
Luna menunggu Ian di area parkir. Namun sekarang yang muncul Yuda. Berbeda dengan waktu itu. Dia menunggu Yuda, yang muncul justru Ian. Apa yang direncanakannya tidak berjalan sesuai.
"Luna. Kamu menunggu seseorang?" tanya Yuda yang menyapa lebih dulu.
"Ya. Karin. Temanku," bohong Luna.
"Kapan kita bisa keluar bareng?" tanya Yuda terang-terangan.
"Memangnya ada acara apa, kamu mau mengajakku keluar? Bukannya enggak ada yang spesial?" tanya Luna sengaja ingin menolak.
"Kenapa harus ada acara spesial? Kita bisa kembali berteman bukan?"
"Kita itu enggak pernah berteman, Yuda." Luna mengingatkan lagi soal siapa mereka berdua. Hubungan mereka apa.
"Oh, kalau begitu ... kita bisa kembali jatuh cinta seperti waktu itu." Yuda tersenyum. Luna menggelengkan kepala.
"Jatuh cinta itu mudah, tapi mempertanggungjawabkan ungkapan cinta itu yang sulit," sindir Luna. Yuda tergelak.
"Kamu benar. Aku tidak bisa mempertanggungjawabkan ungkapan cintaku padamu waktu itu. Maafkan aku. Bisakah kurangi kata-kata sadis mu itu?"
"Ya, tidak masalah. Jangan meminta maaf. Aku baik-baik saja. Hanya saja mungkin aku selalu mendapat Ilham untuk menemukan kata-kata sadis saat bertemu denganmu," ujar Luna sambil tersenyum savage.
"Oh, janganlah begitu Luna. Padahal aku ingin mendekatimu lagi," kata Yuda.
"Berhenti bersikap seperti tertarik padaku, Yuda. Karena mungkin saja hatimu masih tertambat pada satu wanita selamanya," kata Luna serius. "Hentikan itu."
Yuda diam.
"Pak Ian belum pulang? Kenapa munculnya lama?" tanya Luna seraya melongok ke dalam gedung. Dia tidak peduli Yuda menatapnya agak lama.
"Dia ada di ruangannya."
"Sendirian?" tanya Luna.
"Bersama Danar."
"Oh." Luna menganggukkan kepala.
"Mau apa mencari Ian jam pulang kerja?" tanya Yuda.
"Kenapa?" tanya Luna menunjukkan sikap defensif.
"Sedikit aneh. Kamu sedang menggoda Ian?" tanya Yuda sungguh menyebalkan.
"Apa yang kamu bicarakan?" sungut Luna. "Aku hanya ingin membicarakan tentang masalah pekerjaan. Tentu aku tidak harus membicarakannya denganmu kan? Ini soal keuangan."
__ADS_1
Yuda mendengus. "Sepertinya kebanyakan wanita punya selera yang sama. Baik kamu ataupun yang lainnya," kata Yuda dengan dingin.
"Lainnya? Memangnya siapa yang suka pada Pak Ian? Naura si model cantik itu?" tanya Luna. Yuda menyeringai. Lalu pria itu berlalu meninggalkan Luna.
"Apa-apaan pria itu?" gumam Luna. "Agh ... Bagaimana untuk menemui Pak Ian kalau dia bersama Danar. Untung saja Yuda tidak tanya banyak hal. Dia memang pria aneh."
Danar muncul dari dalam perusahaan.
"Pak Ian masih di sana?" tanya Luna langsung.
"Ya. Memangnya kamu lembur? Kenapa ada di sini saat jam kerja sudah usai?" tanya Danar melihat Luna di area parkir.
"Iya. Sedikit."
"Soal apa? Pak Ian tidak mengatakan apa-apa padaku kalau bagian keuangan ada lembur."
"Itu kan rahasia bagian keuangan. Ya sudah, aku kesana." Luna segera kabur dari area parkir.
...***...
Tok! Tok!
Ian yang sedang menatap foto kenangan bersama istrinya di monitor menoleh.
"I-iya Pak." Luna makin canggung saat Ian menghampirinya.
"Ada apa Luna?" tanya Ian antusias.
"Saya mau bicara serius dengan Bapak."
"Serius?" Ian diam.
"Saya boleh duduk, Pak?" tanya Luna.
"Oh, iya. Silakan duduk Luna." Ian pun ikut duduk di sofa.
"Bicara soal apa?"
"Emm ... " Luna ragu.
"Kamu mengatakan iya soal perasaanku?" tanya Ian berterus terang.
"B-bukan, Pak," sahut Luna langsung panik. Wajahnya merah karena malu.
"Aku kecewa kamu bukan membicarakan soal itu," ujar Pak Ian membuat Luna agak menyesal muncul disini sekarang. "Aku hanya ingin menggoda mu saja Luna. Silakan bicara." Ian tersenyum.
__ADS_1
"E ... Ini soal Pak Yuda dan ... Nona Naura."
"Yuda? Naura? Kenapa kamu ingin membicarakan mereka?" tanya Ian heran.
"Itu ... Tidak sengaja Karin mendengar pembicaraan mereka di ruangan Pak Yuda yang baru," kata Luna dengan degup jantung tidak karuan. Dia juga berdebar-debar.
"Pembicaraan soal apa?"
"Karin bilang ... Apa Anda bisa percaya sama saya?" tanya Luna kembali meragu. Ian yang sudah siap mendengar menghela napas. Kemudian menarik tubuhnya yang tadi bersandar pada badan sofa.
"Luna. Mungkin ini terdengar palsu dan hanya menggoda kamu saja, tapi dengarkanlah dengan baik. Aku ini selalu percaya dengan apa yang kamu katakan. Mungkin kamu berbohong pun aku percaya."
"Saya tidak pernah berbohong pada Pak Ian!" bantah Luna.
"Aku yakin begitu. Karena kamu selalu menunjukkan dirimu yang asli di depanku. Kamu merona. Kamu malu. Kamu repot kalau kamu jatuh cinta padaku. Kamu terima cintaku tapi di batalkan mendadak karena ternyata masih ada Naura di sampingku. Kamu ..."
"Jangan di teruskan, Pak. Saya malu berat nih, Pak ..." Wajah Luna memerah. Ia merasa melihat video di putar lagi ke waktu yang lalu. Kilas balik. Dia jadi tersadarkan kalau begitu tidak tahu malunya di depan Pak Ian.
Ian tergelak mendengar kalimat Luna. Ups. Luna menutup mulutnya sendiri.
"Kamu sangat menggemaskan Luna. Keterbukaan mu saat bicara membuat aku betah di dekatmu," kata Ian. Luna menipiskan bibir seraya membetulkan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan. Hanya gugup saja.
Ah, Pak Ian terus mengatakan kalimat-kalimat menjurus nih.
"Aku percaya padamu Luna. Makanya aku menaruh hati padamu. Sifat kamu itu membuat aku yakin kamu pantas jadi mama untuk Elio."
Ini ... lamaran terbuka nih. Aku jadi makin suka sama pria ini. Sialan. Naura cepatlah menyingkir jadi aku bisa bebas di dekat Pak Ian yang tampan ini.
Tiba-tiba saja Pak Ian pindah duduk di samping Luna. Lalu menggenggam tangan Luna tanpa aba-aba. Bola mata Luna mendelik.
"Tunggu aku sampai aku bisa membereskan semua masalahku dengan Naura, Luna."
Luna menahan degup jantungnya. Ingin rasanya Luna langsung memeluk pria ini dan bilang ... Terima kasih, Pak. Namun ia tidak ingin tujuannya untuk memberitahu Pak Ian soal Naura dan Yuda tertahan karena Pak Ian sendiri. Ia harus gigih.
"Saya akan menunggu Bapak, asal Bapak mau mendengarkan saya bicara. Ini hal yang sangat serius dan mendesak." Luna tidak sabar. Ian menangkap rasa geregetan Luna.
"Maafkan aku. Aku akan mendengarkan mu dengan serius," kata Ian. Luna melirik ke arah tangan Pak Ian yang masih menggenggam tangannya. "Iya. Aku akan lepaskan." Luna menghela napas.
"Bapak harus hati-hati pada Pak Yuda dan Nona Naura. Karena Karin bilang, mereka ingin merebut harta Pak Ian, jika Naura berhasil menikah dengan Bapak," kata Luna tidak berjeda karena takut tergoyahkan konsentrasinya dengan banyak hal.
"Mereka ingin merebut hartaku?" tanya Ian memicingkan mata. Luna menganggukkan kepala.
Sepertinya firasat ku soal pernikahan ini benar, tapi Danar tidak bisa menemukan apa-apa yang ganjil dalam cerita ini. Juga, dia tidak menemukan surat wasiat yang di buat oleh Mina, istriku.
...____
__ADS_1
...