Al Dan Karan

Al Dan Karan
37.Malam dan sepi


__ADS_3

Malam ini, Karan dirumah sendiri.Dikarenakan Mamanya masih lembur di kantor.Semenjak kematian Papanya, Mama Karan menjadi orang yang gila kerja.


Bel rumah berbunyi.Membuat Karan refleks beranjak dari duduknya dan membuka pintu.


Betapa terkejutnya Karan, saat ia melihat siapa yang datang.Karan hendak bertanya untuk apa Al kesini.Tidak biasanya cowok itu datang kemari.


Pertanyaan Karan tertahan di mulut.Karena tiba tiba Al langsung memeluk Karan.Karan heran dengan tingkah Al kali ini.Tapi, gadis itu akhirnya menyambut pelukan Al.


"Kenapa Al?" tanya Karan dengan lembut


Al melepaskan pelukannya, begitupun Karan.Cowok itu menatap Karan dengan lekat.Tidak ada tatapan kesal, serta kebencian seperti biasa.Hanya ada tatapan yang tak bisa di artikan.


"Al kenapa?" tanya Karan lagi


Tersadar, Al segera membuang muka. "Lo lagi sibuk?"


"Enggak, kenapa?"


"Ayo ikut gue." ajak Al


Alih alih mengikuti Al, Karan masih diam di tempat.Saat akan membuka pagar rumah Karan. Al tersadar bahwa Karan tidak mengikuti dirinya.Cowok itu kemudian membalikan badan.


"Ikut gue." perintah Al dengan nada dingin seperti biasanya.


"Kemana,Lo nggak mau nyulik gue kan, atau ngebunuh gue,atau jug-"


"Gue nggak sejahat itu,ayo ikut gue." potong Al cepat.


"Gue perlu ganti baju nggak?" tanya Karan

__ADS_1


"Gak." jawab Al dengan cuek.


Karan mengangguk, sembari menutup pintu rumahnya.Keduanya berjalan, meninggalkan pekarangan rumah Karan.


Al dan Karan berjalan bersisihan di trotoar.


"Kita mau kemana sih?" tanya Karan entah yang ke berapa


Bukannya menjawab, Al hanya diam.


"Ini sebenarnya yang di samping gue manusia atau kulkas dua pintu sih." sindir Karan


Al tersenyum kecil, tanpa Karan sadari.


"Di samping gue ini sebenarnya manusia atau toa masjid sih." sindir Al balik


Karan menoleh,melotot kesal ke arah Al."Nyebelin banget si lo."


"Idihh, pede banget lo." cibir Karan.


Al terkekeh, kemudian melanjutkan perjalanan.Sampai akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah tenda nasi goreng, ralat bukan berdua.Tapi, hanya Al.


"Kok berhenti, mau ngapain?"


"Menurut lo?" tanya Al balik.


Karan terdiam, mengikuti cowok itu dari belakang.


"Pedes atau nggak?"

__ADS_1


"Ha? apanya?"


Al mendegus kesal.Menoyor kepala Karan pelan. "Nasi gorengnya dodol."


"Nggak pesen gue." Kata Karan


"Karena lo nggak bawa uang?"


Karan mengangguk polos, membuat Al tertawa kecil. "Santai, gue yang ngajak lo, berarti gue yang bayarin."


"Nah tumben lo peka jadi cowok, gue pedes ya." jelas Karan.


Al mengangguk dan segera memesan dua porsi nasi goreng kepada abangnya.


"Al." panggil Karan disela sela makannya.


"hm?"


"Seumur umur gue tinggal disini, gue nggak pernah tau kalau ada nasi goreng seenak ini."


"Makanya jangan main di mall mulu." sindir Al


Alih alih menjawab, Karan terlihat lahap memakan nasi goreng tersebut.


"Lo dateng di saat yang tepat.Kebetulan gue belum makan."


Al mengerenyitkan dahinya. "Mama lo nggak masak?"


Mendengar pertanyaan tersebut Karan terdiam sejenak. "Boro boro masak, Mama aja belum pulang dari kantornya."

__ADS_1


Karan menghela nafas pelan, tatapannya berubah menjadi sendu. "Semenjak bokap gue meninggal, Mama jadi orang yang gila kerja.Sampai kadang lupa sama kesehatannya sendiri."


Al bisa merasakan kesepian yang dialami gadis di hadapannya ini.Dibalik hidup Karan yang terlihat baik baik saja.Ternyata terdapatnya berbagai luka yang tersirat.


__ADS_2