
"Terima kasih sudah memberitahu aku soal Yuda. Aku juga sudah mencari tahu tentang Yuda dan kecurigaan ku," kata Ian.
"Bapak sudah menduga kalau mereka sedang merencanakan sesuatu?" tanya Luna.
"Ya. Karena entah kenapa aku selalu gelisah saat bersama mereka. Namun Danar tidak bisa menemukan bukti."
"Bukti?" tanya Luna penasaran.
"Benar Luna. Karena rencana mereka ingin menguras hartaku lewat Naura, aku curiga surat wasiat yang memberitahu ku untuk menikahi Naura adalah bohong. Bahkan Elio pun sulit untuk dekat dengannya. Padahal Naura adalah pilihan istriku."
Benar. Seorang ibu pasti memilih yang terbaik untuk anaknya.
"Kalau begitu, biar saya yang mencoba mendekati Pak Yuda," kata Luna mengejutkan.
"Kamu? Tidak. Ini tidak ada hubungannya dengan mu. Kamu memberitahu aku saja aku sudah berterima kasih."
"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin saja saat saya yang mendekat, Pak Yuda tidak curiga," kata Luna.
"Tidak mungkin. Bukannya dia tahu kalau kamu itu bawahan ku?" tanya Ian masuk akal.
"Benar, tapi ada hal lain yang mungkin bisa di percaya Pak Yuda bahwa saya tidak memihak Pak Ian," kata Luna membuat Ian menyipitkan mata.
"Oh, ya? Apa itu?"
"Kita berdua pernah hampir saja menjalin hubungan asmara. Namun Pak Yuda menghilang tanpa kabar setelah menyatakan perasaannya," ujar Luna tanpa maksud apa-apa, tapi dia lupa kalau pria ini sudah menyatakan perasaannya.
Deg! Jantung Ian bagai di pukul dengan palu Godam.
"Kalian ... pernah dekat?" tanya Ian lambat. Kepala Luna mengangguk. Ian tertegun. Dirinya baru tahu soal ini. Berarti kedekatan mereka yang sempat tertangkap olehnya karena cerita masa lalu itu.
Luna mengerjapkan mata. Dia mulai sadar.
"Hanya begitu saja, tidak lebih," sahut Luna cepat. Dia jadi takut Pak Ian berpikiran macam-macam. Ian tersenyum kemudian.
"Jujur, aku sangat terkejut mendengarnya. Ini pertama kali aku tahu kalian punya cerita seperti itu. Aku ... cemburu," kata Ian tidak menutup-nutupi perasaannya.
Luna tidak bisa berkata-kata. Dia hanya tertegun. Dadanya berdebar.
"Kenapa Bapak jujur sekali?" tanya Luna akhirnya. Dia menunduk karena saat ini ia yakin saat bola mata mereka bertatapan, wajahnya memerah.
"Aku ingin kamu tahu isi hatiku apa adanya."
__ADS_1
Suasana hening.
"Jika begitu, segera saja selesaikan urusan dengan Naura," kata Luna juga jujur apa adanya. Wajahnya memerah. Ia malu.
"Kamu ingin aku segera menyelesaikan ini?"
"Tentu saja. Menurut Bapak, sampai mana saya bisa menunggu? Saya sendiri juga enggak yakin bisa menunggu Bapak atau tidak," kata Luna seperti sedang mengancam.
Gila. Kenapa aku mengancamnya? Apa aku sudah tidak tahan lagi untuk berpacaran dengannya?
"Aku suka sekali dengan ancaman itu," ujar Ian sambil tersenyum. "Itu menandakan dirimu ingin sekali menjadi milikku."
Blush!
Benar. Kalimat itu langsung membuat Luna memerah. Pak Ian tidak salah. Sepertinya dirinya ingin sekali menjadi kekasih pria ini.
"Jika seperti itu, aku semangat sekali ingin menyelesaikan perkara ini dan segera melamar kamu," ujar Ian mengatakan kalimat yang manis.
Oh, dunia memang indah. Luna tidak bisa membayangkan lagi hari lain selain sekarang. Aku suka kamu, Pak!
Ian yang tadi cemburu, kini kembali tersenyum berkat Luna. Ia senang dengan antusiasme perempuan ini padanya. Meski mereka belum bisa menjadi sepasang kekasih seutuhnya, sepertinya jalan ke depan sudah terbentang dengan red karpet. Hanya saja tinggal menunggu waktunya saja.
Luna diam. Sepertinya perempuan ini belum kembali ke dunia nyata karena masih terbuai dengan kalimat Ian.
"Luna ..." panggil Ian pelan. Ia tahu Nami sedang bengong.
"I, iya Pak," jawab Luna terkejut.
"Kamu lelah ya? Pasti belum makan, tapi langsung menemuiku untuk memberitahu soal Yuda." Ian baru sadar. "Maafkan aku. Sebaiknya kita makan malam saja." Ian bergegas membereskan mejanya. Namun ponselnya berdering.
"Halo Elio."
Oh bocah itu. Lama enggak jumpa. Jadi kangen.
"Papa mau meeting. Ya ... kamu bisa tidur dulu. Tante Luna?" Bola mata Ian melirik ke arah Luna. "Enggak ada. Papa tidak bersama Tante Luna. Ya. Besok bisa bicara sama Tante Luna."
Klik! Luna tertegun. Masih ingat dengan jelas kalau Pak Ian mengatakan tidak ada dirinya saat ini, di ruangan ini. Apa maksud Pak Ian?
"Ehem," deham Ian karena Luan bengong. "Kamu pasti lapar kan? Ayo kita makan di luar."
"Makan? Emm ... bisa makan di sini saja Pak?" tawar Luna seenaknya.
__ADS_1
**
Sungguh di luar dugaan, pria ini sangat setuju makan malam di ruangannya. Tanpa menunggu lama lagi, Pak Ian memesan banyak makanan.
"Kenapa Bapak memesan ini semua?" tanya Luna tidak percaya.
"Aku tidak tahu apa yang jadi kesukaanmu. Jadi aku memesan banyak menu. Kamu tidak suka?" tanya Ian cemas.
"Bukan. Saya bukan tidak mau, Pak. Saya takut saya khilaf dan memakan semuanya. karena saya tidak pilih-pilih makanan," kata Luna takjub melihat banyak makanan di atas meja. Dan Luna yakin ada banyak makanan yang belum ia makan.
Ian tergelak mendengar jawaban Luna.
"Syukurlah. Aku cemas kamu enggak mau."
"Saya kan orang miskin, Pak. Makanan yang seperti ini belum bisa aku beli, jadi saat dapat gratis tentu saja saya mau," ungkap Luna jujur.
"Ya, ya. Makan saja yang banyak."
"Siap," kata Luna. Tanpa di suruh pun, Luna akan makan yang banyak. "Bapak enggak makan?" tanya Luna yang menyadari bahwa Pak Ian sejak tadi diam.
"Makan, tapi aku lebih senang melihat kamu yang makan dengan lahap," ucap Ian. Klise, tapi mampu bikin hati Luna jedag-jedug.
"Kalau ada Elio, makin ramai ya ..." Tiba-tiba saja Luna membicarakan Elio. Itu karena dia salah tingkah. Lalu Luna memilih minum jus di dekatnya untuk mengusir gugup. "Kenapa tadi Pak Ian bilang kalau enggak ada saya, Pak? Padahal kan saya ada di sini," tanya Luna menemukan pertanyaan yang akhirnya nyambung sama kalimat dadakannya barusan.
"Ya. Karena aku enggak mau Elio menganggu ku," jawab Ian lugas.
"Mengganggu? Mengganggu gimana, Pak?" tanya Luna. Ian menurunkan padangan lurus ke arah Luna. Tiba-tiba saja tangannya terulur menyentuh ujung bibir Luna yang ada cipratan jus yang ia minum tadi. Luna mendelik mendapat perlakuan itu.
"Karena kalau ada Elio, dia akan terus berada di dekatmu. Kamu juga akan sibuk menemani dia bermain. Jadi waktu untuk aku sedikit. Aku tidak mau itu, Luna."
Bahkan Pak Ian mendekatkan wajahnya. Lalu mengecup bibir Luna pelan setelah mengatakan itu.
"Aku hanya ingin berdua denganmu saja, Luna."
Ini serangan kedua atau bahkan kesekian kalinya yang membuat hati, jantung dan isi dalam tubuh Luna berantakan. Dada Luna bergemuruh, berdebar. Jantungnya berdetak kencang dan berisik.
fix! Luna bisa mati bahagia sekarang!
...______...
__ADS_1