Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 82


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Ian yang tidak ingin melepas tubuh Luna.


"Jangan begini," tolak Luna. Dia tidak mau kepergok mama seperti tadi.


"Kalau begitu, apa kita harus ganti tempat di ..." Bola mata Ian merujuk ke ranjang. Bukan berhenti, pria ini malah sengaja meneruskan tingkahnya yang menggoda.


"Tidak dimanapun. Ya ampun Ian. Berhenti. Stop. Aku tidak ingin terjadi apa-apa di sini lagi. Ini kamar Elio," tolak Luna.


"Jadi kamu ingin ke kamar ku sayang?" tawar Ian mengejutkan. Luna menipiskan bibir.


"Tawaran yang menarik," sahut Luna.


"Sungguh?" tanya Ian dengan mata berbinar.


"Ya, tapi tidak untuk sekarang."Luna memegang kedua pipi Ian. "Begini ya Pak duda yang tampan. Kamu boleh melakukan apa saja padaku saat aku resmi jadi istrimu. Baik itu di taman, di ruang tamu, atau di dapur. Kalau sekarang aku akan tampak buruk di depan mama. Jadi tolong tahan hasrat mu," kata Luna.


"Boleh di mana saja?" tanya Ian dengan senyuman nakal di wajahnya.


Bukan menghapus keinginan Ian, Luna malah menambah fantasi liar pria ini bangkit.


Ternyata dari kalimat Luna yang panjang tadi, Ian hanya menangkap beberapa kalimat saja.


Aku salah ngomong, batin Luna sadar.


"Sudah cukup. Jadi sekarang kamu harus keluar. Biarkan aku membersihkan diri dulu. Lalu kita akan ke bawah menemui mama." Luna mendorong Ian. Pria itu merelakan gadis ini lepas dari pelukannya.


"Ya, mama pasti mau membicarakan pernikahan kita," kata Ian mengejutkan.


"Se-secepat itu?" Luna justru terkejut. Sampai-sampai ia terbata saat bertanya.


"Ya. Mama merestui kita." Ian tersenyum bahagia. "Mama sudah mengijinkan kita menikah." Luna ikut tersenyum. Lalu ia mendekat lagi ke Ian dan memeluknya. Tanpa aba-aba, Luna justru mencium Ian. Mendapat ciuman ini Ian pun menyambut dengan senang.


Mereka berciuman dengan menggebu karena kabar gembira itu. Luna pun hilang akal.


"Papa dan Tante Luna ngapain?" tanya Elio yang sudah duduk di atas ranjang sambil mengucek mata.


Hah?


Mendengar suara Elio, Luna langsung mendorong tubuh Ian lagi. Bahkan ia bisa langsung berdiri dengan tegak sambil membetulkan rambutnya yang agak berantakan. Secepat kilat mereka berusaha menjauh.


"Oh, Elio sudah bangun. Selamat pagi anakku," sapa Ian yang bisa bersikap tenang meski sempat kepergok oleh bocah ini. Dia melirik dan tersenyum geli ke arah Luna yang berdecak kesal karena ketangkap basah.

__ADS_1


"Pagi, Pa. Tante sudah bangun sejak tadi?" tanya Elio pada Luna yang berdiri memunggunginya. Ian ikut menoleh pada Luna.


"Ah, iya. Aku sudah bangun dari tadi," jawab Luna berusaha menunjukkan ekspresi biasa saja. Namun Ian bisa melihat jejak ******* di bibir gadis itu karenanya.


"Tadi ngapain sama Papa? Kok aku enggak pernah lihat?" tanya Elio merasa aneh dengan apa yang mereka berdua lakukan lagi. Wajah Luna memerah. Dia tidak bisa langsung menjawab.


"E, itu ..." Luna bingung.


"Papa tadi lemas dan pusing karena perjalanan jauh, El. Jadi Tante Luna memberikan napas buatan pada papa. Karena kalau tidak begitu, Papa tidak bisa bangun karena tenaganya sudah terkuras saat perjalanan pulang tadi malam," jelas Ian langsung mengambil alih.


Luna mendelik mendengar penjelasan yang tidak masuk akal itu terasa normal jika di gunakan sekarang.


"Oh, begitu." Elio mengangguk-anggukkan kepala mencoba mengerti.


"Sudah. Papa akan panggil bibi pengasuh untuk mandikan kamu," kata Ian beranjak berdiri.


"Tidak. Biar Tante Luna saja yang mandikan aku," tunjuk Elio pada Luna. Gadis ini menghela napas. Dia merasa sudah mendapat gambaran jadi istri Pak Ian. Mendapat duda tampan dan kaya, sekaligus dapat bonus bocah kriwil yang tengil dan cerdas.


Ian melirik.


"Tante Luna pasti capek sejak kemarin main sama kamu." Dia bisa membayangkan bagaimana Elio terus saja memintanya menemani main.


Luna mengiyakan dalam hati.


Terserah deh. capek juga enggak apa-apa. Yang penting dapat duda tampan dan kaya.


"Ok mandi sama Tante," kata Luna sanggup.


"Kamu tidak apa-apa Luna?" tanya Ian cemas.


"Ya."


"Kamu bisa menolak jika memang lelah," bisik Ian. Kepala Luna menggeleng.


"Ya. Aku tidak apa-apa," sahut Luna meyakinkan Ian.


"Oke, Elio aku serahkan padamu." Ian menyentuh pipi Luna sebentar lalu pergi.


**


Luna dan Elio turun dari lantai atas setelah mandi dan rapi. Ian sudah turun lebih dulu. Ia tersenyum melihat pujaan hatinya bersama dengan putranya yang menggemaskan itu.

__ADS_1


Mama yang melihat itu mendengus.


"Kamu enggak bisa menyembunyikan raut wajah bahagia mu ya?" sindir mama.


"Aku terlihat bahagia?" tanya Ian jenaka.


"Sangat." Mama melebarkan mata lalu tergelak pelan.


"Jadi memilih Luna menjadi pendampingku adalah benar. Aku tidak salah." Ian menemukan kalimat yang bagus.


"Ya, ya." Mama mengiyakan sambil menganggukkan kepala.


"Selamat pagi Oma ...," sapa Elio pada neneknya.


"Pagi cucu Oma tersayang," balas Mama Ian. Bocah ini melepas pegangan tangan Luna dan berlari menuju ke mama Ian. "Aduh kenapa berlari-lari?" Mama Ian langsung menangkap tubuh cucunya.


"Pagi sayang," bisik Ian saat Luna melewatinya. Gadis ini tersenyum mendapat salam. Ian menarik kursi untuknya.


"Terima kasih," lirih Luna. Ian tersenyum.


"Oh, ya. Mana Danar?" tanya mama tidak melihat batang hidung pria itu. Ian menoleh dengan terkejut. Ia lupa kalau ada Danar si rumah ini.


"Ada Danar di sini?" tanya Luna terkejut.


"Ya. Karena dini hari baru sampai sini, aku memintanya menginap. Kasihan kalau dia melanjutkan perjalanan pulang ke apartemennya," jelas Ian pada Luna.


"Sebentar saya panggilkan," kata bibi pengurus rumah.


Meksipun Danar sudah tahu kalau Luna dan Pak Ian adalah sepasang kekasih. Namun sepertinya ini baru pertama kali ia melihat Luna pagi-pagi seperti ini di meja makan keluarga Pak Ian.


"Pagi, Ibu." Danar muncul sambil memberi salam pada nyonya besar.


"Ya, pagi. Ayo sarapan pagi bersama-sama," ajak Mama Ian.


"Baik, Bu." Sebenarnya Danar canggung karena satu meja dengan beliau, tapi dia tidak bisa membantah permintaan ibu atasannya.


Mereka akhirnya sarapan pagi bersama. Setelah menunggu Elio berangkat ke sekolah, mama pun mulai bicara. Danar juga sudah tidak ada di meja makan.


"Sekarang karena kita sudah berada di sini bertiga, mama mau membicarakan hal penting," kata mama.


"Soal pernikahan Ian dan Luna, Ma?" Ian menyerobot.

__ADS_1


"Huh, kamu ini. Mama belum bicara apapun, kamu sudah mendahuluinya. Kamu keburu sekali," protes mama. Ian tersenyum. Luna jadi malu mendengar pria itu menggebu-gebu membicarakan pernikahan. Namun dia bahagia juga.


...______...


__ADS_2