
"Luna!" teriak Pak Ian seraya masuk mencari gadis ini.
"Pak Ian?" Luna terkejut pria ini sudah berhasil masuk dengan cepat. Wajah Pak Ian terlihat lega melihat Luna yang berdiri di dekat sofa. Dia langsung menghampiri Luna dan ingin memeluknya. Namun terhalang oleh Yuda yang berdiri tepat di depan Luna.
"Hei ... Apa kamu tidak punya sopan santun? Dia sedang bicara denganku, Ian," kata Yuda menahan Ian untuk mendekat pada Luna. Wajahnya dingin melihat Ian muncul.
Ian berhenti dan melirik pada Luna.
"Bicara? Kenapa harus menahannya di sini jika hanya ingin bicara? Pintu tidak macet. Jadi kemungkinan kamu sengaja menyanderanya," tuding Ian. Setelah orang yang di bawanya tadi mengatakan bahwa pintu baik-baik saja, dia yakin bahwa Luna memang dalam keadaan berbahaya.
"Lihatlah Ian. Apa dia seperti seorang sandera?" Dagu Yuda bergerak menunjuk Luna. "Dia baru saja duduk di sofa. Dia tetap bergerak bebas tanpa aku ikat dengan tali. Darimana kamu bisa bicara kalau ini sebuah penyanderaan?" Yuda mengatakannya dengan remeh.
Ian diam. Dia memang tidak punya bukti penyanderaan karena ternyata Luna baik-baik saja.
"Aku tidak di sandera Yuda, Pak. Namun aku juga bukan sedang duduk dengan santai di sini." Luna menengahi. Bukan membela Yuda, tapi menyelamatkan semuanya agar masalah tidak makin besar. Dia sedang nego tadi.
Gadis ini menyadari sesuatu. Saat Pak Ian berhasil masuk, tidak ada seorang pun yang mengikutinya. Polisi yang di teriakkan pria ini tadi juga tidak muncul.
Sepertinya Pak Ian menyadari bahwa Luna dalam keadaan masih aman. Makanya dia hanya masuk sendirian. Mungkin dengan memberikan kode, Pak Ian menyuruh orang di luar tidak langsung masuk begitu saja.
Danar rupanya tidak ikut masuk. Mungkin mereka sengaja agar Yuda tidak gegabah.
"Lagipula, bukan salahku jika ternyata pintu itu tidak apa-apa. Padahal tadi macet. Bukan begitu Luna?" tanya Yuda sengaja mengajak Luna untuk berkomplot dengannya.
Gadis ini mengangguk seraya menipiskan bibir. Set! Tiba-tiba Yuda menarik lengan Luna agar mendekat padanya. Luna meringis merasakan tarikan tangan Yuda yang kasar. Ian sempat tersentak kaget hingga tanpa sadar menjulurkan tangan. Namun tangan itu mengambang karena Luna menggelengkan kepala untuk Ian bersabar.
"Ternyata dia orang spesial untuk mu ya? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu kalau aku melakukan sesuatu padanya." Kalimat provokatif dari Yuda membuat suasana tegang lagi.
Dari cengkeraman tangan Yuda yang kasar, Luna merasa ini tidak aman. Namun ia berharap Yuda mau melepaskan dirinya dan menghentikan semuanya.
__ADS_1
Ian tidak menjawab. Tangannya mengepal.
"Aku tidak menyangka bahwa Mina akan di kalahkan oleh Luna. Karena aku pikir kamu tidak akan pernah berpaling dari istrimu. Namun ternyata semudah itu kamu mencintai wanita lain." Yuda mendengus seraya menggelengkan kepala. "Hingga sekarang aku bisa melihat raut wajah cemas darimu Ian."
"Mina akan tetap di hatiku karena dia istriku, tapi aku tidak akan menutup hati untuk cinta yang lain. Karena aku tahu kita masih butuh cinta yang baru tanpa harus menutup cinta yang lama," kata Ian.
Entah kenapa kalimat itu membuat Luna sedikit tersisih. Ia merasa cinta Ian tidak pudar untuk istrinya yang sudah meninggal itu.
Bodoh. Suasana genting begini aku malah merasa cemburu. Konyol banget.
Ian melirik ke arah Luna yang membuang muka barusan.
"Seperti kamu yang juga menyimpan nama Mina di dalam hatimu yang paling dalam. Namun cobalah membuka hati untuk yang lain, Yuda." Ian tahu bahwa Yuda mencintai istrinya.
"Kamu sekarang ingin mempengaruhi ku?" tanya Yuda remeh.
"Bukan. Aku sedang menasehati seorang teman," kata Ian hangat. Yuda diam sejenak. Lalu mendengus lagi seraya menggelengkan kepala. Merasa konyol Ian masih menganggapnya teman.
Ian melebarkan mata ingin langsung mendekat pada mereka dan menarik Luna pada sisinya. Namun kode dari Luna selalu mengingatkan dia untuk tidak melakukannya.
"Ternyata Mina benar-benar terbuang. Terlihat dari wajah kamu yang sangat cemas saat melihat Luna, Ian. Kamu benar-benar bisa mencintai wanita lain ya? Mina pasti kecewa. Dia pasti sangat kecewa," ujar Yuda menyayangkan.
"Jangan salah. Jika Mina masih hidup, aku tidak mungkin bisa mencintai wanita lain selain dia. Aku sangat mencintainya. Namun sekarang keadaannya berbeda. Mina di sana juga pasti mengerti dengan keadaanku sekarang," jelas Ian.
Tolonglah jangan bahas Mina terus. Aku merasa terabaikan, gerutu Luna dalam hati.
"Argggh! Kalian memang menyebalkan!" Yuda kesal. Luna merunduk sedikit karena teriakan itu. "Kenapa kamu diam saja di sana, hah?! Tangkap aku. Bukankah kamu datang kesini untuk menangkap ku?!" tantang Yuda. "Bukannya kamu sudah tahu semua rencanaku?" desis Yuda.
Ian diam seraya menatap Yuda. Kemudian menghela napas. "Aku tidak ingin menjadikan temanku sebagai penjahat. Yang aku harapkan adalah dia tetap menjadi orang baik," harap Ian tulus.
__ADS_1
Dia masih bisa menganggap Yuda adalah temannya. Karena dia yakin masih ada hati yang baik pada diri pria ini. Suasana hening sejenak.
"Omong kosong," cela Yuda.
"Lagipula ... ada seseorang yang harus kau temui, Yuda," kata Ian membuat mata pria itu menyipit.
"Seseorang? Siapa yang kau bicarakan?" tanya Yuda. Luna menatap Pak Ian. Melebarkan matanya untuk bertanya apa yang sedang di bicarakan pria ini.
"Seorang yang aku rasa sangat penting untukmu," kata Ian dengan penuh misteri.
"Jangan berbelit-belit, Ian! Kau tahu aku bisa melakukan apa saja pada Luna! Dia wanita yang sangat spesial untukmu bukan?" tantang Yuda lagi. Kali ini Yuda mencengkeram tangan Luna hingga terasa sakit.
"Ughhh ...," erang Luna samar. Ian melihat itu. Dia mengepalkan lagi tangannya. Pria ini menahan diri.
"Dia Elio!" kata Ian cepat. Luna dan Yuda menatap Ian dengan heran. "Dia bukan putraku, Yuda!"
"Apa maksudmu?" tanya Yuda heran.
Luna terkejut. Elio bukan anak Pak Ian? Bola mata Luna melebar. Lalu?
"Jangan bicara aneh hanya untuk mempengaruhiku," ancam Yuda geram dan kesal.
"Elio adalah putra mu, Yud," kata Ian. Kalimat Ian ini mampu membekukan gerakan Yuda maupun Luna.
"A-apa yang kamu katakan?" tanya Yuda terbata. Tangannya yang mencengkeram Luna merenggang. Namun tidak ada gerakan apapun dari mereka berdua.
Luna melebarkan matanya sekali lagi. Fakta bahwa Elio bukan putra Pak Ian saja sudah membuatnya kaget. Di tambah lagi bahwa bocah itu adalah putra Yuda. Itu sungguh mencengangkan baginya.
..._____...
__ADS_1