Al Dan Karan

Al Dan Karan
9.Taman kota dan hilang


__ADS_3

Dua Jam Karan menunggu Al dirumahnya.Kata tante Lelita,Mama Al.Cowok itu tadi keluar sebelum Karan kesini.Dengan sabar Karan bersedia menunggu.


Suara tawa Al dari depan membuat Karan segera bangkit dari duduknya,berlari menuju teras rumah Al dan benar saja.Al berada disana bersama....Ralina.


Hati Karan sedikit tercabik ketika melihat Ralina berada disana.Bahkan,cowok dingin itu tertawa dan tersenyum manis kepada Ralina.


Motor yang Al gunakan bannya bocor sehingga,ia terpaksa pulang untuk mengambil mobil hitamnya.Agar ia dapat kembali melanjutkan jalan jalan malam minggunya bersama Ralina.


"Al!" panggil Karan Saat Al dan Ralina akan memasuki mobil tersebut.


Al dan Ralina yang baru sadar akan kehadiran Karan segera menoleh kearah teras,disana Karan sedang berdiri sambil tersenyum seperti bisanya.


"Lo ngapain ke rumah gue?"


"Mau minta ajarin Matematika,ada satu bab yang gue nggak bisa."


"Besok."


"Yaudah kalau emang lo nggak mau ngajarin gue sekarang,tapi sebagai gantinya gue ikut lo berdua jalan jalan," pinta Karan tiba tiba


"Nggak!" tegas Al cepat,jelas dan menyakitkan.


"Al,kasian Karan dua jam loh dia nunggu kamu disini.Masa cuma ikut aja enggak boleh,kan malah seru rame rame," Itu suara Lelita Mama Al yang kini berdiri disebelah Karan. "Lagian Ralina pasti enggak keberatan kan Karan ikut?"

__ADS_1


Dengan terpaksa,Ralina mengangguk antusias ia memasang wajah ramah seolah olah ia sanggat ingin Karan ikut namun berbeda balik dengan hatinya yang terus mengumpat kesal, "Iya enggak apa apa Al,bener kata Mama kamu rame rame lebih seru."


Al hanya menghela nafas kasar dan mengiyakan permintaan Karan yang sempat ia tolak mentah mentah tadi.


Karan tersenyum bahagia segera ia memasuki mobil Al,cewek dengan kaos pendek warna hijau army itu duduk di bangku penumpang.Jangan ditanya Ralina ada dimana,jelas ada didepan,disebelah Al.


Mereka bertiga berpamitan kepada Lelita.Sepanjang perjalanan obroloan dalam mobil hanya didominasi oleh Karan yang bertanya kepada Al atau bercerita mengenai suatu hal kepada Al.Tanpa sadar, cewek itu secara terang terangan mengabaikan keberadaan Ralina.


Bahkan setiap mereka berdua berbicara, tanpa merasa berdosa Karan segera memotong pembicaraan mereka.Membuat rasa ingin mengusir Karan dari mobil ini bertambah tinggi dalam hati Ralina.Sedangkan Al hanya mengumpati sikap gadis itu.


Mereka bertiga berhenti tepat di pasar malam kota.Ralina dan Al berjalan terlebih dahulu sedangkan Karan dibelakang mereka.Saat tangan besar Al akan menggandeng tangan Ralina,segera Karan menghalanginya dengan cara ia berjalan ditengah tengah mereka berdua.Membuat keduanya lagi lagi menghela nafas kasar.


"Lin lo mau naik apa?"


"Bianglala!" siapa yang ditanya siapa yang menjawab.Ya itu Karan yang menjawab.


"Komedi putar boleh tuh," kata Ralina kemudian


"Ah ngebosenin," cibir Karan, "Eh Al, lo inget nggak waktu dikelas,lo pernah ngomong ke Pandu kalau naik komedi putar tuh ngebosenin." Jelas Karan,membuat Al mendelik kesal.Benar apa yang dikatan Karan, cowok itu memang pernah mengatakan hal itu.


Ralina yang berusaha mati matian mengatur emosinya segera mengalah.Mereka bertiga akhirnya naik bianglala dengan posisi duduk yang semakin membuat Ralina ingin menjatuhkan Karan dari ketinggian ini.


Bagaimana tidak,Al duduk bersebelahan dengan Karan,sedangkan dirinya duduk didepan mereka.Tak jarang Karan sengaja mengkikis jarak antaranya dan Al.

__ADS_1


Setelah mencoba berberapa wahana,tentu dengan Ralina yang selalu kalah dengan Karan.Ibaratnya Karan 5 dan Ralina hanya1.


Mereka bertiga duduk dibangku yang disediakan, tentu dengan Karan ditengah.


Ditengah istirahatnya,aroma martabak berhasil membuat perut Karan meronta ronta.


"Al temenin beli martabak disana dong!"


Al berdecak, "Beli sendiri jangan manja."


Karena terlalu malas berdebat,akhirnya gadis itu pergi membeli martabak sendiri.Disisi lain, Ralina tersenyum puas dalam hati.


"Umm,Al kamu lapar nggak?" tanya Ralina begitu saja.


Al tersenyum,faham dengan maksut Ralina.Cowok itu segera mengajak Ralina mencari makanan.Mereka berdua memasuki rumah makan yang cukup jauh dari tempat mereka duduk tadi.


Bahkan Al melupakan Karan yang kini sedang mencari dirinya dikeramaian pasar malam.Karan bingung harus mencari kemana keberadaan Al dan Ralina.Karan berusaha menghubungi Al,sialnya Al tidak aktif.Sedangkan untuk menghubungi Ralina adalah ketidakmungkinan,karena no HP Ralina saja ia tak punya.Satu satunya cara adalah ia harus menjelajahi pasar malam yang luas ini untuk menemukan Al.


Mungkin kali ini semesta sedang tidak berpihak kepada Karan.Hujan turun dengan derasnya saat Karan sedang mencari keberadaan Al ditengah tengah pasar malam. Gadis itu tak mempedulikan hujan yang menguyur tubuhnya.Hampir semua orang mencari tempat berteduh, berbeda dengan gadis ini ia terus saja berjalan sesekali berlari mencari seseorang itu.Seseorang yang dingin seperti malam ini.


Air hujan membuat ujung rambut hingga sepatunya basah semua.Ditambah hawa dingin yang menusuk nusuk nusuk tubuhnya.Karan sedikit menyesal mengapa ia tak menggunakan hoodie saja kalau tahu seperti ini.


Hujan tak kunjung berhenti,semakin lama hujan semakin memperbanyak jumlahnya.Seolah ia tak peduli pada gadis kedinginan yang sedang mencari seseorang itu.Ia terus mengahantam tubuh gadis itu dengan airnya,menikamnya dengan hawa dingin.Martabak yang dibelinya entah hilang dimana,dia tidak peduli lagi.

__ADS_1


Rasa pusing menyerang kepalanya begitu saja,darah segar keluar dari lubang hidungnya dengan lancar.Karan menyenderkan tubuhnya pada salah satu tiang disana,matanya buram,kepalanya sakit.Dalam hitungan detik,gadis itu sudah tidak sadarkan diri.


Seseorang yang entah datang darimana, segera mengendong tubuh Karan menuju mobilnya.Ia tidak peduli,kalau seandainya mobilnya dan bajunya basah kuyup.Karena sekarang ada yang lebih penting dari itu semua.Gadis disebelahnya ini.


__ADS_2