Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 79


__ADS_3

Mereka tiba di dapur. Bibi pengurus rumah tersenyum pada Luna.


Dapur? Kenapa langsung mengajak aku ke dapur? Apa aku akan di ajari cara memasak? Gawat. Ini semacam ujian ya ...


Mama Ian menghampiri bibi pengurus rumah. Saat mereka berbincang di dekat meja dapur, Luna menyempatkan diri mengirim pesan pada Ian.


"Ian sayang. Aku ada di rumah kamu malam ini. Mama mengundang aku." Klik. Pesan terkirim. Lalu Luna segera menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku.


"Bi? Semua sudah siap?" tanya beliau pada bibi pengurus rumah.


"Sudah Bu."


"Bawa semuanya ke meja," perintah mama Ian. Bibi itu mengangguk dan melakukan apa yang di katakan beliau. Setelah itu mama Ian mendekati Luna lagi. "Duduklah, Luna," pinta mama Ian. Gadis ini duduk perlahan di kursi ruang makan.


Bibi pengasuh membawa beberapa makanan. Lalu di taruh di atas meja makan. Luna mengedipkan mata heran.


Kenapa mama meminta bibi mengeluarkan makanan? tanya Luna bingung. Mungkin karena dalam situasi tertekan, dugaan sederhanapun tidak bisa di pikirkan oleh Luna. Ia hanya bingung dan tegang.


"Kamu pasti lelah karena pulang dari kerja. Jadi makan malam dulu sebelum kita bicara banyak," kata mama Ian mengejutkan. Luna melebarkan matanya sekilas. "Ayo, makanlah."


Jadi semua ini untuk aku makan malam? Luna melihat ke makanan di atas meja yang si sediakan bibi pengurus dengan tidak percaya.


"Kenapa diam saja? Kamu kurang suka dengan makanannya?" tanya beliau membuat Luna terkejut dan merasa tidak enak.


"Bukan. Bukan Tante," bantah Luna. Padahal dia hanya sedang terkejut dan hampir tidak percaya kalau mama Pak Ian sedang bersikap baik padanya. Sungguh aneh perlakuan ini karena pertemuan pertama mereka tidak berakhir dengan baik.


"Seperti putraku Ian, habis pulang kerja dia pasti lapar. Jadi Tante yakin kamu juga seperti itu," jelas mama Ian sungguh di luar dugaan. "Ayo makan." Mama Ian sampai mengambilkan piring untuk gadis ini.


"Jangan repot-repot. Saya akan makan. Saya bisa mengambil piring sendiri." Luna merasa tidak nyaman.


"Tidak apa-apa. Jangan sungkan. Kalau begitu aku juga akan makan," kata mama Ian. "Bi, ambilkan piring satu lagi."


"Ya, Buk." Bibi pengurus rumah memberikan piring pada beliau.

__ADS_1


"Jangan lupa tolong kupas buah yang tadi Luna bawa," kata mama Ian. Bibi mengangguk. Mama Ian pun mengambil nasi dan lauknya. Namun dalam porsi yang sedikit. Mungkin beliau sudah makan. Jadi untuk menemani Luna yang canggung, beliau akan makan sedikit.


Ada aura positif sedang menyelimuti perempuan paruh baya ini. Sorot mata dan cara bicara beliau sungguh berbeda dengan yang ia rasakan saat pertama bertemu.


Ini sedikit ... lebih lembut daripada waktu itu. Tidak. Bahkan jauh berbeda dengan yang aku bayangkan.


"Aku mungkin terlalu tidak ingin mengurusi putraku karena Ian ingin mengikuti surat wasiat yang di tinggalkan oleh Mina. Kamu tahu dia istri Ian yang meninggal bukan?"


"Ya saya tahu."


"Namun nyatanya model itu bukanlah perempuan baik. Karena ternyata di belakang Ian dia bertingkah. Seolah dirinya adalah Nyonya besar padahal belum menjadi istri sah putraku," ujar mama Ian bercerita banyak. Rupanya tingkah Naura yang buruk sudah ketahuan oleh calon mertuanya.


"Kabarnya kalian akan menikah bukan?" tanya mama Ian. Luna menganggukkan kepala ragu. Ia tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Perubahan sikap mama Ian yang drastis sangat membuatnya ragu dan tidak percaya.


"Abaikan jika pertemuan pertama kita memberi kesan buruk. Seorang ibu pasti akan memikirkan banyak hal saat putra memilih pasangan sebagai istri."


"Saya mengerti." Ya, Luna berusaha mengerti meksipun nyatanya dia amburadul beberapa hari karena tekanan dari calon mertua.


"Tante dengar soal Elio yang kabur."


"Terima kasih sudah baik pada cucuku." Sorot mata mama Ian tulus mengatakannya. "Setelah makan malam selesai, kamu bisa menemuinya. Kalau tadi kamu langsung menemui Elio, tidak akan ada kesempatan bicara seperti ini. Karena bocah itu akan terus menempel padamu. Juga karena habis pulang kerja, kamu pasti sangat lelah."


Jadi tadi sengaja diam saat lewat di depan kamar Elio, adalah upaya agar aku tidak terganggu saat makan malam? Juga karena beliau ingin bicara banyak denganku? Aku telah salah sangka. Aku pikir beliau begitu karena tidak ingin cucunya dekat denganku.


Pun beliau tahu bahwa pulang kerja itu melelahkan, jadi beliau membiarkan aku santai dulu tanpa adanya gangguan dari bocah gondrong yang akan terus merengek untuk main.


"Baik-baiklah pada putraku. Karena dia hanya satu-satunya, aku tidak akan memaafkan kamu jika menyakitinya," ucap mama Ian mengejutkan. Raut wajahnya sempat terlihat serius.


"B-baik Tante." Karena begitu mendadak, Luna jadi gugup lagi.


"Pertama aku harus merubah panggilan itu. Jangan panggil Tante. Kamu boleh memanggilku mama," ujar beliau.


"B-bolehkah?"

__ADS_1


"Ya." Beliau tersenyum.


Apakah ini mimpi?


**


Setelah selesai makan, Mereka menuju kamar Elio.


"Elio," sapa mama Ian.


"Oma. Ada apa?" tanya Elio sedang menaiki undakan perosotannya. Bibi pengasuh menoleh dan melongok. Beliau tersenyum saya melihat Luna ada di balik punggung nyonya besar.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata beliau.


"Siapa Oma?" tanya Elio.


"Orang kesayanganmu." Mama Ian menggeser tubuhnya dan memperlihatkan keberadaan Luna.


"Tante Luna?!" seru Elio. Dia langsung meluncur turun dari perosotan dengan cepat. Lalu berlari menghampiri Luna dan memeluknya. "Ini kejutan! Padahal papa sedang kerja jauh, tapi Tante muncul di sini." Elio merasa ini sebuah kejutan yang menyenangkan.


"Iya, Tante di undang sama Oma." Luna menunjuk mama Ian dengan tatapannya.


"Oh, ya? Wahhh ... Terima kasih Oma." Elio melepas pelukan Luna dan memeluk neneknya.


"Waduh segitu senangnya cucu Oma ini." Mama Ian mengelus kepala bocah ini.


"Iya. Sudah. Aku mau main sama Tante dulu." Namun secepatnya Elio berpindah pada Luna lagi.


Betul dugaan mama Ian, tidak akan ada kesempatan mereka bicara berdua kalau Elio tahu Luna datang. Lihat saja sekarang. Bocah ini terus saja menyuruhnya menemani bermain.


Namun tidak apa-apa. Karena semuanya berjalan dengan baik. Orang yang paling membuatnya amburadul karena takut tidak merestui hubungannya dengan Pak Ian sudah mencair. Entah karena hal apa, beliau terlihat lembut padanya.


Sementara itu, di tempat Ian berada. Sejak tadi ia belum membaca pesan dari Luna.

__ADS_1


"Ada pesan dari Luna." Ian terkejut saat menyadari ada pesan dari gadis itu. Setelah membersihkan diri, ia duduk dan mulai membaca pesan singkat dari Luna. "Apa?! Dia ada di rumah sekarang?"


..._____...


__ADS_2