Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 61


__ADS_3

"Jadi ... kamu tidak setuju karena dulu aku mencintai Mina?"


"Pak Ian, tolong duduk kembali. Bagaimana jika ada yang datang saat Bapak sedang seperti ini?" nasehat Luna geram. Namun Ian tetap memaksa tubuhnya mendekat pada Luna dan mengecup pipi gadis ini. "Pak Ian ..." Luna panik. Karena ini kan di rumah sakit.


"Hmmm ... Kamu cemburu ya pada istriku?" tanya Ian. Luna menggelengkan kepala. "Luna ... " Ian kembali pada posisi awal seraya menyentuh tangan Luna. "Mina itu istriku. Dulu pasti aku sangat mencintainya. Bagaimanapun kisah Mina dan Yuda, aku tidak memungkiri kalau aku mencintainya."


Luna mendengarkan dengan baik sambil menatap lurus pria ini.


"Kisah itu tentu tidak bisa aku anggap tidak pernah ada. Namun ... sekarang ini tentu hatiku untuk kamu. Aku mencintaimu. Bukan lagi mencintai Mina. Dia tetap di hatiku, tapi kamulah yang akan jadi prioritas ku sekarang."


"Aku akan berusaha mengerti itu, Pak. Aku tidak seharusnya kesal karena istri Anda yang sudah meninggal. Jadi maaf," kata Luna merasa tidak pantas cemburu pada orang yang sudah mati.


"Iya, aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku juga berkali-kali mengatakan mencintai istriku padahal ada calon istri baruku di sini," ujar Ian sambil menggoda Luna. Gadis ini mencebik manja.


***


Pagi hari.


Luna masih berada di rumah sakit. Dia sudah bilang pada Pak Ian kalau dia sudah tidak apa-apa. Namun pria itu tetap memaksanya tinggal di rumah sakit.


Bi Muti yang pertama kali di beri kabar ini. Karena semalaman Luna tidak pulang. Wanita paruh baya itu pasti cemas menunggu ia pulang. Apalagi Luna tidak memberi kabar apapun pada beliau.


Dengan di jemput oleh Danar, Bi Muti muncul di ruang rawat inap.


"Luna ...," ujar Bibi seraya mendekat dengan tergesa-gesa pada ranjang.


"Bi Muti ..." Luna yang duduk sambil bersandar menyambut perempuan ini dengan haru. Mereka pun berpelukan.


"Kamu ini ... bisa-bisanya enggak Jaish kabar ke bibi. Kemana saja semalaman?" tanya Bi Muti seraya memukul lengan Luna pelan tapi geram. Luna meringis.


"Iya maaf."


"Maaf, maaf. Apa kamu enggak tahu bibi ini cemas sekali ... Dasar anak nakal." Bi Muti memijit pundak Luna dengan gemas.


"Aw! Bi ...," rengek Luna. Pak Ian yang melihat itu akhirnya bergerak. Bermaksud melindungi Luna. Bi Muti tahu itu.


"Dia tidak akan kesakitan Pak Ian. Anak nakal itu harus di cubit." Bi Muti masih geram.

__ADS_1


"Maafkan saya, Bi. Saya tidak bisa secepatnya memberi kabar pada Bibi." Ian langsung menjadi tameng bagi Luna.


"Dia berangkat enggak sama Pak Ian, jadi saya tidak bisa menyalahkan Pak Ian. Bahkan saya harus berterima kasih pada Bapak karena dia tetap bisa hidup," kata Bi Muti.


"Ih Bibi. Tentu saja aku masih hidup. Memangnya aku mau ngapain ...," protes Luna.


"Kamu diam," tunjuk Bibi. Luna menutup mulutnya dengan cepat mendengar itu.


"Mungkin Luna tidak apa-apa. namun saya yang memintanya untuk tetap berada di rumah sakit."


"Sebenarnya ada apa ini Pak Ian? Bukannya Luna pamit berangkat ke pesta perusahaan? Lalu kenapa sekarang dia berada di rumah sakit?" tanya Bi Muti tidak mengerti.


Luna melirik Pak Ian. Pria diam sejenak. Mungkin mencoba mencari alasan yang tepat. Karena tidak mungkin mengatakan kalau Luna hampir saja celaka karena melakukan sandiwara membahayakan. Pak Ian juga akan dinyatakan bersalah.


"Luna jatuh dari terpeleset di lantai pesta. Jadi saya membawanya ke rumah sakit," jelas Ian yang tentunya hasil mengarang. Bukan mengatakan cerita aslinya.


"Oh gitu ..."


"Ya. Begitu Bi." Luna meyakinkan. Kepalanya pun ikut manggut-manggut.


"Hanya jatuh terpeleset, seharusnya enggak perlu ke rumah sakit, Pak Ian," kata Bi Muti geli. "Seperti berlebihan." Bi Muti jadi malu sendiri.


Bi Muti melirik gadis ini. Luna melebarkan bibir membentuk senyuman.


"Lagipula, Luna ini kan calon istri saya," kata Ian.


"Hah?" Mendengar itu Bu Muti spontan terkejut. "A-apa kata Pak Ian?" Bi Muti kurang yakin dengan indera pendengarannya. Jadi beliau menanyakan lagi apa yang di bicarakan pria tampan ini tadi.


"Ya. Luna ini adalah calon istri saya."


"I-istri?" tanya Bi Muti seraya menoleh pada Luna dengan mata melebar. Luna menggaruk pelipisnya tersipu saat mendengar perbincangan dua orang ini.


"Benar. Kita akan menikah kalau tidak ada halangan, Bi." Ian mengusap kepala Luna dengan sayang. Bi Muti masih melihat mereka dengan tidak percaya. "Bibi pasti terkejut."


"Oh, iya. Maafkan saya." Bi Muti menyadari ekspresi wajahnya. lalu tersenyum pada akhirnya.


**

__ADS_1


Jika tadi Bi Muti yang menjenguk ke rumah sakit, kali ini si Karin yang muncul. Pak Ian masih ada keperluan. Jadi di dalam ruangan hanya ada dia dan Luna. Danar pun berjaga di luar.


"Aduh Luna ..." Gadis itu memeluk sahabatnya dengan erat. Lalu Karin melepas pelukannya dan menggenggam tangan Luna. "Aku cemas setengah mati tahu saat lihat kamu, Pak Ian, dan Danar enggak ada di kantor."


"Aku enggak apa-apa, kok."


"Kenapa bisa di rumah sakit kalau enggak apa-apa?" tanya Karin sambil melihat keadaan Luna secara seksama.


Luna menahan tangan Karin untuk memeriksa tubuhnya. "Sudaahhh ... Jangan di periksa. Aku beneran enggak apa-apa. Mungkin capek dan tegang karena bersandiwara."


"Benarkah?"


"Iya, benar. Serius." Luna melebarkan mata meyakinkan sahabatnya. "Ini hanya ide Pak Ian aja."


"Terus Yuda?"


"Hhh ..." Luna menghela napas berat. Karin memperhatikan.


"Seperti ada masalah berat soal Yuda ya ... Apa yang di lakukan Pak Ian?"


"Pak Ian tidak melakukan apa-apa. hanya saja ... Ada suatu cerita yang begitu membuat Yuda tidak bisa apa-apa. Dia bungkam."


"Pak Ian lapor polisi soal rencana jahat Yuda dan model itu?" tebak Karin.


"Memang melapor. Hanya saja tidak di teruskan karena Pak Ian masih menganggap Yuda itu temannya. Mungkin mereka berteman sudah lama."


"Surat wasiat palsu itu ketemu?"


"Belum."


"Lho, terus kenapa Yuda enggak bisa berkutik?" tanya Karin antusias.


"Ada hal sensitif yang aku rasa belum bisa di bicarakan, Karin," kata Luna dengan wajah memohon untuk Karin tidak menanyakan lebih lanjut.


"Hhh ... oke aku tidak akan bertanya lagi. Yang penting kamu dan Pak Ian aman kan?"


"Masih belum kurang jelas, tapi aku yakin kita pasti aman."

__ADS_1


"Kok masih ragu sih? Yah ... Aku doakan semua cepat selesai masalahnya. Sekarang aku mau tanya soal kamu dan Pak Ian di belakang panggung," kata Karin.


..._____...


__ADS_2