
Gawatt ... batin Luna. Ia meremas jari-jarinya cemas. Karena ekspresi masamnya terlihat oleh Ian.
"Kamu tidak setuju aku bertanya seperti itu?" tanya Ian.
Lagi. Nada bicara Ian lagi-lagi ketus. Seakan-akan Luna punya salah besar. Untuk bermuka kesal pada atasan memang bisa di katakan adalah salah besar. Namun Luna berwajah begitu karena pertanyaan-pertanyaan Pak Ian yang terasa aneh dan tidak masuk akal. Itu semua membangkitkan rasa kesal.
Luna tidak tahu harus bicara apa. Ia langsung berdiri. "Maaf, Pak Ian. Maafkan saya datang siang lagi. Maafkan saya." Perempuan ini membungkukkan badannya.
Ian mendongak dengan heran dan terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, Luna?" tanya Ian panik.
"Maafkan saya, Pak. Maafkan saya, Pak." Luna masih tetap membungkukkan badannya berulang-ulang. Itu membuat Ian panik dan syok. Bola matanya juga pusing melihat gerakan itu di ulang-ulang.
Srak!
Ian mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. "Berhenti dan tegakkan tubuhmu, Luna!"
Perempuan ini terkejut. "I, iya Pak!" seru Luna panik setengah mati. Ia langsung menegakkan badan tanpa harus Pak Ian mengulangi perintah yang kedua kalinya. Ia takut pria ini makin marah.
Ian menarik napas kemudian membuangnya perlahan. Dia merasa aneh dengan situasi ini.
"Aku tidak mempermasalahkan soal kamu yang datang kerja siang," kata Ian kembali dengan nada bicara normal.
Tidak mempermasalahkan? Bukannya itu melanggar aturan? Luna mengerjapkan mata heran.
__ADS_1
"Emm ... Maksudku itu ... bukan tidak apa-apa," ralat Ian. Pria ini jadi bingung sendiri. "Kamu tetap tidak boleh datang kerja siang seperti tadi. Apalagi kamu staff."
Pak Ian ini bagaimana sih? Luna mengerutkan keningnya samar.
"Yang aku tanyakan adalah kenapa kamu berekspresi kesal padaku? Kenapa kamu jadi gugup padahal kita bisa bicara normal seperti biasanya? Kenapa kamu berubah?" Pertanyaan beruntun meluncur begitu saja dari bibir Ian.
Luna takjub. Pak Ian jadi mirip rapper yang sedang mengutarakan isi hatinya.
Melihat tatapan Luna yang bingung, Ian sadar dirinya membuat kalimat yang salah.
"Apa kamu berubah jadi tidak tenang karena ada Yuda di sana? Hingga pikiranmu saat bicara denganku terpecah?" Ian kembali mengajukan pertanyaan aneh. Dirinya pun sadar bahwa pertanyaannya aneh, tapi tetap saja yang keluar dari mulutnya adalah pertanyaan itu. Karena saat ini yang dia ingin tahu adalah apa yang ia tanyakan sekarang.
"Pak Ian bukan marah karena saya datang hampir terlambat? Pak Ian merasa kesal karena saya gugup saat bicara?" ulang Luna karena merasa tidak yakin.
"Hhhh ..." Ian tidak menjawab. Dia hanya menghela napas.
Aku gugup? Aku gugup karena Yuda? Yang benar saja.
"Maafkan saya, tapi apa yang Bapak pikir itu sangat tidak benar," sangkal Luna. "Saya gugup karena ada Anda. Saya bukan gugup karena Pak Yuda," jelas Luna.
Perempuan ini sendiri kebingungan kenapa harus menjelaskan ini. Mungkin alam bawah sadarnya paham kalau yang di hadapinya adalah bos. Dan bos harus di jawab saat bertanya. Kalau tidak, kita yang salah karena kita adalah bawahan.
"Kamu gugup karena saya?" tanya Ian lambat.
__ADS_1
"Benar, aku itu ... Eh, saya itu jadi ingat saat ... " Tunggu. Apa yang aku pikirkan? Luna menghentikan kalimatnya. Kenapa aku mau mengaku kalau aku gugup karena ingat saat tanganku di pegang Pak Ian? Oh tidak!!!
“Ingat saat apa?” tanya Ian lebih tenang karena penasaran.
“Halo Ian,” sapa Naura yang mendadak muncul di ruangan ini.
...______...
__ADS_1