Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 54


__ADS_3

Mereka berangkat menuju tempat tinggal Yuda. Mereka hendak melakukan penggeledahan di rumah pria ini. Rencana yang sudah di siapkan harus di jalankan.


Di dalam perjalanan, Luna memberi kabar pada Ian kalau dia sedang mengantar Yuda dengan Danar. Luna mengirimkan pesan. Namun tidak ada tanggapan dari pria itu.


Kenapa Pak Ian tidak membalas pesanku? tanya Luna di dalam hati.


"Kita sudah sampai di apartemen Yuda," kata Danar yang duduk di bangku kemudi.


Luna yang tengah menunduk melihat layar ponsel mendongak. "Oh, iya," sahut Luna. Ia langsung memasukkan ponsel ke dalam tas pesta miliknya. Mencoba mengabaikan Pak Ian yang belum memberinya balasan.


Danar keluar lebih dulu untuk membantu Luna. Gadis ini kesusahan harus mengeluarkan Yuda yang bertubuh tinggi dari mobil. Meskipun sebenarnya Yuda masih bisa berjalan meski agak sempoyongan, Danar tetap harus memapah pria itu.


Setelah bersusah payah membimbing pria itu naik ke lantai apartemen miliknya, akhirnya mereka sampai juga di depan pintu.


"Kamu tahu password apartemennya?" tanya Luna pada Danar.


"Tidak. Cari saja di saku celana. Pasti ada kunci, atau kartu yang bisa buka pintu ini," usul Danar tetap tenang.


"Saku celana?" Bola mata Luna melebar. "Kamu aja gih yang nyari. Masa kamu nyuruh aku mau meraba-raba dia?" tunjuk Luna pada Yuda sambil meringis ke Danar.


"Hhh ... Baiklah. Gantikan aku jadi sandarannya saat aku mencari kunci. Aku yang akan cari." Danar pasrah.


"Eh, berat nih orang." Luna meringis berjuang menahan tubuh Yuda agar tidak ambruk.


"Kalau di suruh meraba-raba pak Ian pasti mau," cela Danar spontan.


"Hei." Duk! Sikut Luna menyodok Danar dengan gemas. Meskipun menahan tubuh Yuda berat, dia memaksa untuk menyodok Danar. "Jangan sembarangan." Bola mata Luna melotot. Danar mendengus. "Shhh ..." Luna mendesis geram.


"Hmm." Yuda merespon saat Danar hendak mencari kunci di saku celana Yuda.


"Eh, kamu bangun?" tanya Luna terkejut. Dia pikir pria ini total tidak sadar.


"Kunci," kata Yuda. Tangan pria berusaha mencari kunci di saku celana dengan sempoyongan.


"Sini, Danar mau bantuin kamu Yud." Luna menahan tubuh Yuda yang hampir saja limbung.

__ADS_1


"A ... ku, bi ... sa," kata Yuda masih dengan suara yang di seret. Luna langsung mengambil kunci di tangan Yuda dan membuka pintu. Sempat bingung sebentar saat mencari kamar. Namun tidak lama akhirnya ketemu juga.


Bruk!


Setelah berjalan dari pintu dengan lambat, akhirnya mereka bisa merebahkan tubuh Yuda di atas ranjangnya.


"Hhh ... capeknya. Gila. Tanganku pegel nih," keluh Luna. Danar menipiskan bibir. Luna melihat pria ini masih memejamkan matanya. Lalu mereka keluar kamar bersamaan.


"Aduh. Aku keluar dulu," kata Danar ingat sesuatu.


"Kemana?" tanya Luna mencegah langkah Danar.


"Ponselku ketinggalan. Aku tidak bisa berkomunikasi dengan Pak Ian jika enggak ada handphone," sahut Danar.


"Pakai punyaku." Luna menunjukkan handphonenya. Tut! Nada baterai lemah berbunyi. Luna langsung menarik lagi ponsel itu. "Waduhh ... baterai ku mau habis. Aku enggak bawa charger nih." Luna langsung panik.


"Di mobil ada. Sekalian ambil handphone ku," kata Danar.


"Baiklah. Cepat kembali. Kita harus segera mencari surat wasiat itu sebelum Yuda benar-benar sadar dari mabuk," ujar Luna mengingatkan. Mereka hendak membuktikan wasiat itu palsu atau tidak.


Luna mendekat dengan antusias. Mencoba membuka pintu dengan perlahan-lahan. Pintu tidak di kunci ternyata. Ia pun dengan leluasa masuk ke dalam ruangan.


Rupanya ini ruang baca milik Yuda. Luna mengekspresikan wajah senang dengan tanpa suara. Karena akhirnya dia bisa menggeledah di tempat ini dengan bebas.


Yang ia tuju pertama kali adalah rak buku. Karena suka baca atau bagaimana, Luna selalu ingin mendekati rak buku. Melihat banyak buku berjejer membuat ia ingin tahu apa saja yang di baca seseorang. Dari sana bisa tahu apa karakter orang yang membacanya.


Namun sebelum ia sempat menyentuh salah satu buku, bola matanya tertambat pada sebuah pigura. Di sana ada sebuah foto. Tampak Yuda dengan seorang perempuan. Pastinya Luna tidak mengenal sama sekali siapa wanita itu. Karena dia hanya mengenal Yuda.


Bola mata Luna menyipit saat meneliti lagi wajah perempuan itu. Ia merasa tidak asing.


Oh, dia mirip ... Elio! Luna memperhatikan lagi wajah perempuan di foto itu. Ia membayangkan wajah Elio. Mencoba dibandingkan dengan wajah perempuan di dalam foto. Benar. Wanita ini mirip Elio.


"Apakah ini istri Pak Ian?" gumam Luna tanpa sadar.


"Ya, dia memang istri Ian." Sebuah suara berat terdengar di belakang punggung Luna. Ini membuat Luna berjingkat kaget. Hampir saja pigura yang ia pegang lolos dari tangannya dan jatuh berkeping-keping ke lantai.

__ADS_1


Degup jantung Luna berganti cepat. Mendadak ia gemetar. Itu siapa? Luna menelan ludah. Meskipun sudah tahu itu bukan suara Danar, tapi Luna masih ingin melihat sendiri suara itu milik siapa. Ia membalikkan tubuhnya dengan lambat.


"Y-yuda?" Luna tetap terkejut saat melihat Yuda berdiri di dekat pintu.


Pria ini mengangkat bahunya. "Dugaan mu tidak salah. Itu istri Ian yang sudah meninggal." Yuda mengomentari foto yang di pegang Luna. Lalu mendekat ke tempat Luna berdiri. "Kenapa ke ruangan ini?"


"Pintu ini terbuka."


"Oh, ya? Seingatku, aku menutup pintu ini dengan baik."


"Kamu pasti lupa. Karena yang aku lihat pintunya terbuka," ujar Luna masih mencaiba menyangkal.


"Begitu?" Yuda tampak masih tidak percaya.


"Tentu," sahut Luna meyakinkan.


"Atau kamu sedang mencari sesuatu?" tanya Yuda. Ekspresi wajah pria ini tenang. Namun sangat berbeda dengan Luna yang panik.


"Emm ... tidak. Aku hanya ... kesasar. Dan kulihat ... ada banyak buku. Jadi aku tertarik untuk mendekat." Luna memberi alasan dengan gugup.


"Tapi itu apa? Kamu bukan memegang buku. Itu foto aku dan istri Ian." Yuda menunjuk tangan Luna.


Oh, tidak.


"Aku hanya sekedar melihat saja." Luna kehabisan alasan.


"Oh begitu." Yuda mengangguk. Luna bisa merasa lega sedikit karena akhirnya pria ini mulai percaya padanya.


"Bagaimana dengan keadaanmu? Bukannya tadi agak teler karena alkohol?" tanya Luna yang langsung tanggap untuk membicarakan hal lain.


"Ah, iya. Aku masih sedikit pusing kepala. Namun aku baik-baik saja," jawab Yuda dengan menggerakkan bahunya.


"Syukurlah. Lebih baik kamu tidur untuk istirahat. Jadi rasa mabuk mu berkurang." Luna sok tahu soal ini. Luna berjalan mendekat. Ia ingin keluar dari ruangan ini. Segera!


..._____...

__ADS_1



__ADS_2