
Luna tidak membeberkan soal Pak Ian yang memegang tangannya. Dia memilih bungkam. Itu rahasia.
"Apa kamu sekedar mau menggosip sekarang?" tanya Luna yang siap bekerja.
"Bukan. Aku hanya mau ngasih tahu. Puncak pesta ulang tahun perusahaan weekend ini, Lun." Karin memberi informasi.
"Oh, iya. Aku hampir lupa. Karena banyak hal yang datang, aku tidak ingat soal itu." Luna menepuk tangannya.
"Kamu datang sama siapa?"
"Ya sendiri. Kita bareng aja, ya ...," pinta Luna. Lebih tepatnya merengek.
"Enggak bisa Lun. Aku kan panitia. Datangnya ya mulai pagi. Kalau enggak ya ... mulai siang. Enggak apa-apa sih kalau mau ikut jadwal ku."
"Aduh, iya. Enggak mau lah datang awal begitu. Capek. Mending tidur dulu," kata Luna.
"Ya sudah. Eh, Lun. Handphone kamu baru ya?" tanya Karin seraya menunjuk ke ponsel di meja. Luna menunduk.
"Enggak." Kening Luna mengerut.
"Terus itu punya siapa? Kok ada dua?" tunjuk Karin.
"Pasti punya Pak Ian. Aku harus mengembalikan ini." Luna mengambil ponsel itu.
...***...
Luna mengetuk pintu ruangan Pak Ian. Tok! Tok! Samar-samar ia mendengar suara pria itu dari dalam menyuruhnya masuk. Pintu terbuka. Pria itu mendongak dan tersenyum.
“Oh, Luna. Masuklah.” Pak Ian langsung berdiri dan menyambut Luna dengan wajah cerah. Luna mengangguk sopan dan berjalan masuk. Ruangan pria ini sepi. Hanya ada pria ini sendirian.
“Nona Naura dan Pak Yuda tidak di sini, Pak?” tanya Luna heran. Seingat dia, pria ini menyuruh kekasihnya itu untuk menunggu di ruangannya. Namun ternyata di ruangan ini hanya ada Pak Ian sendiri.
“Tidak. Mereka sedang ada di ruangan Yuda yang baru.”
Ruangan Yuda yang baru? Apa itu? Luna baru mendengar itu.
“Duduklah. Kita akan bicara di sana,” tunjuk Pak Ian pada sofa di tengah ruangan.
__ADS_1
“Saya hanya mau menyerahkan handphone ini, Pak.” Luna menunjukkan ponsel di tangannya. Ia tidak ingin duduk. Karena pekerjaannya masih banyak. Bola mata Ian mengerjap.
“Handphone? Oh ya ...” Raut wajah Pak Ian terlihat biasa saja melihat ponselnya di tangan Luna. Tangannya menggaruk rahangnya yang tegas dengan pelan.
Padahal aku bermaksud kembali ke ruangannya dengan alasan mengambil handphone, batin Ian.
Luna menyodorkan handphone itu pada Pak Ian. Ia ingin segera kembali ke ruangannya.
“Duduklah dulu,” pinta Ian pada Luna. Pria ini mengabaikan sodoran Luna.
“Duduk? Saya ... “ Luna bermaksud menolak. Namun Pak Ian sudah membimbingnya untuk duduk di sofa. Luna tidak bisa menolak. Ia pun kembali memegang ponsel Pak Ian. Baru setelah duduk dengan nyaman, Luna menyerahkan kembali ponsel itu. Kali ini pria itu menerimanya.
“Bapak mau bicara soal apa?” tanya Luna.
“Tidak ada,” jawab Pak Ian mengejutkan.
“Tidak ada?” Bola mata Luna mengerjap. Ia sedikit kebingungan. Ian hanya diam melihat Luna keheranan. “Emm ... Kalau begitu saya bisa kembali ke ruangan saya?” tanya Luna.
“Diam dulu sejenak di sini.”
“Ah, iya. Terima kasih sudah mengembalikan handphone ku.” Ian tersenyum seraya menunjukkan ponselnya. Pria ini tidak benar-benar menjawab pertanyaan Luna.
Perempuan ini mencoba diam sejenak. Mungkin saja Pak Ian masih perlu basa-basi untuk membicarakan hal besar yang mungkin sebentar lagi di bicarakan.
Namun ternyata Pak Ian hanya diam seraya memandanginya. Bola mata Luna kembali mengerjap. Ia kebingungan. Gugup juga. Karena tanpa bicara apapun, pria di depannya ini menatapnya lurus. Hingga bola matanya harus mencari jalan kabur dari pandangan Pak Ian.
Ini lagi apa sih? Kontes diam? Kontes saling pandang? Kenapa Pak Ian hanya diam saja? Isshhh ... Kan aku gugup banget, nih.
“Emm ... Pak Ian. Kalau ... Sudah tidak ada yang mau dibicarakan, saya mau kembali ke ruangan. Saya masih ada pekerjaan. Jadi saya harus kembali ke ruangan segera untuk bekerja,” kata Luna memberanikan diri meminta untuk kembali ke ruangan. Namun bola matanya masih menunduk.
“Ada. Ada yang ingin aku bicarakan.” Ian langsung mengerjapkan mata dan mengusap dagunya. Melihat ke arah lain sebentar, kemudian kembali pada sosok perempuan di depannya.
“Ada apa, Pak?” tanya Luna lega karena akhirnya ada hal penting yang perlu ia lakukan di ruangan ini dari sekedar gugup karena di tatap oleh atasannya.
“Soal kamu yang gugup itu ... Sebenarnya karena apa?” tanya Ian. Luna yang tadinya berwajah serius kini agak melongo mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
“A-apa?” Luna menjadi gagap. Ia tidak menyangka pembicaraan Pak Ian adalah tentang hal itu.
“Aku sangat penasaran,” kata Ian yang berwajah biasa-biasa saja. Padahal orang yang di beri pertanyaan sudah berwajah terheran-heran.
“K-kenapa Pak Ian penasaran? Bukankah itu ... bukan hal penting, Pak?” Luna makin gugup. Tangannya sibuk menyentuh daun telinga.
“Bukan hal yang penting ya ...” Ian manggut-manggut. “Namun aku penasaran.” Ian bersikeras ingin tahu rupanya.
Apa?!!! Nih orang kenapa sih? Rengek Luna di dalam hati.
“Mm ... Itu ... Ten ... tentu saja saya gugup. Anda kan atasan saya.” Luna mulai menemukan jawaban untuk rasa penasaran pria ini. “Saat Anda datang ke ruangan saya, sebagai bawahan ... Saya memang gugup.”
Ian mendengarkan penjelasan Luna dengan kening berkerut.
“Jadi hanya itu?” tanya Ian yang sepertinya kurang puas dengan jawaban Luna.
“Y-ya. Hanya itu, Pak.” Luna mengangguk. Ayolah ... Aku mau kembali kerja. Banyak pekerjaan. Ian menatap Luna yang agak menunduk. Seperti menghindari tatapannya.
“Apa kamu juga akan gugup kalau bersama Yuda?”
“Apa?” tanya Luna terkejut. Saking terkejutnya, ia mendongak lagi-lagi dengan wajah heran.
“Mendengar cerita Yuda saat bertemu denganmu di depan rumah, sepertinya kalian sudah lama kenal. Apa hubungan kalian sebelumnya?” tanya Ian makin membuat Luna tidak bisa berkata-kata. Ia yang berpikir di awal kalau Pak Ian akan berbicara soal pekerjaan, kini tertegun karena ternyata pertanyaan itu sungguh pribadi.
“Kita hanya sekedar kenal saja,” jawab Luna setelah beberapa detik bengong.
“Sekedar kenal? Berarti kalian tidak dekat kan?” kejar Ian sangat ingin tahu.
“Tidak Pak,” jawab Luna tegas.
“Bagus,” timpal Ian. Pria ini mulia berwajah gembira. Bibirnya terangkat. Ia senang. Luna mengerjapkan mata melihat senyuman di bibir pria ini.
“Jadi ... Sekarang saya sudah bisa kembali ke ruangan saya?” tawar Luna lagi.
“Ya. Kamu bisa kembali ke ruangan kamu,” perintah Ian. Luna bisa menghela napas lega.
...______...
__ADS_1