
Luna dan Ian menoleh bersamaan ke arah pintu yang terbuka tiba-tiba.
"Kenapa kamu ada di sini, Naura?" tanya Ian tanpa menjawab sapaan perempuan itu.
"Aku dengar dari Yuda, kalau kamu ada perlu di ruangan ini," kata Naura dengan nada gembira. Sesaat bola mata Naura menoleh pada Luna. "Dia staff keuangan ya," gumam Naura seraya menoleh ke Yuda. Seakan ingin menunjukkan pada pria itu kalau tidak salah Yuda muncul di sini.
"Kalau sudah dengar aku ada keperluan di sini, kenapa kamu malah ke ruangan ini?" tanya Ian tidak suka.
"Aku ingin bertemu," jawab Naura masih tidak paham raut wajah masam itu.
Ian menyerahkan berkas yang sudah di tanda tanganinya ke Luna. Lalu ia menoleh pada Naura.
"Kamu mengganggu ku, Naura." Dengan jelas Ian mengatakannya. Luna terkejut. Bahkan Yuda melebarkan mata sekejap. Lalu ia menoleh pada Naura. Perempuan ini tertegun. Dia menatap Ian tidak percaya.
"A-apa ..."
"Kembali ke ruangan ku. Aku akan menemui kamu di sana. Lalu Yuda ... Aku pikir sudah mengatakan padamu untuk mengatasinya. Kenapa justru membiarkan Naura datang ke ruangan ini?" tegur Ian.
"Iya ... itu." Yuda ragu untuk menjawab. Karena ini di luar kebiasaan Ian. Pria ini seringkali menyetujui apa saja yang di lakukan Naura. Anggap saja Naura adalah mutlak. Tidak bisa di bantah. Perubahan ini di luar pemikiran mereka.
"Atau kamu memilih di sini saja? Kalau begitu duduk saja di sini dan temani Luna. Aku akan kembali ke ruanganku," kata Ian segera berbalik dan menuju pintu.
"Ian. Tunggu, Ian!" panggil Naura segera mengejar Ian. Yuda melirik ke Luna. Perempuan ini hanya diam ikut tertegun. Tidak menyangka Ian akan bersikap dingin seperti itu pada Naura.
...***...
Brak! Pintu terbuka dengan keras. Ian datang lebih dulu di ruangannya. Naura datang kemudian.
"Ada apa dengan mu, Ian?" tanya Naura bingung.
"Ada apa? Aku marah. Kamu tidak tahu itu?" Ian balik tanya. Naura terkejut. Ia tidak pernah melihat pria ini marah seperti ini. Mungkin ini pertama kalinya.
"Marah? K-kenapa?" Naura sampai tersendat-sendat saat bertanya.
"Kamu tahu aku ada keperluan di ruangan itu, lalu kenapa kamu malah menemui ku di sana?"
"Itu kan ... Itu kan bukan hal yang perlu didebatkan Ian?" Naura masih tidak mengerti.
"Tidak perlu? Ini di perusahaan, Naura. Aku adalah atasan semua orang di sini. Lalu kamu ... seenaknya saja masuk ke ruangan dimana aku sedang bicara dengan karyawan ku."
"Kamu kan bisa melanjutkan bicara dengan mereka lalu bicara dengan ku. Tidak perlu meninggalkan aku seperti itu," kata Naura tidak terima.
__ADS_1
"Jadi menurut kamu, karena kamu adalah kekasihku kamu bisa berbuat seperti itu?"
"Apa maksud kamu? Berbuat apa?"
"Kamu tidak mengerti batasan antara aku yang menjadi salah satu pekerja di perusahaan ini dan aku yang menjadi kekasihmu. Seharusnya kamu bisa memilah dimana perlu muncul dan tidak. Sangat tidak sopan kamu masuk begitu saja saat aku bicara dengan karyawan ku." Ian menunjuk Naura dengan kesal.
"Kamu kan atasan mereka. Kenapa kamu marah saat kekasihmu datang. Kamu kan bis ..." Naura menghentikan kalimatnya. Ian tengah melihat ke arahnya dengan tajam.
Yuda muncul membuka pintu.
Naura menoleh ke belakang. Tatap matanya panik dan bingung. Juga perlu pertolongan dari pria itu.
"Maaf, Ian. Karena aku yang bilang kalau kamu ada di ruangan tadi, Naura yang sangat ingin bertemu dengan kamu jadi terburu-buru kesana. Maaf, aku sudah membiarkan Naura mengganggu tadi," kata Yuda berusaha mengambil kesalahan Naura untuknya.
Perempuan itu diam sambil berharap Ian bukan benar-benar marah.
"Meskipun kamu sangat ingin bertemu dengan ku, apa kamu tidak bisa tetap menunjukkan sikap hormat mu padaku yang sedang bicara pada karyawan ku?" Ian masih bicara dengan nada dingin dan beraura panas seperti tadi.
Yuda diam. Naura juga diam. Mereka saling pandang.
"Apa ini pertama kalinya aku marah pada kalian berdua?" tanya Ian masih dengan bicara yang dingin. Ini mengejutkan. Naura dan Yuda tidak bisa menjawab. "Melihat kalian berdua yang tampak sangat bingung dan merasa ini seperti sebuah candaan, aku yakin ini pertama kalinya. Kalian berdua tampak meremehkan," ujar Ian mendengus.
"Ma-maafkan aku, Ian. Aku salah," kata Naura. Ian diam. Lalu dia menoleh pada Yuda. Pria itu yang tadinya menoleh pada Naura untuk mendikte apa saja yang harus di lakukannya, kini menoleh pada Ian dengan cepat.
"Ada keperluan apa kamu ke menemuiku, Yuda?" tanya Ian.
"Oh, itu soal ... " Yuda mendekat ke Ian.
Sementara itu, Naura mengerutkan wajahnya. Ian tidak menghiraukan kata maafnya. Bahkan pria itu memilih membicarakan hal lain daripada permintaan maafnya. Naura mendengus sebal melihat Ian tidak menoleh lagi padanya sekalipun. Pria itu benar-benar membiarkan dirinya.
**
Mungkin bukan pertama kalinya Luna melihat Pak Ian marah. Namun bukan marah yang seperti tadi. Yang ia tahu Pak Ian adalah atasan yang jarang bicara. Menurut semua orang, itu terjadi sejak istrinya meninggal.
"Ada apa dengan Pak Ian? Kenapa dia sangat marah?" Luna merapikan meja dadi berkas tadi. Lalu menyimpannya di dalam brankas. "Naura memang kurang sopan tadi, tapi kan ... dia kekasihnya. Seharusnya Pak Ian bisa memaklumi."
Tok! Tok! Karin muncul. Ia celingukan.
"Enggak ada Pak Ian, Lun?" tanya Karin.
__ADS_1
"Enggak ada. Dia sudah kembali ke ruangannya."
"Oh ..." Karin berjalan mendekatinya.
"Bukannya aku bilang Pak Ian sudah kembali ke ruangannya. Kenapa kamu malah masuk kesini?" tanya Luna heran.
"Iya. Aku bukan ada perlu sama Pak Ian."
"Terus apa?" tanya Luna sambil duduk. Dia sudah siap bekerja.
"Eh, ada apa tadi? Kok kayak ada perang antara Pak Ian sama model cantik Itu?"
"Dasar penggosip," desis Luna. Karin terkekeh.
"Ayo cepat kasih tahu. Ada apa dengan mereka?" tanya Karin tidak sabar.
"Enggak ada apa-apa," jawab Luna.
"Eh, jangan bohong. Aku dengar di lorong tadi pas mau kesini."
"Jadi kamu menguping tadi?" tanya Luna sambil mendorong pipi Karin dengan gemas. "Mereka itu enggak ada apa-apa. Aku enggak ngerti. Yang aku tahu, Pak Ian sedang bicara denganku di meja ini. Ada berkas yang harus di tandatangani. Lalu perempuan itu muncul. Pak Ian enggak suka. Itu saja."
Karin manggut-manggut.
"Apa Pak Ian kesal karena kalian di ganggu?"
"Apa? Kita ngobrol biasa. Itu soal pekerjaan dan ..." Luna ingat sesuatu.
"Dan apa, Lun?" tanya Karin ingin tahu.
"Oh, enggak." Luna menggelengkan kepala dan kedua tangannya.
..._______...
__ADS_1