
Ian menelepon Danar untuk meneruskan urusan di kepolisian yang berkaitan dengan kecelakaan ini. Meskipun kasus ini tidak berbuntut panjang, mereka tetap harus mengisi beberapa laporan.
Danar tidak berangkat sendiri. Dia di temani Yuda sebagai pengacara Ian yang sudah ia hubungi terlebih dahulu. Setelah itu, mereka datang ke rumah sakit bersama-sama.
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Jika mama hanya mencemaskan keadaan Elio cucunya, Luna dan Ian berbeda. Mereka bukan hanya mencemaskan kondisi kritis Elio, dua orang ini tengah mencemaskan hal lain. Yaitu soal status Elio yang sebenarnya.
"Kenapa tidak ada yang punya darah sama dengan Elio ya?" tanya mama yang akhirnya membahas soal itu. Beliau terheran-heran.
Luna tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis.
"Bukankah seharusnya Ian punya golongan darah sama dengan Elio?" tanya mama lagi.
Luna tetap tidak menjawab. Dadanya berdegup kencang karena panik mendapat pertanyaan itu dari mertua.
"Atau Elio punya darah yang sama dengan mama kandungnya?" tanya mama yang jadi penasaran dengan itu.
"Mungkin saja," sahut Luna mendapat celah untuk bisa menjawab.
"Pasti begitu. Karena aneh jika bocah itu tidak punya darah yang sama dengan papanya, tapi justru sama dengan Yuda yang aslinya adalah orang lain." Mama meyakinkan dirinya sendiri. Luna lega.
__ADS_1
"Namun tetap saja aneh. Bagaimana bisa Yuda justru berdarah sama dengan Elio."
Mama terus saja membahas soal ini, membuat Luna makin tidak tenang. Dia juga tidak sabar menunggu Ian muncul. Karena ia tidak bisa terus diam.
"Mama ingin menyusul Ian untuk bertanya," kata mama.
"Kita harus menunggu Elio di sini, Ma," cegah Luna. "Kasihan Elio jika di tinggal di ruangan ICU sendirian." Luna menunjuk ruang ICU dengan sedikit gugup. Ia panik setengah mati.
Danar yang tidak tahu apa-apa hanya melihat saja sambil menyiapkan diri jika di butuhkan.
Mama menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada pintu ruang ICU. Beliau sedang dilema. Ingin mencari tahu kebenaran dari rasa penasarannya, juga merasa iba jika meninggalkan bocah keriting Elio.
"Kamu tetap di sini, lalu mama akan menyusul Ian," ujar mama membuat Luna tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak tega jika meninggalkan Elio yang sedang berada di ruang ICU sendirian. Jadi dia membiarkan mama berjalan menuju lorong di mana mereka lenyap tadi.
Ruang persiapan donor darah.
"Sila Kedatangan mereka langsung di sambut oleh mama di lorong.
"Ian," panggil mama.
__ADS_1
"Mama?" Ian terkejut. "Mana Luna? Kenapa mama muncul di sini sendirian?" tanya Ian sambil mencari-cari istrinya di belakang punggung ibunya.
"Tidak. Mama kesini sendiri."
"Sendiri? Kenapa?" tanya Ian heran. "Ayo kita kembali ke Luna."
"Tunggu. Mama ingin bertanya satu hal." Mama menahan dorongan lembut tangan Ian pada punggungnya. Ian berhenti dan menatap mamanya.
"Kenapa harus bertanya di sini? Elio sedang dalam keadaan kritis Ma." Ian ingin mamanya mengerti.
"Aku akan menunggu di depan pintu ICU dengan Danar. Kamu bisa bicara dulu dengan mama," ucap Yuda yang tahu harus pergi memberi ruang pada ibu dan anak ini. "Permisi," pamit Yuda.
Setelah kepergian Yuda, Ian bertanya, "Ada apa, Ma?" Raut wajah Ian terlihat sedikit gusar. "Mama kan bisa bertanya setelah aku sampai di depan kamar ICU."
"Tidak. Mama tidak bisa tenang jika tidak segera bertanya pada mu." Mama menggelengkan kepalanya.
Ian menghela napas menerima sikap mama yang keras kepala. "Lalu apa yang ingin mama tanyakan?"
"Kenapa golongan darahmu tidak sama dengan Elio?" tanya mama.
__ADS_1
...____...
..._____...