Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 113


__ADS_3

Bahkan kebiasaan ini juga di terapkan di kantor. Ian tidak bisa makan di sembarang tempat karena hidungnya sensitif. Seringkali ia membawa bekal yang di siapkan istrinya untuk makan siang di dalam ruangan.


Danar sempat bingung karena tidak mengerti. Staf yang sudah menikah pun memberi penjelasan bahwa itu bisa jadi karena istrinya mengandung. Akhirnya Danar pun paham.


Deru mobil Ian terdengar dari ruang tengah. Luna yang sedang nonton tv bersama mama menoleh ke pintu.


"Ian datang," kata mama.


"Iya," jawab Luna dengan gembira. Tubuh perempuan ini bangkit dari duduknya untuk menyambut suaminya.


"Jangan lari, Luna. Bahaya," tegur mama. Luna pun urung membuat kuda-kuda. Padahal tadi dia bukan ingin berlari. Hanya ingin melangkah dengan cepat saja. Namun mama sudah menegurnya terlebih dahulu. Itu karena mama tahu betapa aktifnya menantunya ini.


"Iya, Ma." Luna pun berusaha memelankan kakinya untuk menuju ke pintu depan. Melihat ada Luna, bibi urung membuka pintu. "Biar aku saja, Bi," kata Luna. Bibi mengangguk dan menjauh dari sana.


Luna ingin menyambut suami tercintanya itu.


Tangannya membuka pintu dan tersenyum ketika melihat Ian berjalan mendekat ke pintu.


"Selamat datang sayang ...," sapa Luna dengan senyum paling cantik sedunia.

__ADS_1


"Ya." Ian tersenyum juga. "Jangan. Jangan peluk," cegah Ian tatkala Luna siap untuk memeluknya.


"Kenapa?" tanya Luna manyun.


"Aku gerah. Badanku lengket," jelas Ian.


"Enggak apa-apa. Aku tetap suka bau suamiku kok," ujar Luna dengan wajah menggoda.


"Hhh ..." Ian menghela napas sambil tersenyum geli. "Baiklah. Baik. Ayo sini aku peluk." Ian pun melebarkan lengannya. Dia siap menyambut pelukan istrinya.


Dengan gembira, Luna menghambur pada pelukan Ian. Pria ini pun memeluk istrinya dengan sayang.


"Sudah. Pelukannya nanti lagi. Aku mau mandi," kata Ian melepas pelukan.


"Iya."


"Aku antar ke kamar ya?"


"Boleh, tapi minta bantuan bibi atau mama untuk bawa nampan. Jangan bawa sendiri," pesan Ian. "Ini perintah." Ian menekankan.

__ADS_1


"Oke Pak Bos ku tercinta," sahut Luna jenaka. Ian tersenyum.


**


Dengan bantuan Bibi, Luna membawa nampan ke kamar mereka. Sebenarnya Luna bisa dengan mudah membawa nampan, tapi karena dia harus patuh pada perintah suami, terpaksa bibi yang membawakan nampan hingga depan pintu. Setelah itu, Luna sendiri yang membawa.


"Makasih ya, Bi," kata Luna ramah. Bibi kembali ke belakang setelah membuka kan pintu untuk Luna. "Makanan sudah siap," kata Luna.


Ian yang baru saja selesai mandi melongok. "Ya, sayang terima kasih."


Luna meletakkan nampan di atas meja.


"Minta bantuan bibi kan?" selidik Ian.


"Iya, sayangku ..." Luna mencubit gemas perut Ian yang telanjang. Saat ini Ian memang belum memakai baju. Dia hanya melilitkan handuk pada pinggangnya. "Mmm ... harum." Tiba-tiba saja Luna mengendus kulit dada Ian. Ini sempat membuat pria ini terperanjat kaget.


"Mesum," bisik Ian membalas kata-kata Luna waktu di mobil. Luna tergelak. Perempuan ini malah mendekatkan wajahnya pada dada Ian.


"Biarin." Luna memeluk Ian. Aroma wangi sabun begitu segar dan menyenangkan. Ian tertawa melihat tingkah istrinya. Lalu ia mengelus dan mengecup pucuk kepala Luna.

__ADS_1


"Kalau begini, aku bisa jadi harus mandi dan keramas lagi nih," kata Ian dengan sorot mata yang sudah bisa di duga Luna. Sorot mata ingin menyatu! Namun itu karena salah dia sendiri.


...___...


__ADS_2