
Mama mertua datang seperti yang sudah di katakan. Karena udara siang hari terlalu panas untuk di buat jalan-jalan, Luna memilih malam saja. Apalagi hari ini weekend, jadi Elio boleh tidur lambat.
Karena memilih jalan-jalan pada malam hari, sekalian menunggu Ian. Akhirnya mereka berempat berangkat bersama.
"Jadi ... Kemana kita?" tanya Ian.
"Ke taman hiburan!!" usul Elio cepat.
"Bolehlah. Eh, kalau mama?" tanya Luna sambil menoleh pada mama di sampingnya. Ia juga perlu tanya pendapat nyonya besar.
"Ya ikut juga. Kalau enggak mau, ya gimana ni anak ..." Beliau pasrah.
"Hihihi ... Yang sabar ya, Ma." Luna menepuk punggung tangan mama dengan bercanda. Beliau tersenyum.
"Baiklah." Ian menjalankan mobilnya menuju taman hiburan. Setelah mencari area parkir, mereka membeli tiket masuk ke taman hiburan.
Dengan bersemangat, Elio menarik-narik tangan Luna. Bocah itu menunjuk area permainan. Ingin Luna menaiki salah satu wahana.
"Boleh, tapi jangan yang menakutkan semacam itu. Mama enggak berani," kata Luna seraya menunjuk roller coaster.
__ADS_1
"Kan Mama sudah besar. Kenapa takut?" tanya Elio.
"Namanya takut ya, takut. Walaupun sudah besar sekalipun kalau naik yang begitu ya takut, El," jelas Luna.
"Oh, gitu."
"Naik yang biasa saja ya ...," rayu Luna.
"Iya, enggak apa-apa."
"Itu, naik itu saja." Luna menunjuk sebuah mobil. Bisa dinaiki dua orang sekaligus.
"Iya, aku mau." Elio setuju.
"Ya. Hati-hati sayang." Ian memberi ijin. "Elio!" teriak Ian ketika bocah itu berlari mendahului Luna. Perempuan ini menoleh.
"Aduh, anak itu ..." Mama langsung berdiri cemas.
"Biar. Enggak apa-apa, Ma. Luna mau cepat kesana ya?" Kali ini Luna meminta ijin pada mertua.
__ADS_1
"Iya. Hati-hati. Awasi itu anak." Mama juga memberi ijin sambil geregetan cemas melihat tingkah cucunya.
Setelah yakin Luna bisa menangkap bocah itu cepat, Mama duduk.
"Aduh, anak mu itu Ian ... Beda sekali dengan kamu yang kecilnya itu tenang. Enggak seperti barusan itu," keluh mama.
"Namanya juga masa pertumbuhan. Lagipula kalau aktif itu malah bagus, Ma," ujar Ian ingin membuat namanya tenang.
"Iya, tapi yang mengasuh itu kan kewalahan. Mama agak sedih kamu mengasuh putramu sendirian." Mama mengutarakan isi hatinya. "Apalagi kamu sepertinya tidak bisa menikah dengan wanita lain. Mama sempat cemas. Bagaimana hidup mu nanti jika tetap sendiri tanpa seorang istri."
"Ya, tapi sebenarnya Ian enggak apa-apa kok Ma."
"Tetap saja mama ini cemas, Ian. Jadi saat melihat Luna muncul di rumah waktu itu, mama lega dan juga khawatir. Apa benar ini perempuan yang tepat untuk kamu? Apalagi sebelumnya mama dengar kamu dekat dengan seorang model." Mama bercerita panjang.
"Kenapa dengan model itu?"
"Mama kurang suka. Entah kenapa. Mama enggan tahu siapa wanita itu sebelum kamu sendiri yang mengenalkan pada mama." Mama masih ingat rasa kurang ingin tahu saat putranya dekat dengan seorang model.
Ian mengangguk. Mungkin rasa enggan mama karena sebuah firasat. Bahwa Naura bukanlah perempuan yang benar-benar mencintainya.
__ADS_1
"Oma! Papa!" teriak Elio dari arena permainan. Elio dan Mama menoleh. Mereka melambaikan tangan pada Elio yang terlihat gembira. Luna ikut melambaikan tangan juga.
...____...