
Saat ponselnya bergetar, Luna berhenti. "Tunggu, Rin. Sepertinya Pak Ian telepon ini," kata Luna yang mau jalan ke meja kasir.
"Uang," tagih Karin. Luna menyerahkan uang. "Kamu terima teleponnya, aku yang bayar ke kasir," kata Karin memberi usul.
"Oke," sahut Luna. Karin ke meja kasir sementara dia mengambil ponsel dari sakunya. Saat melihat layar ponsel, dia tidak menemukan nama Ian. Namun ada nomor tidak di kenal di sana. Siapa?
Karena penasaran, Luna mau menerimanya.
"Halo selamat malam," sapa Luna. Suaranya tetap di jaga sopan dan lembut.
"Malam. Ini Luna?" tanya suara di seberang. Suara perempuan! Tidak ada pikiran siapa di balik suara perempuan di seberang.
"Ini siapa?" tanya Luna dengan menjaga suara tetap sopan dan halus. Karena ia masih belum tahu itu siapa.
"Ini mama, Luna."
Mama? Mama siapa? Luna bingung. Suaranya tercekat di bibir tidak meluncur dengan mulus.
"Ini mama Ian. Oma-nya Elio."
What?! Mama Pak Ian? Luna menoleh pada Karin yang membayar belanjaan di kasir.
"I-iya, Tante. Ada apa?" tanya Luna langsung tanggap. Tanpa di sadari tubuhnya ikut berdiri tegak dengan sempurna saat bicara dengan mama Ian di telepon. Seakan-akan ada orangnya berdiri di depannya.
"Kamu sudah pulang kerja, kan?"
"Iya. Ini mau pulang," bohong Luna.
"Bisa kamu datang ke sini? Supir mama yang menjemput jika kamu kesulitan naik kendaraan," kata mama memintanya datang.
"Datang?" tanya Luna terkejut.
"Benar. Kamu ada waktu luang kan sekarang?" Suara di sana masih sama seperti tadi. Tegas tapi lembut.
"Ya. Saya ada waktu luang," ujar Luna segera menyanggupi. Karin yang sudah menyelesaikan pembayaran mendekat pada Luna.
"Siapa?" tanya Karin. Luna meletakkan jarinya di depan bibir. Meminta Karin untuk mengecilkan suaranya. Melihat ini, Karin yakin itu orang penting. Siapa?
"Aku akan meminta supir rumah jemput kamu di kantor," kata mama Ian.
"Tidak, Tante. Biar saya saya sendiri saja yang berangkat ke sana."
"Oh, baiklah kalau begitu. Di tunggu ya ..." Klik.
"Aduh gawat," keluh Luna langsung panik.
"Siapa Lun?" tanya Karin.
__ADS_1
"Mamanya Pak Ian." Wajah Luna masih menunjukkan wajah horor.
"Mama? Camer?" tanya Karin terkejut. Luna mengangguk. "Lalu?"
"Dia ingin aku ke rumah keluarga Pak Ian."
"Bukannya Pak Ian keluar kota?"
"Memang. Makanya itu aku agak takut buat kesana."
"Kamu menolak?" tanya Karin sedikit terkejut.
"Tentu saja tidak. Bisa buruk nasibku nanti."
"Oke. Jadi kita gagal nih buat ngobrol sampai ngantuk?"
"Sori Rin."
"Enggak apa-apa. Lalu kamu gimana?"
"Aku minta antarin kamu ke rumah pak Ian."
"Enggak pulang dulu buat ganti baju atau gimana?"
"Enggak. Aku bilang masih di kantor. Bahkan camer mau nyuruh sopir buat jemput aku."
"Benarkah? Perhatian sekali. Tumben. Bukannya camer kurang respek sama kamu?"
"Jadi langsung kesana ini?"
"Iya dong."
"Kamu enggak bawa oleh-oleh Lun?" Karin mengingatkan.
"Aduh iya. Nyari apa ya. Eh beli apel dan anggur saja di dalam." Luna ingat kalau mama Ian suka buah.
"Yang tadi kita beli?" tanya Karin.
"Enggak. Itu seiprit, Rin. Itu buat kamu aja. Aku mau beli lagi," kata Luna.
"Benarkah? Terima kasih cintaaaa ..." Karin memeluk Luna. Mereka pun kembali masuk hingga keluar lagi membawa dua kresek belanjaan.
"Wahh ... Kamu hebat." Karin memberikan dua jempolnya pada Luna saat melihat plastik
"Bukankah kamu bilang aku harus berjuang?"
"Betul. Memang harus begitu. Ayo. Aku antar ke rumah Pak Ian." Karin ikut menyemangati temannya. Dia sangat mendukung Luna dengan Pak Ian. Karena dengan begitu, mungkin juga keberuntungan juga datang padanya.
__ADS_1
**
Setelah sampai di depan rumah Pak Ian, Karin pamit pulang. Luna masuk sendiri setelah menyapa satpam yang ada di depan. Bibi pengurus rumah terlihat berjalan mondar-mandir di depan pintu.
"Bi," sapa Luna.
"Aduh non. Saya pikir Anda enggak bakalan datang." Bibi pengurus segera mendekati Luna. "Ibu sudah menunggu sejak tadi."
"Iya?" Luna terkejut. Dia ikut berjalan agak cepat untuk masuk ke dalam rumah.
"Non Luna datang, Bu." Bibi memberi tahu saat mereka sampai di ruang tengah. Mama Ian yang sedang nonton tv menoleh.
"Oh, Luna. Kamu sudah datang?" tanya mama Ian perlahan mulai berdiri.
"I-iya. Maaf saya agak lama karena ..." Luna berusaha mencari kata yang tepat. Bola mata mama Ian melihat ke arah tas kresek yang di pegang Luna.
"Kamu membawa itu untuk Elio?" tanya beliau dengan suara rendah penuh wibawa. Luna melirik ke arah tas kresek yang dipegangnya.
"Oh, bukan. Ini untuk Tante." Luna menyodorkan kresek itu pada Mama Ian dengan perasaan mencoba berani.
"Untukku?" Beliau menjulurkan tangan untuk menerima oleh-oleh dari Luna.
"Ya, sedikit buah untuk Tante." Luna mengangguk. Mama Ian melirik isi kresek.
"Terima kasih. Bawa ke belakang, Bi."
"Baik, Bu." Bibi pengurus ke belakang.
"Ayo kita juga ke belakang," ajak beliau.
"Ah, iya." Luna mengikuti perempuan itu di belakangnya. Dia tidak tahu mau kemana. Mereka melewati pintu kamar si bocah gondrong yang terbuka sedikit. Luna pikir bahwa mereka akan menemui Elio. Namun nyatanya tidak. Kaki mama Ian terus melangkah tanpa berhenti sama sekali di sana.
Aku mau di bawa kemana? tanya Luna dalam hati. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang sedang di rencanakan perempuan yang melahirkan Pak Ian ini. Dia hanya mengikuti tanpa banyak tanya.
"Lebih baik segera ke belakang sebelum Elio tahu kamu ada di sini," kata mama Ian. Luna mengerjapkan mata. Rupanya beliau tidak ingin bocah itu tahu kedatangan Luna. Beliau seperti menjauhkan Luna dari bocah itu.
Ah, ya. Aku pasti di jauhkan karena mama Pak Ian tidak mau aku dekat dengan Elio. Hhh ... Tidak apa-apa, Luna. Sabar, sabar. Menjadi istri Pak Ian adalah kesempatan langkah. Kamu harus berjuang dengan lebih keras untuk mendapatkannya.
"Pasti pekerjaan banyak hari ini karena ini hari Senin," kata mama Ian. Luna tersenyum seraya mengangguk. "Bagaimana orang-orang di sana setelah tahu kamu adalah kekasih putraku?"
"Ya?" Pertanyaan yang mengejutkan sampai membuat Luna tidak bisa langsung menjawab.
"Putraku seorang CEO. Dia juga pemilik perusahaan. Apa tidak ada orang-orang yang menggunjing di belakang kalian?" tanya beliau sambil menoleh sekilas ke samping. Seperti ingin Luna mendengar dengan jelas pertanyaannya.
"Itu ..." Luna bingung mau menjawab.
"Ah sudahlah," potong beliau memutuskan. Sepertinya melihat Luna menjawab saja beliau sudah tahu.
__ADS_1
...____...