Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 65


__ADS_3

Luna membetulkan letak kepala Elio agar lebih nyaman.


"Elio, kamu bisa ..." Ian yang tidak tahu Elio memejamkan mata muncul dari pintu dengan suara agak keras. Luna menoleh cepat. Menahan Pak Ian agar mengecilkan suaranya.


"Ssst. Dia sedang tidur Pak," bisik Luna mencegah Ian bicara dengan keras.


Kepala Ian mengangguk. "Maaf." Ia mendekat ke Luna yang duduk di atas lantai yang di lapisi dengan matras evamat.


"Sini, biar aku gendong untuk di pindah ke ranjang," ujar Ian.


"Jangan dulu, Pak. Elio baru saja tidur. Mungkin masih belum benar-benar terlelap," tahan Luna.


"Benar juga." Ian urung memindah Elio ke atas ranjang. Dia memilih duduk di atas matras dekat dengan mereka. "Lihatlah dia. Sepertinya dia senang sekali tidur denganmu." Pak Ian menatap wajah polos Elio yang menutup mata.


"Kebetulan saja saya yang ada di dekatnya. Jadi dia merasa tenang karena ada yang menemani." Luna tersenyum menatap Elio.


"Mungkin bukan hanya kebetulan. Sepertinya kamu memang muncul untuk menguak semuanya. Tentang masa lalu Yuda, juga tentang kebenaran soal Elio." Wajah Pak Ian berubah sendu.


"Apakah ... jika saya tidak muncul dan mengacaukan semuanya, Pak Ian akan diam saja soal Elio pada Yuda?" tanya Luna. Ian yang tadinya melihat Elio, kini menoleh pada Luna.


"Aku tidak tahu. Mungkin saja begitu. Karena tidak ada pendorong atau penyemangat untuk aku mengungkap semuanya," kata Ian. Ia menghela napas. "Sebenarnya dari dalam hati aku takut. Jika aku menguak semuanya, banyak orang akan mencemooh Mina dan aku. Juga hal seperti itu akan menyerang Elio yang tidak tahu apa-apa. Lalu hubunganku dengan Yuda juga akan merenggang karena sebenarnya aku juga marah pada Mina dan Yuda."


Luna sepertinya bisa mengerti perasaan Pak Ian. Mencintai wanita yang mencintai pria lain itu menyakitkan. Namun kita tetap tidak bisa bergerak karena sudah terbelenggu oleh cinta.


"Mungkin keinginanku mendekatimu membuat mataku lebih terbuka. Apalagi kamu memaksaku untuk membersihkan semua hal yang ada hubungannya dengan Naura. Itu artinya aku harus melepas keinginan Mina di dalam surat wasiatnya. Yaitu menikahi Naura. Dari sana aku mencari tahu tentang itu dan menemukan fakta bahwa Yuda menipuku. Namun aku kurang yakin."


Alis mata Luna naik menyadari itu semua karena dirinya.

__ADS_1


"Ternyata, menguak semuanya bukan memperparah keadaan. Aku lega. Aku lebih tenang karena tidak perlu menyimpan rahasia lagi. Lalu ternyata kamu juga tidak mencelaku. Padahal aku terlihat bodoh tetap mau menerima Mina yang sudah hamil dengan Yuda." Bola mata Ian terlihat sendu.


"Aku paham karena mungkin Anda begitu mencintai Ibu Mina. Karena mencintai seseorang, kita rela dengan apapun yang terjadi bukan?" Luna berusaha bijak.


"Jadi kamu juga rela dengan apapun yang terjadi diantara kita nanti?" tanya Ian. Jika tadi suasana sendu karena mengenang masa lalu yang sedikit suram, kini Pak Ian muncul dengan atmosfir menggoda.


"Memangnya apa yang akan terjadi Pak?" tanya Luna heran. Ian mendekat. Mendadak ia mengecup bibir Luna. Tentu ini begitu mengejutkan gadis ini. "Pak Ian ..." geram Luna. Bukan tidak suka, tapi kan masih ada Elio yang terbaring di dekatnya.


Ian tersenyum. "Aku sebaiknya memindah Elio ke atas ranjang." Ian mengangkat tubuh Elio perlahan. Luna hanya mengedipkan mata. Setelah lepas dari rasa terkejut karena ciuman Pak Ian, Luna pun mengikuti Pak Ian yang berjalan menuju ranjang. "Nah ... dia akan tidur dengan lelap," ujar pak Ian setelah berhasil meletakkan tubuh Elio di atas ranjang.


"Ya," sahut Luna yang berdiri di samping pak Ian.


"Engg ... Tante. Tante Luna." Mendadak Elio merengek. Kedua orang ini tersentak kaget. "Aku mau sama Tante. Aku mau di temani Tante Luna." Elio menangis. Luna terkejut. Ia pun segera naik ke ranjang.


"Iya, ini Tante. Aku akan menemani kamu, Elio. Sudah ayo tidur lagi." Luna menepuk pantat bocah ini perlahan untuk membuatnya nyaman tidur lagi. Ian terdiam sambil memperhatikan mereka berdua. Lalu mendekat ke Luna.


"Ke-kenapa Pak?" Luna menoleh ke Ian dan mengerjapkan mata. Suara mereka masih pelan dan bicara dengan berbisik.


"Kamu lihat sendiri dia tidak ingin di tinggal oleh kamu. Aku takut dia menangis tengah malam nanti saat melihatmu tidak ada di sisinya. Jadi sebaiknya kamu menginap," usul Ian.


"Jadi ... Saya harus tidur di sini?" tanya Luna seraya menunjuk ranjang Elio. Ia pun melebarkan matanya.


"Ya. Apa kamu mau tidur di kamarku?" tawar Pak Ian membuat Luna memerah.


"A-apa yang Bapak tawarkan?" tanya Luna geram. Ian menyeringai. Pria ini senang menggoda Luna. Atau sebenarnya dia serius dengan perkataannya?


"Aku akan ambilkan piyama untukmu. Tidak nyaman jika tidur memakai pakaian kerja," kata Ian.

__ADS_1


"Aku belum bilang iya. Bi Muti juga pasti sedang menungguku."


"Aku akan telepon bi Muti dan meminta ijin kamu menginap disini."


"Ha? Memangnya Pak Ian tahu nomor telepon Bi Muti?" tanya Luna heran.


"Yang penting aku bisa meminta ijin pada Bi Muti kan?" Ian tidak menjawab. Luna menipiskan bibir saat pria itu keluar dari kamar. Tidak lama pria itu muncul membawa pakaian di tangannya. Bahkan Pak Ian sudah mengganti kaosnya tadi dengan piyama tidur. "Ini gantilah pakaianmu dengan ini?"


"Bagaimana dengan ini?" Luna menunjuk tangan Elio yang menggenggam jarinya.


"Aku akan menggantikannya sebentar." Ian meletakkan pakaian di atas meja belajar Elio. Lalu mendekat ke ranjang. Dengan lembut, Pak Ian melepas jari-jari Elio yang menggenggam erat tangan Luna.


"Sulit juga," kata Ian.


"Yup. Sudah. Saya tidak usah ganti baju, Pak. Tidak mungkin kan aku harus ganti baju tanpa melepas tangan Elio. Memangnya Pak Ian mau menggantikan bajuku?" tanya Luna tanpa tahu dampaknya bagi Ian. Pria itu menoleh ke arah Luna. Agak lama Ian menatap Luna. Bola mata Luna mengerjap. "A-apa yang saya katakan barusan?" tanya Luna sadar bahwa dia sudah bicara yang aneh-aneh.


"Kamu ingin aku menggantikan bajumu," sahut Ian mengingatkan. Apa?! Luna melebarkan mata.


"Ma-af. S-sepertinya saya lelah jadi bicara uang tidak-tidak," ralat Luna.


"Iya aku tahu."


"Maafkan saya."


"Iya. Sudah. Elio sudah menggenggam jariku. Kamu bisa ganti baju," ujar Ian. Luna bangkit dari duduk di atas ranjang, lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Ia malu. "Hhh ... " Ian menghela napas. "Sepertinya aku harus segera meresmikan hubungan ini. Kalau tidak, aku selalu resah dan gelisah terus menerus."


Menginap? Di rumah Pak Ian? Aku sudah tidak waras.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2