Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab 112


__ADS_3

"Pftt ..." Dalam kepanikan karena Ian muntah, tiba-tiba mama tergelak. Ian mendengus lucu melihat dua perempuan kesayangannya tengah membicarakan dirinya aku.


"Kenapa mama tertawa?" tanya Ian. Luna yang meletakkan cangkir di atas nakas ikut mendongak. Ingin tahu kenapa mama mertua itu tertawa.


"Kamu lucu sekali Ian. Istri kamu yang hamil, kamu yang amburadul." Mama akhirnya tidak bisa menahan rasa geli-nya. Meski kasihan, mama juga tidak habis pikir. Luna pun ikut senyum akhirnya.


"Ya, ini aneh," imbuh Luna.


Ian menoleh pada istrinya. "Kamu juga menertawakan aku?" sungut Ian berpura-pura marah.


"Enggak. Aku hanya ikut mama," elak Luna. Namun dia kembali tergelak. Ian membiarkan dua perempuan ini menertawai dirinya.


"Silakan tertawa sepuasnya," kata Ian pasrah. Bukan marah, dia tersenyum melihat keduanya menertawakannya.


"Lucu kan putra mama ini, Lun?" tanya mama yang tidak berhenti tersenyum. Luna menoleh pada mama seraya mengerjap. Tawanya mulai mereda. Ian juga melihat mamanya. Ingin tahu apalagi yang akan di katakan mamanya. "Sebegitu cintanya ke istri, dia rela gantiin kamu mual dan muntah." Mama menunjuk Luna dengan jenaka.

__ADS_1


Luna tersenyum menunjukkan wajah bangganya.


"Iya dong, Ma. Suami Luna kan memang yang terbaik." Luna memeluk lengan Ian dengan manja.


Ian mencubit pipi Luna dengan gemas. Ian mendengus lucu melihat dua perempuan kesayangannya tengah membicarakan dirinya. Tangan Ian terulur dan mengusap kepala istrinya.


"Sudah, mama mau ke dapur lagi kalau sudah baikan. Luna enggak usah ke dapur lagi. Kamu di sini saja buat temenin Ian." Mama kasih nasehat.


"Baik Ma." Luna patuh. Karena dia juga tidak mau lihat Ian mual saat bau masakan.


Ian mengangguk. Setelah kepergian mama, Luna menatap suaminya.


"Sudah enakan?" tanya Luna.


"Ya. Aku mual karena bau masakan dari dapur tadi. Setelah itu ya enggak apa-apa," jelas Ian.

__ADS_1


"Tapi tadi sempat pucat, aku cemas." Luna melebarkan matanya sekilas mengingat tadi.


"Iya, tapi sekarang sudah enggak apa-apa." Ian mengelus pelan pipi istrinya.


"Pasti enggak enak ya, mual dan muntah terus?" tanya Luna dengan wajah menelisik. Sejak umur kandungannya menginjak bulan ke empat, saat itulah Ian mulai merasakan mual dan muntah.


"Sedikit," bohong Ian. "Sepertinya anak ini tahu kalau papanya wajib merasakan rasa tidak nyaman saat mengandung juga. Biar adil." Ian bicara dengan setengah bercanda sambil mengelus perut istrinya. Luna tersenyum.


"Dia mirip siapa ya?" tanya Luna sambil membayangkan bakal seperti siapa wajah anak yang ada di dalam rahimnya.


"Sepertinya mirip mamanya. Karena sejak masih bayi saja sudah mendominasi semuanya. Mama, aku. Semuanya di libas habis. Bahkan dia membuatku seperti sekarang karena lebih sayang pada mamanya daripada aku," ujar Ian menyipitkan matanya menatap perut Luna.


Ini membuat Luna tertawa. "Hahaha ... Bisa aja nih." Tawa Luna mulai mereda. "Memangnya selama ini aku yang mendominasi di antara kita?" tanya Luna ingin tahu. Ian menatap Luna dalam.


"Ya," sahut Ian seraya mengecup pipi istrinya. "Kamu bahkan selalu berada di atas ku. Saat di ranjang ...," bisik Ian lagi-lagi mesum. Ini membuat Luna memukul lengan Ian gemas seraya menipiskan bibir mengusir rasa malu karena sekelebat ingat apa yang di katakan Ian barusan.

__ADS_1


***


__ADS_2