
"Halo Yuda," sapa Ian. Dia pun mendekat pada Luna.
Yuda tersenyum tipis tanpa menjawab sapaan Ian.
"Tadi malam, Elio menangis dalam tidurnya mencari Luna. Itu saat Luna sudah mau pulang. Jadi aku memintanya tinggal karena takut Elio merengek dan menangis mencari Luna," imbuh Ian menyelamatkan Luna dari pandangan negatif Yuda.
"Benarkah papa?" tanya Elio tidak percaya.
"Papa tidak akan bohong," kata Ian yakin dengan lembut. Karena kebetulan yang dia bicarakan adalah kebenaran. Padahal tadi ada kebohongan sedikit soal Yuda yang tidak muncul beberapa hari di rumah ini.
"Tidak apa-apa Elio. Bocah kecil kayak kamu memang sewajarnya menangis kok. Tante aja kalau mengiris bawang suka nangis. Jadi enggak apa-apa menangis. Itu bukan hal memalukan." Luna membesarkan hati Elio. Bocah ini pun tersenyum.
"Karena kamu sudah berada di sini, bisa kita bicara berdua?" tanya Ian. Dia tahu Yuda pasti akan membicarakan soal Elio.
Pria ini mungkin sudah memutuskan sesuatu setelah beberapa hari lenyap. Baik di kantor ataupun di rumah ini. Padahal Yuda seringkali muncul di rumah Ian.
"Ya."
"Aku akan bermain bersama dengan Elio lagi." Setelah melihat kedua pria ini, Luna berinisiatif. "Ayo Elio, biar dua pria dewasa ini bicara. Kita harus tetap bersenang-senang," ajak Luna. Dia memberi kode pada Yuda untuk menyerahkan Elio padanya.
Awalnya Yuda diam tidak merespon. Luna dan Ian pun sempat di serang rasa takut. Bagaimana bila Yuda memendam rasa marah pada bocah ini dan ingin mencelakainya?
Namun saat melihat Yuda tersenyum hangat pada Elio, mereka sedikit merasa nyaman.
"Elio bermain bersama Tante Luna dulu. Setelah Om selesai bicara dengan papa kamu, kita akan main bareng," kata Yuda.
"Baiklah. Turunkan aku," pinta Elio. Yuda merundukkan tubuhnya dan menurunkan tubuh Elio. Bocah itu berlari ke arah Luna. Gadis ini langsung mengajak Elio masuk ke dalam rumah. "Kita enggak jadi main bola lagi?" tanya Elio heran. Dia sudah menyukai permainan tadi.
"Emm ... Sepertinya kita main di dalam kamar dulu. Nanti aku akan meminta bibi pengasuh untuk membawakan makanan untuk kita berdua." Luna punya usul.
"Makanan? Aku boleh makan eskrim?" tanya Elio antusias.
__ADS_1
"Okelah."
"Kalau nanti papa marah, Tante Luna yang bilang ya ..." Elio melenggang dengan tangan tetap bergandengan. Rupanya bocah ini menyuruh Luna untuk tanggung jawab.
Ini anak ...
"Iya deh. Terserah. Pokoknya sekarang harus main di kamar saja. Oke?" kata Luna. Elio setuju.
"Oke."
**
Jika Luna dan Elio berada di dalam kamar, Ian dan Yuda berada di ruang baca. Keduanya duduk si sofa yang berhadapan. Dia minuman di meja yang di buatkan bibi pengasuh tadi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ian.
"Tidak begitu baik," jawab Yuda.
Yuda diam. Dia sedang berpikir sesuatu.
"Aku tidak memaksa. Itu terserah kamu. Aku hanya menjelaskan bahwa Mina tetap mencintai kamu meskipun sudah menjadi istriku. Bukan kamu yang menjadi korban Yud, tapi aku."
"Setidaknya kamu menemaninya saat akhir hidupnya," kata Yuda tidak terima.
"Aku hanya di jadikan tempat untuk menitipkan Elio, Yud. Mina tidak pernah mencintaiku," tegas Ian. Yuda diam. "Sudahlah. Sebaiknya kita berdua jangan berdebat soal ini lagi. Kamu ingin membaca bukti itu atau tidak?" tanya Ian tidak ingin bertele-tele.
"Berikan saja padaku."
"Oke. Aku sudah menyiapkannya." Ian menarik laci meja di sebelah sofa. Tangannya mengeluarkan amplop besar berwarna putih dengan kop surat dari sebuah rumah sakit. "Ini untukmu." Ian menyerahkan amplop itu.
Awalnya Yuda hanya menatap amplop itu, tapi kemudian tangannya perlahan terulur. Mengambil amplop itu dan membukanya. Meski sejak melihat Elio tadi, ia yakin bahwa bocah itu memang darah dagingnya sendiri, membaca hasil tes DNA membuatnya makin pedih.
__ADS_1
Hampir saja aku mencelakai putraku sendiri dengan menjadikan Naura ibu sambung, batin Yuda menyesal. Ia menutup surat itu dan mengembalikan ke dalam amplop. Ada raut wajah pedih dan sedih di sana.
Ian hanya memperhatikan. Dia tidak ingin bicara apa-apa.
"Ini miris, Ian. Aku merasa jadi pria paling bodoh yang hendak menghancurkan putraku sendiri," ungkap Yuda jujur.
"Tidak ada yang terluka karena itu. Aku dan Elio baik-baik saja. Jadi belum terlambat untuk memperbaikinya. Kamu bisa mengambil alih sebagai orang tua Elio. Kamu bisa hidup dengannya, Yuda. Meskipun aku sangat menyayangi Elio, aku rela. Aku tidak keberatan untuk itu," kata Ian.
Ian tidak pernah mengatakan hal ini pada siapapun. Baik Danar maupun Luna. Namun ia sudah menyiapkan mental untuk berpisah dari bocah gondrong itu.
"Jadi kamu ingin membuang Elio karena dia bukan darah daging mu?" tanya Yuda yang kalut menjadi salah paham. Ian mencondongkan tubuhnya dan meraup kemeja Yuda.
"Tutup mulutmu Yuda. Jika aku tidak menginginkan Elio, sejak awal aku akan membuangnya. Aku tidak sudi di dalam rumah ini ada darah milik pria lain." Ian melepas cengkeramannya dengan kasar. "Hentikan pikiran buruk mu padaku hanya karena aku menikahi Mina. Wanita yang di cintai sahabatku," ujar Ian kesal. "Aku sedang memberi mu kesempatan. Pikirkan baik-baik," desis Ian.
Ia menarik tubuhnya yang tadi condong ke Yuda. Lalu kini bersandar sambil menghela napas lelah.
"Tawaran mu tidak akan membuat ku bisa memperbaikinya, Ian," kata Yuda. Ian menoleh. "Bagaimana pun di mata Elio, kamulah orang tuanya. Aku bukan siapa-siapa." Yuda tampak terluka saat mengatakannya.
Bibir Yuda bergetar saat mengatakannya. Ia begitu takut dan rapuh saat ini. Sepertinya kehilangan Elio jauh lebih menakutkan daripada yang lainnya.
"Aku hanya butuh dia bahagia Ian. Hanya itu yang ku butuhkan. Aku tidak peduli dengan diriku. Yang terpenting adalah dirinya. Putraku, Elio." Yuda tampak kalut saat mengatakan. Ian menangkap kekhawatiran Yuda. Dia mengerti.
"Jadi ... Kamu tetap ingin menyembunyikan bahwa kamu adalah ayah kandung Elio?" tanya Ian hati-hati. Meskipun dia adalah orang yang merawat Elio dari kecil, tapi dia harus tetap adil dengan memberitahukan pada Yuda soal kebenaran ini.
"Ya. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi menurutku itu adalah jalan terbaik Ian. Dia harus tetap tersenyum. Dan itu di temukan saat bersama mu. Aku bukan orang yang tepat untuk itu. Biarlah yang dia tahu adalah aku hanya teman papanya. Cukup itu," kata Yuda pasrah.
Tidak ada yang salah dari Elio dan Yuda. Mereka sama-sama baru tahu. Jadi apa dirinya yang salah karena baru saja memberi tahu semua fakta ini? Ian tidak tahu. Tidak rumit untuknya, tapi ini mempersulit sahabatnya.
Apa ini keinginanmu, Mina?
..._______...
__ADS_1