
Elio segera di larikan ke rumah sakit. Suasana menyenangkan tadi berubah menjadi dingin dan mencekam.
Karena kecelakaan murni karena ulah bocah itu yang berlari ke depan mobil tiba-tiba, Ian melepaskan pengemudi yang menabrak tadi. Meskipun pengemudi itu bersedia menanggung biaya, tapi Ian menolak. Dia paham semua hanya ketidaksengajaan.
Di rumah sakit, Luna mencoba menenangkan mamanya yang menangis terus sejak tadi. Padahal ia sendiri juga tengah terguncang. Namun Luna mencoba menjadi sandaran mama.
Tangannya sesekali mengusap air mata yang menggenang di ujung mata. Ia mencoba tenang sebisa mungkin.
"Bagaimana ini Ian?" tanya mama pucat pada Ian yang sejak tadi tidak bisa duduk dengan tenang.
"Kita tunggu kabar dari dokter, Ma."
Mereka bertiga menunggu dokter keluar dari ruang ICU untuk mendengar bagaimana kondisi Elio.
Tidak lama, pintu terbuka. Muncul dokter dari dalam. Ian langsung mendekat ke dokter. Mama ikut berdiri. Beliau juga ingin tahu kabar cucunya. Namun Luna menahan.
"Biar Ian yang bertanya, Ma," kata Luna. Mama patuh dan mengikuti nasehat menantunya dengan hanya berdiri di dekat tempat duduknya tadi.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi putraku, Dokter?" tanya Ian.
"Kondisi putra Anda kritis, Pak. Dia membutuhkan darah," kata dokter. Mama menutup mulutnya mendengar kondisi cucunya. Sementara itu Luna melebarkan mata mendengarnya. "Sementara ini bank darah yang di butuhkan putra Anda tidak ada. Jadi siapa yang bisa mendonorkan darah?"
"Saya siap, Dokter." Ian mengajukan diri.
"Baik. Golongan darah Anda, AB?" tanya dokter. Ian terdiam.
"AB? Aduh mama O, ini ...," keluh mama sedih.
"Aku juga O," kata Luna. Ian masih diam. Sesaat Luna tersadar bahwa ada sesuatu yang begitu sensitif di sini. Luna melihat Ian yang ternyata sudah melihatnya sejak tadi. Perempuan ini melebarkan mata dan menutup mulutnya terkejut.
"Ya. Golongan darah saya O," ujar Ian dengan berat hati.
"Jadi tidak ada yang punya golongan darah yang sama ya ..." Dokter bergumam cemas.
Luna yang ada di samping mama ikut cemas. Ia masih melihat Ian. Luna tahu pria itu sedang panik sekarang. Mereka berdua sadar kenapa tidak ada sama sekali yang punya golongan darah yang sama dengan bocah itu.
__ADS_1
"Apa golongan darah yang di butuhkan?" tanya Yuda yang muncul dengan Danar dari belakang mereka. Semua menoleh pada pria itu.
"Oh, Yuda. Cucuku sedang masa kritis." Mama yang juga mengenal Yuda sebagai pengacara Ian mengadu. Tanpa tahu kebenaran apa yang ada di balik kisah Yuda dan Mina, mama meminta bantuannya. "Jika punya golongan darah yang sama dengan Elio, tolong bantulah."
"Pasti, Bu. Saya pasti membantu cucu Anda," ujar Yuda. Luna dan Ian terdiam mendengar percakapan singkat mama dan Yuda barusan.
"Dia keluarga Anda?" tanya dokter.
"Bukan, tapi saya bersedia mendonorkan darah jika si butuhkan," ucap Yuda.
"Pasien membutuhkan golongan darah AB, Pak," ujar Dokter.
"Ya. Golongan darah saya AB. Anda bisa mengambil darah saya." Yuda mengatakannya dengan yakin.
"Bagus. Segera ikut saya untuk mengikuti prosedur donor darah." Dokter begitu senang mendapatkan darah yang cocok dengan cepat. "Pak Ian juga bisa ikut kita."
Mereka pun ikut dengan dokter. Semua menatap punggung pria itu hingga hilang di belokan menuju tempat pengambilan darah.
__ADS_1
...______...