
Deg, deg, deg. Detak jantung Ian langsung berdetak kencang. Pria ini terkejut.
"Apa yang mama tanyakan?" Ian berusaha tampak tenang meski hatinya tidak karuan.
"Sungguh aneh, kamu tidak punya golongan darah yang sama dengan putramu. Seingat mama, Mina juga tidak punya golongan darah yang sama waktu butuh darah karena pendarahan waktu itu. Dia punya golongan darah A. Mama ingat itu."
Mama mungkin berusaha terus mengingat kejadian yang sudah lampau itu. Karena beliau merasa ada yang aneh.
"Sebaiknya kita kembali dulu," ajak Ian ingin mengaburkan pertanyaan mama. "Elio sekarang yang lebih penting, Ma.
"Pak Ian!" panggil dokter. Ian menoleh ke belakang.
"Ada yang belum terisi tentang pengisian form donor darah. Kemana Bapak yang tadi mendonorkan darah?" tanya dokter itu mencari Yuda.
"Dia ada di depan, akan saya panggilkan," kata Ian.
"Terima kasih." Dokter itu tersenyum. Karena terburu-buru, Ian berjalan lebih dulu dari mamanya.
"Ada yang ingin saya tanyakan Dok," ujar mama Ian yang membuat dokter tadi urung pergi.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" tanya Dokter ramah.
"Emm ... " Mama terlihat ragu. Namun rasa ingin tahu mama lebih besar. "Kalau ayah dan ibu bergolongan darah A dan O, umumnya itu nanti anaknya punya golongan darah apa?"
"Biasanya akan lahir anak dengan golongan darah yang sama, yaitu A atau O," jelas dokter itu.
"Apa bukan AB?" selidik Mama.
"Tidak. Kemungkinan itu sangat mustahil," ujar dokter sambil tersenyum. "Kalau anak punya golongan darah AB, kemungkinan besar orangtuanya punya golongan darah A dan B. Atau A dan AB. Bisa juga B dan AB atau sesama darah AB," jelas dokter membuat bola mata mama melebar. "Ada apa Ibu?"
"T-tidak ada Dok. Hanya ... hanya ingin tahu," kata mama seraya tersendat-sendat.
"Dokter ini, Pak Yuda pendonor darah tadi." Ian muncul tepat di saat mereka sudah selesai bicara.
"Oh, ya." Dokter ikut mengangguk sopan pada mama Ian. Lalu dokter itu berganti menoleh pada Yuda dan Ian. "Bapak Yuda bisa ikut saya. Ada yang belum di isi tadi." Dokter membimbing Yuda kembali ke ruangan tadi.
"Apa yang mama tanyakan tadi?" tanya Ian yang merasa ada yang janggal. Mama diam. "Ma?" tegur Ian sambil mengguncang tubuh mamanya pelan.
"Ya?"
__ADS_1
"Mama melamun?" tanya Ian.
"Sekarang mama ingin bertanya padamu. Jawab dengan benar." Perkataan mama membuat Ian was-was. "Siapa sebenarnya Elio itu? Apa benar dia putramu?" tanya mama membuat Ian terkejut setengah mati. Ini kedua kalinya.
Deg, Deg, Deg.
"Apa lagi ini?" Ian ingin mengaburkan lagi pertanyaan mamanya.
"Katakan saja kebenarannya. Kamu tidak bisa lagi mengelak pada mama. Mama ini sudah tanya sama dokter tentang golongan darah kamu dan Mina." Mama sudah bertekad untuk menguak hubungan putranya dengan bocah keriting itu.
Ian diam. Jika mama sudah bertanya pada dokter, apa lagi yang harus ia sembunyikan.
"Katakan pada mama, apa benar Elio itu bukan anak mu?" tanya mama Ian lagi.
Mama sudah tahu, batin Ian.
"Bicaralah Ian. Mama juga harus tahu kebenarannya kan?" tegur mama begitu menggebu. Ya, beliau layak mempertanyakan itu semua.
"Sudahlah Ma. Jangan membahas soal ini. Sekarang Elio masih dalam keadaan kritis." Ian memohon.
__ADS_1
Saat itu, Luna datang karena mama dan Ian tidak kunjung muncul. Dia tidak sengaja mendengar pertanyaan mama.
..._______...