
Ian mengikuti ajakan mamanya. Ternyata beliau menuju ke kamar Elio. Perlahan mama menggerakkan kenop pintu dan mendorongnya.
"Mendekatlah," pinta mama. "Lihatlah putramu yang tidur dengan lelap di sana." Mama Ian tetap berdiri di dekat pintu. Beliau mempersilakan Ian untuk masuk dan menghampiri Elio.
"Mama tidak ikut masuk?" tanya Ian.
"Mama sudah bersama dengan Elio sejak tadi," kata mama.
Ian berjalan mendekat ke ranjang. Namun ia terkejut saat melihat ada seorang perempuan berbaring di samping Elio. "Luna?" Bola mata Ian melebar karena melihat gadis ini ada di sini sekarang.
Mama yang sengaja tidak ikut mendekat karena ingin memberi surprise, tersenyum geli melihat Ian terheran-heran. Pria itu berulang kali melihat ke arah beliau dan gadis itu bergantian.
Rupanya Ian masih belum yakin kalau apa yang ia lihat benar. Mama akhirnya mendekat.
"Jangan berisik. Nanti mereka berdua bangun," bisik Mama. "Lebih baik kamu istirahat dulu. Besok pagi biar segar." Mama mengusulkan. Ian menatap Luna yang tidur terlelap dengan wajah polos. Tangannya yang memeluk Elio terlihat menggemaskan.
"Aku jadi tidak pergi kalau melihat ini," gumam Ian.
"Ian, ayo ke kamar mu sana." Mama mengusir putranya dengan suara pelan. Ian tersenyum.
"Iya, Ma."
**
Luna mengucek matanya saat bangun dari tidur. Dia lumayan terlelap tadi malam. Sekarang tubuhnya terasa fresh.
Di sampingnya, ada bocah gondrong Elio yang kakinya bersilang di perutnya.
"Hei, nih bocah. Kakinya sembarangan aja." Luna menurunkan kaki Elio dari perutnya. "Jangan bangun dulu. Tidur saja yang lelap ya. Aku masih capek di ajak main terus." Luna menepuk pantat bocah ini lembut. Lalu menciumnya dengan sayang. "Hhh ... bisa-bisanya aku tidur di rumah Pak Ian," keluh Luna sambil menggelengkan kepalanya.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Ini pertama kalinya ia bangun di dalam kamar milik orang lain. Saat itu dia melihat ada bayangan Pak Ian di depannya. Duduk dan tersenyum menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Dasar. Sekarang saja aku terbayang-bayang dengan pria tampan itu. Di tinggal sehari saja sudah rindu tidak karuan." Luna frustasi membayangkan itu. "Ayo, semangat. Besok dia sudah pulang. Tinggal sehari saja." Luna menyemangati dirinya sendiri. Ia bangun dan minum air di dalam botol yang sudah disediakan di meja.
"Aku tidak tahu kamu juga begitu merindukanku, Luna."
Mata Luna melirik sambil meneguk air. Tatapan itu terlihat tidak curiga. "Jadi khayalanku juga bisa bicara sendiri?" tanya Luna.
Astaga. Luna berpikir itu hanya khayalannya. Padahal Ian sejak pagi tadi sudah berada di kamar ini. Pria itu sengaja bangun pagi lalu membersihkan diri dan bergegas ke kamar putranya. Ia ingin segera menemui Luna. Namun karena melihat gadis ini tertidur dengan lelap, Ian tidak tega membangunkannya.
Ian tersenyum geli mendengar Luna bicara seperti itu. Luna mendekat dan menatap Ian lurus-lurus. Sikap yang tidak akan di lakukan Luna jika ia sadar bahwa apa yang ada di depannya adalah benar-benar Ian. Bukan tampilan dari khayalannya.
"Hei, tampan. Kenapa kamu muncul? Kamu tahu aku sedang rindu kamu ya?" tanya Luna melipat tangannya di depan Ian.
"Tentu saja karena aku juga merindukanmu, Luna."
"Gilak. Suaranya pun terasa nyata. Suara merdu ini sangat mirip dengan suara dia." Luna takjub merasakan khayalannya mirip kenyataan. Tangannya sampai perlu menutup mulutnya yang menganga.
"Terima kasih, memuji suaraku merdu Luna." Ian tersenyum geli. Pria ini masih mengikuti Luna yang terjebak dalam khayalannya.
Tentu saja Luna tidak merasakan apa-apa karena berpikir ini hanya khayalan saja. Namun berbeda bagi Ian. Melihat Luna mendekatkan tubuhnya sedekat ini, tubuh Ian langsung bergetar.
"Aku ini nyata, Luna," bisik Ian. Luna melebarkan mata seraya melirik. Ian pun menarik tengkuk Luna lembut dan mencium bibir itu dengan rakus.
Berasal dari rindu yang menumpuk, rasa cemas yang besar, juga hasrat yang timbul karena Luna salah paham mengira keberadaan Ian adalah khayalannya. Jadi gadis ini mendekat padanya tanpa perlindungan.
Setelah puas, Ian melepas ciumannya.
"Hhh, Hhh ..." Luna yang mendapat serangan mendadak mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "I ... an?" sebut Luna melebarkan mata tidak percaya. Dengan napas masih naik turun, ia berusaha sadar dari rasa terkejutnya.
"Ya, ini aku Luna. Aku nyata. Bukan hanya khayalan mu," bisik Ian.
"Ian!" Suara mama Ian terdengar dari luar pintu. Luna berjingkat kaget. Ia langsung mendorong tubuh Ian dan menjauh darinya. Pintu terbuka. "Ian ... kamu di sana?" tanya mama yang melongok dari balik pintu.
__ADS_1
"Iya, Ma?" Ian menyahut.
Mama menoleh ke arah Luna yang ternyata sudah bangun. Lalu melihat ke Ian lagi. Bola mata mama terlihat curiga. Apalagi saat melihat Luna terlihat panik dan gugup.
"Jangan menggangu Luna. Ini masih pagi. Jika Luna siap, kalian turun ke bawah. Mama mau bicara," kata mama.
"Baik, Ma," sahut Ian. Luna hanya mengangguk karena di dera rasa malu yang sangat. Setelah itu mama pergi dari sana.
Luna melirik Pak Ian. Dia meringis menyadari bahwa dia mungkin sudah melakukan hal yang kurang baik. Karena seharusnya ia bangun pagi dan langsung ke bawah melakukan sesuatu, tapi ternyata dia masih di dalam kamar berduaan dengan Ian. Itu terjadi bahkan sebelum mereka resmi sebagai sepasang suami istri.
"Kenapa mencium ku tadi?" tegur Luna.
"Karena kamu mendekat," jawab Ian jujur.
"Kenapa enggak jaga jarak? Kita kan di dalam rumah kamu. Lagipula mama ada di sini," kata Luna masih syok. Degup jantungnya masih kencang karena takut ketahuan mama juga rasa aneh yang menyenangkan saat bibirnya di sentuh oleh bibir pria ini.
"Jaga jarak? Bukannya kamu yang mendekati ku?" tanya Ian tenang. Ia tahu Luna masih syok.
"Aku kan mikirnya kamu bukan kenyataan," kata Luna membela diri.
"Ya, aku tahu itu." Ian tersenyum. Dia masih ingat tingkah Luna yang memperlakukan dirinya sebagai khayalannya saja.
"Jika tahu, seharusnya kamu tidak memanfaatkan keadaan begitu saja, Ian sayaaaanggg ..." Luna gemas. "Mama pasti tahu kita ngapa-ngapain. Aku kan malu." Luna masih tidak sanggup memikirkan bagaimana jika bertemu mama Ian nanti di bawah. Pasti malu setengah mati.
"Kita hanya berciuman," tegas Ian sengaja ingin menggoda Luna.
"Ih, itu bukan hanya." Luna masih syok. Ian langsung menyambar tubuh Luna hingga gadis ini jatuh ke atas pangkuannya.
"Iannn ..." Luna mendelik protes.
..._______...
__ADS_1