
Satu bulan setelah kecelakaan.
Di teras belakang rumah Ian. Sebuah bola menggelinding ke arah kursi teras. Bola itu mengenai ujung kaki Oma yang duduk bersantai sambil baca buku memasak.
"Oma! Lemparkan bolanya dong!" teriak Bocah keriting itu. Oma mendongak. Luna yang menemani Elio bermain ikut memberi kode untuk me meminta tolong pada beliau.
"Iya." Tangan mama Ian mengambil bola dan melemparkan bola itu pada mereka.
"Terima kasih Oma!" kata mereka berdua hampir bersamaan. Setelah bola itu sudah ada di dekat mereka, permainan kembali di mulai. Beliau tersenyum.
Meskipun ada sesak di dada ketika mengetahui bahwa bocah itu bukan putra kandung Ian, tapi hati nurani mama Ian masih terbuka. Beliau merasa iba juga pada bocah itu tatkala dirinya marah dan mengusirnya. Bocah itu tidak tahu apa-apa untuk di salahkan dan si benci.
"Luna! Elio!" teriak Ian dari dalam rumah. Mama menoleh.
"Mereka di sini!" sahut mama memberitahu tempat mereka berada. Rupanya pria itu sudah pulang kerja. "Kok sudah pulang?" tanya mama heran.
"Iya. Ada undangan pernikahan nanti malam. Jadi aku ingin istirahat dulu siang ini si rumah."
"Lalu bagaimana pekerjaan mu?"
__ADS_1
"Hal penting sudah selesai. Di tinggal juga enggak apa-apa."
Saat itu Luna menoleh ke arah mama.
"Hei, ada papa mu." Luna memberitahu Elio kalau papanya sudah pulang.
"Kok sudah pulang, Ma?"
"Mama tidak tahu." Luna menggelengkan kepalanya.
"Papa!!" sapa sambil melambaikan tangan. Ian tersenyum sambil membalas lambaian tangan Elio. Pria ini mendekat.
"Emmm ..."
"Nanti papa belikan mainan yang Elio mau,* bujuk Ian.
"Tidak. Tidak boleh beli mainan. Kalau memang mau belikan sesuatu, beli makanan saja. Jangan mainan," sergah Luna.
"Ya, sudah. Papa belikan makanan yang Elio suka."
__ADS_1
"Jalan-jalan sama satu keluarga saja ya, Pa," kata Elio memamerkan senyum. "Jadi aku bisa main sama Oma dan mama."
"Oke, oke. Papa bawa mama dulu ya?" Ian berpamitan. Lalu ia menarik tangan istrinya untuk ikut dengannya. "Ma, temani Elio ya. Aku mau makan siang," kata Ian.
"Ma, aku masuk dulu ya," kata Luna seraya tersenyum. Mama yang agak terkejut dengan sikap Ian mengangguk saja. Beliau heran.
"Memangnya lapar banget ya, sampai terburu-buru begitu?" tanya Luna yang merasa pria ini begitu tergesa-gesa. Ian tersenyum.
"Iya. Aku sangat lapar," kata Ian. Namun apa yang di bicarakan tidak sama dengan apa yang di lakukan. Ian tidak membawa istrinya menuju ke arah dapur seperti yang di katakannya tadi. Dia lapar. Bukankah seharusnya mereka ke dapur?
"Eh, dapurnya kan di sana," tunjuk Luna pada pintu dapur ketika kaki mereka justru melangkah ke arah lain.
"Iya, tapi aku mau mandi dulu," kata Ian. "Tubuhku lengket, jadi kalau langsung makan itu tidak nyaman."
Luna mengangguk mengerti. Namun ternyata Ian bukan hanya ingin mandi. Saat masuk ke dalam kamar, ia langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Eh, kenapa nih?" tanya Luna yang sedang mencari kaos untuk Ian. Ia merasa pelukan pria ini begitu erat. Kepala mereka beradu lembut.
"Aku ingin cepat pulang karena rindu pada istriku," ujar Ian lembut. Luna tergelak mendengar itu.
__ADS_1
...___...