
"Bukannya kamu memang sempurna, Luna," ujar Ian menowel pipi istrinya. Luna menggigit lengan suaminya dengan sayang. "Aww!" Ian pura-pura kesakitan.
"Pa, Oma bilang kapan aku punya adik?" tanya Elio tanpa melihat ke depan. Namun kedua orang dewasa di depannya terkejut bukan main. Sampai Ian oleng sejenak menyetir tadi. Bahkan Luna langsung menoleh cepat ke belakang.
"Adik?" tanya Luna.
"Iya."
"Apa kamu ingin punya adik, Elio?" tanya Ian sambil melihat Elio dari kaca spion di atasnya.
"Entahlah. Aku kan enggak tahu punya adik itu enak atau enggak," kata Elio santai. Dia juga masih melihat
"Jadi kalau enggak enak punya adik, kamu enggak mau nemenin adik kalau nanti ada?" tanya Luna mulai iseng.
"Memangnya papa sama Mama sudah buat adiknya?" tanya Elio membuat Luna mendelik. Ian tergelak.
"Ih. Sudah main game saja sana. Kalau sudah sampai, mama panggil. Aduh, anak jaman sekarang tuh cepat dewasa. Itu menakutkan." Luna ngomel sendiri dengan lirih saat kembali duduk melihat lurus ke depan tanpa menjawab pertanyaan Elio.
Ian tersenyum.
"Kenapa? Karena dia bertanya tentang membuat adik?" tanya Ian malah ingin menggoda.
__ADS_1
Luna melirik. "Jangan bicara soal topik dewasa saat bersama Elio," pesan Luna. Ian langsung menutup mulutnya.
**
Malam hari.
Luna bermain ponsel di atas ranjang. Ia bersandar pada kepala ranjang. Ian muncul dari pintu kamar mandi yang terletak di ujung kamar tidur.
"Mama mau datang besok," kata Ian.
"Benarkah? Kalau begitu, aku mau mengajak jalan-jalan saja," kata Luna riang. Dia tidak lagi takut dan canggung pada ibu mertua.
"Mungkin kalau mama mengajakmu ke toko sayur dan sebagainya itu. Mama paling suka belanja untuk mengisi dapur soalnya," jelas Ian yang mendekat pada istrinya. Mengecup pipi Luna sebentar, kemudian menuju lemari pakaian.
"Ya. Kalau belanja baju, mama kurang tertarik." Ian membuka lemari pakaian.
"Bagus itu. Aku jadi bisa beli banyak makanan juga. Itu lebih asyik daripada beli baju," kata Luna.
"Istriku suka makan banyak rupanya," ledek Ian. Luna tergelak. Ia melirik melihat Ian yang masih sibuk mencari baju. Luna turun dari ranjang.
"Cari baju yang mana? Kelihatan susah sekali," ujar Luna sudah berdiri di dekat suaminya.
__ADS_1
"Kaos yang warna putih ada logonya di dada."
"Kenapa harus itu?" tanya Luna heran.
"Enak aja kalau itu di pakai malam begini," ujar Ian. Bukannya membantu mencarikan, Luna malah memeluk tubuh Ian dari belakang. "Eh, apa ini? Kangen?" tanya Ian.
"Iya."
"Hmmm padahal tadi siang kita makan siang bareng. Malam sudah kangen," ujar Ian seraya menggesekkan kepalanya pada kepala Luna dengan lembut. Ian kembali mencari baju favoritnya itu. "Mana ya ..."
"Sudah. Enggak usah pakai baju aja," kata Luna.
"Enggak usah pakai baju gimana ..." Ian belum sadar apa yang di katakan Luna barusan. Namun saat tangannya menemukan kaos putih favoritnya, ia baru sadar. Kepalanya menoleh pada Luna yang memeluknya dari samping dengan cepat.
"Apa yang kamu bilang barusan?" tanya Ian sambil membawa tubuh Luna untuk berhadapan dengannya.
Luna tersenyum. "Kenapa?" goda Luna jual mahal.
"Ulangi sayang," pinta Ian. Senyum Luna melebar.
"Kamu enggak usah pakai baju saja sekalian enggak apa-apa," ujar Luna panjang.
__ADS_1
...___...