Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 72


__ADS_3

Ponsel Ian di atas meja berdering. Ian mengambil ponsel dan melihat ke arah layar.


"Sebentar Luna, Ma. Aku harus menerima telepon ini dulu." Ian berdiri dan menjauh dari mereka. Tidak begitu jauh karena Luna masih bisa melihat sosoknya. Pria itu sedang bicara di telepon. Sepertinya agak serius.


"Jadi kamu bukan Naura model cantik itu ya?" tanya mama yang sejak tadi memperhatikan Luna.


"Ya. Bukan," sahut Luna sambil menoleh dengan cepat. Dia sempat hanya memandang Ian.


"Aku sudah tahu wajah kekasih Ian itu, tapi belum jelas karena hanya sekali bertemu," cerita nyonya ini. Luna mendengarkan dan mengangguk. Rupanya mama Ian belum mengenal Naura lebih jauh. Mungkin Ian sempat ragu untuk menjadikan wanita itu pendampingnya atau tidak. "Aku juga baru dengar kalau Ian punya kekasih baru. Lalu kamu tinggal di mana?" tanya beliau membuat Luna cemas.


Interogasi akan di mulai. Oh, tidak. Melodrama tentang gadis dan calon mertuanya yang biasanya di tonton Bi Muti akan terjadi padaku.


"Saya tinggal di rumah kontrak," jelas Luna dengan rasa takut yang di tahan.


"Oh, ngontrak ..." Mama Ian mengangguk-anggukkan kepala. Beliau melirik pada Ian yang berjalan agak menjauh dari tempat mereka duduk. Lalu membuka pintu dan keluar. Ian bicara tepat di depan pintu. "Apa yang di sukai Ian dari kamu?"


Deg! Pertanyaan ini begitu lugas tanpa basa-basi.


"Itu ..."


"Kamu tidak bisa menjawab?" tanya mama Ian sambil bersandar pada badan kursi. Lalu mendengus tipis seraya melihat ke arah lain.


"Maaf. Saya tidak bisa menilai diri saya sendiri. Karena apa yang saya pikir seringkali tidak sama dengan apa mereka pikir."


"Jadi menurut kamu, kamu itu perempuan baik?"


Apa ini? Pertanyaan apa ini? Luna merasakan tenggorakannya sakit tiba-tiba saat menelan ludah dengan samar.


"Jika salah satu yang di katakan baik itu adalah tidak menipu, ya. Mungkin saya perempuan baik karena tidak menipu seseorang. Baik menurut satu persatu orang itu berbeda, Bu. Maaf kalau saya lancang." Luna seperti mendapat pertanyaan ujian esai yang sulit dan menjebak. Namun harus di jawab entah bisa atau tidak.


Mama Ian diam seraya tetap memperhatikan Luna.

__ADS_1


"Dia putraku satu-satunya. Aku tidak bisa membiarkan seseorang menghancurkan dia dari dalam dan luar," kata mama Ian serius. Sampai-sampai beliau mencondongkan tubuhnya pada Luna. Seperti tidak ingin Ian yang berada di dekat pintu mendengar kata-katanya.


Seandainya beliau tahu bahwa menantunya dulu sudah mengkhianati putranya sedemikian rupa, apa kata-kata barusan masih patut di ucapkan seperti sebuah ancaman? Karena perjodohan yang di tawarkan orang tuanyalah yang justru menyakiti Ian.


Ini bukan lagi sebuah interogasi. Aku sedang di serang oleh calon mertua dengan pertanyaan menjebak dan sulit. Sepertinya jawaban masuk akal lebih baik.


"Saya mengerti, tapi maaf jika kemampuan saya tidak sebesar harapan Anda," kata Luna logis. Dia yang menjadi anak orang miskin mana bisa mengabulkan harapan orangtua kaya seperti keluarga Ian. Bila di katakan sanggup, mana mungkin?


"Oh, begitu ya ..." Perempuan paruh baya di depannya mengangguk lagi. "Lagipula putraku itu duda. Dia bukan lagi lajang yang hanya mengenal cinta. Anggap saja dia sudah mahir dalam berumah tangga. Jadi aku rasa, seharusnya perempuan yang jadi istrinya itu mahir juga dalam menjadi seorang istri. Ian tidak bisa lagi mengajari calon istri, dia butuh pendamping yang bisa belajar cepat menempatkan diri."


Pembicaraan berat apa ini? Baru saja bertemu langsung membahas hal seberat ini. Atmosfir sekitar terasa makin sesak.


Luna hanya bisa menganggukkan kepala. Bukan mengerti, hanya ingin menunjukkan bahwa ia mendengarkan lawan bicaranya dengan baik.


Sulit. Susah. Tidak ku sangka bertemu dengan mertua itu sesulit ini. Terserahlah.


Ian berjalan mendekat. Mungkin mama Ian masih ingin bicara lagi, tapi urung melihat putranya sudah selesai bicara di telepon.


"Kalian sudah mengobrol kan?" tanya Ian yang merasa ada yang janggal.


"Kita ajak Luna makan siang ya Ma. Ian juga belum makan habis main sama Elio tadi.


**


Petang hari di rumah Luna.


Luna menekan remot tv dengan malas. Suara pintu terbuka membuat Luna menoleh sekilas. Bi Muti membawa piring berisikan gorengan.


"Bibi bawakan gorengan. Enak ini masih hangat."


"Ya, Bibi taruh aja di meja," sahut Luna masih dengan gaya malas. Bibi melirik Luna sambil meletakkan piring di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa mukanya kok begitu?" tanya Bi Muti yang merasa Luna tidak bersemangat. "Kan sekarang sudah resmi jadi kekasihnya Pak Ian yang tampan itu." Bi Muti bermaksud mengubah suasana suram menjadi ceria dengan berkelakar. Namun hasilnya hanya sebuah senyuman tipis tanpa gairah dari bibir Luna.


"Ayo cerita ada apa?" Bi Muti menepuk pantat Luna. Gadis ini pun beringsut untuk duduk. Lalu Bi Muti duduk di sampingnya. "Pasti ada hal penting dan membuatmu kepikiran sampai seperti ini." Bi Muti menyerahkan guling Luna yang terjatuh. Gadis itu memeluknya erat.


"Iya."


"Apa itu? Tadi katanya habis dari rumah Pak Ian."


"Ya, benar."


"Ada apa di sana? Terjadi sesuatu?" Bi Muti menanyai dengan sabar.


"Karena aku datang ke rumah Pak Ian tanpa kabar, akhirnya aku pun di beri kejutan juga."


"Apa?" tanya Bi Muti antusias. Luna menoleh dengan wajah datar.


"Ini bukan kejutan yang menggembirakan Bi. Aku bertemu mama Pak Ian di sana."


"Calon mertua kamu?" tanya Bi Muti membuat Luna mendengus. Entah kenapa mendengar kata mertua terasa begitu tinggi tidak tergapai. "Lalu bagaimana? Apa kamu langsung di usir?" tanya Bi Muti ekstrim.


"Tidak begitu juga Bi." Luna melotot. Dia tahu Bi Muti pasti punya gambaran lewat sinetron yang biasa beliau lihat di saluran televisi.


"Oh, lalu? Katamu itu bukan kejutan yang menyenangkan?"


"Memang, tapi enggak langsung di usir. Mama Pak Ian mempersilakan aku masuk. Ya meski ada sedikit paksaan dari Pak Ian," cerita Luna. Bi Muti pun mencoba bersandar dengan nyaman demi mendengar kelanjutan cerita dari Luna. "Bibi malah seperti mau nonton drama nyari posisi enak," tegur Luna.


"Iya dong Lun. Sudah lanjut cerita," kata Bi Muti. Luna pun menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir obrolan dengan mama Pak Ian. "Sepertinya agak berat ya, menghadapi orangtua Pak Ian."


"Bukan agak Bi. Ini beraattt." Lun mengatakan dengan berlebihan.


"Tapi namanya orangtua, pasti ingin anaknya dapat yang terbaik, Lun," kata bibi maklum.

__ADS_1


"Aku protes soal itu," tukas Luna dengan wajah marah.


...______...


__ADS_2