal kompak bersorak mengejek.


"Kok lo mau sih ra sama dia, bukannya lo benci dia?" tanya Devon penasaran.


"Wah parah lo von nanyanya." kata Reonal tak terima.


Reonal menepuk dadanya bangga.


"Dih,"


"Apa lo? iri kan lo nggak bisa nembak Karan."


"Gue mulu heran deh." greget Karan .


"Ran asal lo tau, Al ini diem diem suka ceritain tentang lo kalau lagi kumpul. Dia suka senyum senyum kalau nama lo disebut.Ya kan Al?" bocor Farel dengan enteng, yang mendapat anggukan antusias dari Reonal dan Devon.


Al mendelik kesal kearah Farel. Ingin rasanya ia melempar Farel dengan bekas kuah bakso miliknya.


Karan terlihat berusaha seolah olah mengabaikannya. Padahal dalam hatinya ia begitu ingin mendengar lebih banyak lagi.


Ponsel Karan disaku bergetar pendek. Membuatnya mengambil ponsel tersebut.Ada sebuah pesan dari orang disebelahnya.


Al : jangan didengerin


Karan : gimana Kalau justru gue pengin denger lebih banyak lagi.


Entah mendapatkan keberanian darimana Karan bisa mengetikan pesan seperti itu. Al tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya ketika membaca pesan tersebut.


Al tersenyum kecil kearah Karan ketika yang lain sedang berbincang bincang.


...…...


"Hai Al."


"Al." panggil Ralina berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Al.


"Al, gue pengin ngomong sama lo." Ralina mencegat langkah Al.


Al membuang muka. Dirinya sudah cukup muak dengan segala drama yang dibuat cewek ini.


"Al jujur gue sayang lo. Gue bego banget emang udah nyia-nyain lo dulu. Gue nyesel."


"Aneh. Pas ngelakuin nggak nyesel, kenapa sekarang jadi nyesel."


Al hendak pergi, tetapi lagi lagi langkahnya di cegat oleh Ralina.


"Al, gue cinta lo. Gue sayang banget sama lo."

__ADS_1


"Gue juga."


Ralina membulatkan matanya tak percaya. Sepertinya Al masih menyukai dirinya. Pikir Ralina naif.


"Tapi dulu, sebelum gue tau kalau lo cewek ular." Al melanjutkan perkataannya dan tersenyum sinis, mengejek.


Wajah Ralina yang sumringah luntur begitu saja. Harapannya hancur dalam sepersekian detik. Dirinya terlalu berekspektasi tinggi akan cinta Al.


"ALL!" Tak hanya Al dan Ralina. Segilntir siswa yang masih berada di koridor juga ikut menoleh kearah Karan. Cewek dengan rambut di kuncir berlari riang kearah Al.


"Hai," Al tersenyum, ia mengambil tangan Karan dan mengandengnya begitu Karan didekatnya.


"Pulang yuk, udah soreh nih." ajak Karan yang disetujui oleh Al.


Sebelum pergi meninggalkan Ralina. Karan sempat tersenyum mengejek. Seperti apa yang Ralina dulu lakukan kepadanya.


Keduanya meninggalkan Ralina yang terdiam ditempat. Ia benar benar telah kalah oleh Karan.


"Pulang bareng gue."


Karan mengangguk, ia tak menolak. Kebetulan ia juga tak membawa mobil.


"Sorry."


Al mengerenyitkan dahinya, pandangannya lurus kedepan, fokus mengemudi. "Buat?"


"Yang tadi, gue jadi ganggu perbincangan lo."


Al terkekeh, satu tangannya ia gunakan untuk mengacak acak rambut Karan.


"Lucu lo. Justru gue berterima kasih. Berkat lo, gue nggak jadi ngeluarin tenaga buat ngeladenin dia."


Karan terdiam. Jujur, terkadang ia takut sewaktu waktu Al kembali kepada Ralina. Mengingat, betapa cintanya Al dulu kepada Ralina. Mau bagaimanapun dia adalah orang baru dihidup Al. Berbeda dengan Ralina.


Karan dan Al tak langsung pulang. Mereka berhenti disebuah warteg untuk mengisi perut masing masing.


"Kak Karan." panggil dua anak kecil berbarengan ketika Karan sudah selesai makan.


Tak hanya Karan, Al pun ikut menoleh ke kedua anak tersebut.


"Pita, Gina?"


Dua anak perempuan langsung memeluk Karan dengan erat.


"Kalian apa kabar?"


"Baik, kakak kok nggak pernah main lagi ke Panti?" tanya Pita


Karan mengelus kepala pita dan Gina. "Maaf ya kak Karan banyak kerjaan, jadi nggak sempet kesana."


"Anak anak yang lain kangen kakak tau." adu Gina


"Really?"


Gina dan Pita mengangguk antusias.


"Pita sama Gina udah makan?" tanya Karan lembut.


"Udah kok Kak."


Karan mengangguk. Kemudian menyuruh kedua anak tersebut untuk ikut duduk didepannya. Karan memesankan minuman untuk mereka berdua. Karan juga memesan banyak makanan yang nantinya akan diberikan kepada anak panti.


"Oh ya, kenalin ini Al. Kalian bisa panggil Kak Al."


"Hai," sapa Al.


"Hai kak Al, aku Gina."


"Aku Pita."


"Salken, Gina, Pita." ucap Al ramah. Tak sedingin biasanya.


"Kak Al ini pacar Kak Karan?" tanya Gina tiba tiba.


"Enggak." jawab Karan cepat.


"Yah padahal udah cocok banget kalian. Kayak couple di drama korea gitu."


Al tersenyum kecil. "Yudah, doain aja ya semoga kak Karan jadi pacar Kak Al. Biar kayak couple drama korea."


Karan sontak menatap Al terkejut. Sedangkan yang ditatap malah tersenyum tak berdosa.


"Cieee.." sorak Pita dan Gina.


"Udah ah, lanjutin minumannya. Habis ini kakak mau ke panti."


'SIALAN AL, LAGI LAGI GUE BAPER.' teriak Karan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2