Al Dan Karan

Al Dan Karan
85. Salah paham lagi


__ADS_3

Alih alih pergi, justru ia menangkup pipi cowok dihadapannya dan mencium bibirnya.


_________________________________


Karan membelalakan matanya sempurna. Hatinya seperti tengah dibawa terbang begitu tinggi dan kini harus dijatuhkan kembali.


Karan merasakan hatinya seperti disayat sayat oleh pisau. Bibirnya bungkam tanpa suara, langkahnya lemas. Tetapi sebisa mungkin ia berusaha untuk menstabilkan kakinya agar bisa segera pergi dari tempat ini. Ia tak ingin menyaksikan lebih dalam lagi yang nantinya, semakin membuat hatinya seperti teriris.


Karan berjalan menyusuri koridor dengan mata yang basah. Berkali kali ia berusaha menetralkan rasa sakit dihatinya, namun rasanya tak kunjung reda.


Karan mengusap air matanya yang tak mau berhenti. Satu tangannya ia gunakan untuk membuka ponselnya mencari aplikasi gojek, dan memesannya. Lupakan rencana tentang makan bersama. Karan ingin segera pulang dan menangis sepuasnya.


Pikiran buruk menyerang Karan secara bertubi tubi. Disaat yang bersamaan hatinya juga di serang oleh rasa sakit. Karan sadar diri, sangat sadar bahwa ia dan Al tak memiliki sebuah hubungan yang spesial. Tak seharusnya ia merasakan emosi seperti ini.


Namun tak bisa dipungkiri. Karan sudah benar benar memberikan hatinya untuk Al. Ketika cowok itu datang dan hendak memperjuangkannya. Tak adil rasanya jika ia harus merasakan patah hati kesekian kalinya.


Masih di tempat yang sama. Al mendorong tubuh Ralina menjauh darinya. Tangan kanannya mengusap bibirnya yang basah akibat ulah gadis dihadapannya. Mata tajam Al menatap Ralina tak suka.


"Cih, lo nyadar nggak, kalu lo itu, murahan? gue harap sih lo nyadar."


Setelah mengatkan itu, Al pergi meninggalkan Ralina begitu saja.


Tiba tiba langakah Al terhenti, begitu ia mendengar sebut kalimat yang cukup menganggu keluar dari bibir Ralina dengan lancar.


“Gue murahan, Karan apa? Bukannya Karan ya yang murahan.Gue harap, lo nggak lupa sama ucapan lo sendiri.” Ralina melipat tangannaya di depan dada dengan senyum licik menghiasi wajahnya. Merasa puas bisa menjatuhkan Al.


Ralina lupa kalau yang kini ia hadapi adalah Al. Cowok dingin seperti kulkas yang blak blakan. Tak peduli dengan perasaan orang yang ua bencinya


Al menyeringai, “Gue dulu belum benar benar kenal Karan, setelah gue kenal dia. Gue sadar, kalau dia cewek yang berkelas. Daripada lo.”


“Satu lagi, gue harap kedepannya seluruh anak SMA sini tau. Kalau mantan wakil ketua osisnya adalah cewek sasimo dan simpanan om om.”


Al menyeringai dan sengaja menekankan kata sasimo, simpanan om om di akhir kalimatnya.


Ralina menatap kepergian Al dengan emosinya yang memuncak. Ia menendang tong sampah di sampah di sampingnya dengan kencang, sehingga membuat sampah yang ada di dalamnya berserakan keluar.


Berkali kali Al menelfon Karan, tak ada satupun dari panggilan tersebut yang diangkat. Al sudah mencari Karan di setiap penjuru sekolah, namun nihil.


“Pak,” panggil Al kepada Pak Santoso, satpam sekolah.


Pak Santoso yang hendak menyeduh kopi, menggurungkan niatnya ketika Al menghampirinya.


“Kenapa Al?”


“Bapak tadi liat Karan nggak pak?"


Pak Santoso tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Karan yang mana, bapak lupa.”


“Cewek yang rambutnya kecoklatan, tasnyya hijau tosca, tadi rambutnya di kuncir.”


“Oh..neng Jevina. Tadi Bapak liat dia udah pulang sama gojek. Terus matanya merah kaya abis nangis.” Terang Pak Santoso.


“Makasih ya Pak,” Al pergi meninggalkan pos satpam dan masuk kedalam mobilnya.


Al mempercepat laju mobilnya. Ingin segera sampai di rumah Karan. Al khawatir kalau Karan salah paham dengan melihat insiden antara dirinya dan Ralina. Ditambah kata Pak Santoso ia seperti menangis.

__ADS_1


“Selalu kaya gini, kenapa seolah olah gue nggak di izinin buat bareng sama Karan, sebentar aja,” keluh Al entah pada siapa.


Sudah satu jam berdiri di depan rumah Karan. Mengetuk pintu rumahnya berkali kali, tak ada tanda tanda akan di bukakan oleh sang tuan rumah.


“Ran, gue tau lo ada di dalem.”


Karan memang ada di dalam, tepat berda di belakang pintu. Duduk diam, menyenderkan punggungnya pada pintu


“Bukain pliss.. gue mau ngelurusin sesuatu hal."


Karan menghela nafasnya.“


"Al, tolong biarin gue sendiri dulu.” Kata Karan dibalik pintu, ia engan untuk keluar.


“Yaudah kalau itu mau lo, sebelumnya maaf udah bikin lo sakit hati lagi. Kalau ada apa apa telfon aja.”


Setelah mengatakan itu, suara mobil melaju menjauhi pekarangan rumah Karan.


Karan merasa bersalah kepada Al, disisi lain ia juga kesal dengan Al yang diam diam masih berhubungan dengan Ralina.


Al menyingkap selimut yang ada di tubuhnya dan membuka mata begitu mendengar perutnya sudah mulas, meminta untuk di isi. Al segera beranjak dari kasurnya mengambil kunci motor di nakas, hendak pergi membeli makanan karena tak ada makanan di rumah.


Ketika ia akan melangahkan kakinya untuk menuruni tangga ia mendengar suara piring dan sendok saling bersahutan. Al menelan ludahnya susah payah. Pasalnya di rumah ini hanya ada dirinya sendiri.


‘Sejak kapan rumah gue jadi angker gini?’ tanya Al dalam hati.


Dalam keadaan takut, Al tetap memberanikan diri untuk melihat langsung ke dapur.Al tersenyum kecil sekaligus kaget. Dugaanya salah, justru yang kini ada di dapurnya adalah seorang bidadari yang begitu cantik dimata Al.


Al diam, mengintip Karan yang tengah menyiapkan makanan di meja makan.


Al yang tengah di sindir keluar dari tempat persembunyianya dengan cengiran.


Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Al. Karan bersiap untuk pulang. Dengan cekatan, Al menahan tangan Karan. Agar menghentikan langkahnya.


“Jangan pulang dulu, temenin gue.”


Sebenarnya Karan bisa saja menolak permintaan Al. Tetapi entah mengapa hati kecilnya menyuruhnya untuk tetap berada di sini. Dengan berat hati Karan kembali duduk.


Tak ada sedikitpun obrolan yang keluar, masing masing terdiam. Karan yang duduk didepan Al, sibuk dengan ponselnya sedangkan Al sibuk dengan makanan buatan Karan.


Karan tak menyukai situasi seperti ini, di sisi lain ia gengsi harus memulainya terlebih dahulu. Begitu halnya dengan Al, ia takut Karan akan semakin marah padanya.


Setelah menghabiskan makananya. Al menatap Karan yang tengah fokus bermain ponsel.


“Ran?”


“Udah selesai kan makannya, gue mau pulang.” potong Karan, beranjak dari duduknya.


Lagi lagi tangan Al berhasil menahan Karan untuk tidak pergi terlebih dahulu.


“Al, gue mau pulang. Mau ngerjain tugas.” Alibi Karan.


“Tugas? Seinget gue kita nggak di kasih tugas sama sekali sih.”


Karan mengigit bibir bawahnya, bagaimana bisa ia lupa kalau dirinya dan Al satu kelas.

__ADS_1


“Au dah, gue mau pulang, lepasin.” Karan berusaha melepaskan cekaln tangan Al di lengannya, tetapi nihil.


“Kenapa lo tadi pulang duluan?” tanya Al to the point.


Karan membuang muka kesal dengan pertanyaan Karan. “Gue rasa lo udah tau jawabannya.”


Al mengangguk. “Tapi, itu nggak seperti apa yang lo pikirin."


"Emang gue mikir apa?”


Al terdiam sebentar, "Mikir gue ada something sama Ralina, mybe?"


"Bukannya emang iya? Gue tadi cuma kecewa aja sih, bisa bisanya lo anggurin gue buat ketemu sama Ralina berjam jam.”


“Oh ya, extra ciuman di lorong sekolah.”


Al mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Karan duduk dengan tangan yang ia lipat didepan dada. Menatap Al dengan penuh intimidasi.


"Dari lo ciuman sama Ralina aja udah ngegambarin kalau lo ada sesuatu dengan dia." kata Karan lugas. "Oh ya, sorry gue nggak seharusnya kaya gini, toh itu hak lo. Gue nggak berhak ngelarang lo buat ngelakuin hal itu."


Karan kembali ingin beranjak, namun terhenti saat Al menyodorkan ponselnya yang berisi chat dengan no yang tak di save.


0875367890: pulg sekola ktmu didepan kls 12 IPS-2, ada yg mau gw omongin


0875367890: skli aja


0875367890: klo lo g ksini, brrti lu siap dia knp npa


0875367890: send a picture


Foto yang dikirim Ralina ke Al, merupakan foto yang diambil Ralina dari belakang. Ketika Karan tengah mencuci wajah di wastafel kamar mandi sekolah sendirian.


Karan menatap Al. Sedangkan yang ditatap mengangguk, seolah mereka tengah berbicara lewat isyarat mata.


Karan tak tahu harus bagaimana selain memeluk Al. Ia malu sudah berpikiran negatif dengan cowok yang kini juga membalas pelukannya.


Al menghampiri Ralina karena cowok itu takut gadis yang ia cintai terluka akibat ulah Ralina.


“Lain kali jangan lagi ya,”


“Kenapa, cemburu?” Al terkekeh


Karan melepaskan pelukannya dan mencubit lengan Al pelan.


“Gue terlalu takut lo kenapa kenapa. Gue nggak mau kehilangan lo, setelah gue kehilangan mama.”


Karan terdiam di tempat menatap maniak mata Al yang menunjukan ketulusan dalam ucapannya.


"Gue nggak ada sesuatu dengan Ralina dan gue ngeizinin lo buat cemburu. Lo berhak atas itu." ucap Al.


Keduanya sama sama terdiam dan bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Sehingga bisa merasakan deru nafas masing masing.


Tangan Al menangkup pipi Karan, membelainya dengan lembut. Karan menutup matanya, menikmati sentuhan tangan Al dan aroma baccarat yang menyeruak ke indra penciumannya.


Al memiringkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya ke bibir pink Karan. Karan sempat terkejut, namun ia lebih memilih diam dan mengikuti Al.

__ADS_1


“KAK AL- AAAA MAMAAAA!”


__ADS_2