
Bukan Ian tidak tahu. Pesan dari Luna yang sempat tidak sengaja terhapus dari favorit, tenggelam oleh pesan-pesan lainnya. Jadi Ian belum tahu kalau ada pesan dari kekasihnya.
"Mama mengundang Luna ke rumah? Kenapa mama tidak bertanya padaku dulu?" Setelah membaca pesan itu, Ian langsung cemas. Mungkin benar ia sudah meminta mamanya untuk bersikap baik pada Luna, tapi tetap saja saat mama sengaja mengundangnya, dia menjadi cemas.
Ian mencoba menelepon Luna. Namun gadis itu tidak segera menerima teleponnya.
"Namun tidak mungkin kan malam ini Luna ada di rumahku?" pikir Ian. Ia berjalan berputar di dalam kamar hotel. Pak Ian gelisah. "Luna pasti bersedih sekarang ini." Karena Luna tidak bisa di telepon, ia menghubungi mama. Namun sayangnya mama juga tidak bisa di hubungi. Ian makin cemas.
***
Satpam di pos terburu-buru mendekati pintu gerbang rumah keluarga majikannya.
"Pak Ian?" tanya satpam itu terkejut. Karena tidak ada pemberitahuan bahwa Pak Ian akan muncul malam ini dari luar kota. Rupanya Ian langsung melakukan perjalanan pulang dari luar kota.
"Lebih baik kamu tidur di sini saja Danar. Ini jam tiga lebih," kata Ian menyarankan saat melihat arloji di tangannya. "Biar bibi nanti yang menyiapkan tempat tidur untukmu."
"Ya, Pak." Danar terpaksa mengiyakan karena dia juga sangat lelah. Perjalanan pulang ini sangat mendadak. Ini membuatnya lebih lelah daripada biasanya.
Mama yang mendengar deru mobil terbangun. Dengan berbalut jaket rajut panjang, mama keluar kamar dan menuju ruang tamu.
"Siapa malam-malam begini datang ke rumah ini?" tanya mama Ian kesal. "Siapa Bi?" tanya mama pada bibi pengurus rumah yang membuka pintu.
"Anu Bu ..."
"Ini Ian, Ma," jawab Ian menyerobot kalimat bibi.
"Ian?" Mama ikut terkejut dengan kemunculan putranya. Dia langsung mendekat tanpa ragu. "Kamu sudah pulang?"
"Ya Ma. Bibi, siapkan kamar tidur untuk Danar ya. Dia pasti lelah menyetir perjalanan jauh," perintah Ian.
"Baik Pak."
"Ikut dengan bibi, Danar," kata Ian. Danar hanya menganggukkan kepala. Dia terlalu lelah untuk menjawab.
"Kenapa tiba-tiba pulang sekarang Ian?" tanya mama heran.
"Ada hal penting yang ingin Ian tanyakan pada mama," kata Ian tanpa basa-basi.
"Hal penting? Apa itu?" tanya mama makin heran. "Ah ... Sebaiknya kamu tidur dulu. Kamu pasti lelah." Mama memilih menyarankan Ian untuk istirahat.
"Tidak Ma," tolak Ian mengejutkan. "Aku ingin mama menjawab pertanyaan Ian." Pria ini bersikeras untuk bertanya daripada istirahat. Rasa lelahnya tenggelam karena ia cemas pada Luna.
"Sepertinya itu hal yang sangat penting sampai kamu mengabaikan rasa lelah mu. Baiklah. Mama akan menjawab pertanyaan mu. Namun sebaiknya ijinkan mama duduk dulu."
__ADS_1
"Ya, sebaiknya kita bicara sambil duduk." Ian setuju. Mama Ian menghempaskan pantatnya di atas sofa. Ian pun mengikutinya.
"Katakan. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Mama siap menjawab pertanyaan putranya. Tangannya di lipat sambil merapatkan jaket rajut di tubuh beliau.
"Kenapa Mama mengundang Luna ke rumah ini tanpa bicara padaku?" tegur Ian langsung. Mama melongo sejenak. Lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Mama pikir soal apa. Ternyata hal penting yang membuat mu sampai harus terburu-buru pulang dan ingin tahu itu, soal Luna. Gadis itu sudah mempengaruhi mu seperti ini ya? Apa saja yang dia katakan soal mama? Katakan pada mama. Apa yang dia adukan padamu?" tanya Beliau.
"Luna tidak mengadu. Dia hanya memberitahu kalau dia di undang oleh mama ke rumah ini."
"Lalu? Kamu mau tanya apa kalau dia tidak mengadu apa-apa?"
"Ian hanya ingin tahu kenapa mama mengundang Luna ke rumah ini tanpa memberitahu Ian. Bukankah Ian tidak ada di rumah?"
"Jadi mama harus mengundang kekasihmu itu kalau di rumah ada kamu? Begitu?" ulang mama lebih jelas.
"Luna kan baru pertama kali bertemu dengan mama. Jadi Ian rasa, lebih baik kalau kita bertemu bertiga saja daripada Luna harus menemui mama sendiri," kata Ian memberi penjelasan.
"Kamu bilang mama harus bisa dekat dengan Luna. Bukankah mengundang Luna itu hal yang tepat?"
"Tapi kan mama ..."
"Kamu takut mama bicara macam-macam dan menyakiti Luna ya?" tebak mama yang tahu apa yang ada di pikiran putranya. Ian menghela napas. "Ternyata putraku sekarang tidak percaya pada mama."
"Bukan begitu Ma ..."
"Sudah Ian bilang, bukan seperti itu, Ma."
"Kamu bilang pada mama kalau dia itu kekasihmu dan juga calon istrimu. Bukankah mama harus dekat dengannya terlebih dahulu?"
"Ya, Luna memang calon istriku. Tunggu, mama mengakui kalau dia jadi istriku?" tanya Ian terkejut.
"Bukankah seharusnya begitu?" Mama justru balik tanya. Kali ini dengan wajah ramah.
"Jadi mama setuju kalau Ian akan menikah dengan Luna?" tanya Ian menggebu.
"Apa kamu ingin mengenalkan calon istri yang lain?"
"Tidak. Pilihan Ian tetap Luna. Aku hanya ingin menikah dengan Luna." Ian mengeluarkan pernyataan tegas.
"Ya sudah."
"Lalu tadi mama mengundang Luna kenapa? Mama menginterogasinya?"
__ADS_1
"Ya. Mama ingin tahu banyak hal."
"Mama!" tegur Ian.
"Ssstt ... Kamu ingin putramu terbangun, Ian?" tegur mama.
"Mama tidak bertanya macam-macam kan?"
"Kamu ini ..." Mama geregetan. "Ayo ikut mama." Mama berdiri.
"Kemana?"
"Kamu ingin tahu apa tidak?"
"Apa, Ma?"
"Ayo, ikut saja." Mama menyeret putranya untuk ikut dengannya.
"Sebenarnya kita mau kemana?"
"Apa kamu tidak rindu pada putramu?"
"Oh, Elio? Ya, Ian rindu. Jadi kita mau ke kamar Elio?" tanya Ian yang mulai paham kemana tujuan mereka.
"Ya," sahut mama.
"Kalau hanya mau menemui Elio, aku tidak perlu datang bersama mama. Apalagi sampai harus di seret seperti ini." Bola mata Ian menunjuk pada lengannya yang di tarik oleh mamanya. Mama melepaskan tangan putranya.
"Selain Elio, apa tidak ada lagi yang membuat kamu rindu?" tanya mama yang berjalan di samping Ian.
"Tentu saja ada. Ian rindu pada mama." Ian memeluk mamanya dari samping.
"Oh, ya? Rindu macam apa yang jam tiga dini hari langsung menginterogasi?" sindir mama Ian telak. Ian tersenyum mengerti.
"Iya, maafkan Ian. Soalnya Ian cemas."
"Cemas pada mama? Mama rasa bukan," tandas mama. Ian menggaruk tengkuknya sambil tersenyum tipis. Dia memang sedang mencemaskan gadis itu, bukan mamanya.
"Kenapa diam? Kamu mengaku bukan sedang mencemaskan mama?"
"Mamaku nomor satu kok," rayu Ian. Mereka berdua sampai di depan pintu kamar Elio. Perlahan mama membuka kenop dan mendorong pintu.
"Mendekatlah," pinta mama.
__ADS_1
Ian berjalan mendekat ke ranjang. "Luna?"
...____...