
Pesta ulang tahun perusahaan. Luna, Ian dan Danar sepakat untuk bersandiwara demi mendapatkan akses ke rumah Yuda. Karena surat wasiat tidak ada di dalam kantor baru pria itu di perusahaan, mereka berencana mencari sampai ke apartemen pria ini.
Degup jantung Ian berdetak kencang. Manik matanya tidak berhenti memandang pada perempuan itu. Ya. Dia Luna. Perempuan yang menawan hatinya. Yang juga di sukai putra semata wayangnya, Elio.
Namun seketika rasa bahagia yang penuh cinta itu musnah tatkala Ian melihat tangan Luna di pegang oleh Yuda.
Apa yang mereka lakukan? Apa yang sedang dilakukan Yuda pada Luna? tanya Ian marah di dalam hati. Ia terus saja melihat mereka dengan aura menggelap di sekitarnya.
Danar yang sejak tadi memperhatikan Ian menyadari amarah ini. Ia berdecak kesal. Jika Pak Ian marah semua akan kacau.
Semoga saja Pak Ian bisa menahan emosinya. Dia harus sadar ini adalah sebuah sandiwara. Ingatlah Pak. Ingatlah. Danar merapal kalimat itu berulang kali di dalam hati.
"Tunggu. Bukankah itu Luna, karyawan mu?" sebut Naura yang baru sadar kalau wanita yang dia sebut cantik itu adalah staff keuangan yang tidak disukainya. Ian diam. "Itu benar kan, Ian?" tanya Naura ingin memastikan.
Ian masih tidak menjawab. Ian masih diam. Naura mengoceh sendiri karena merasa takjub, tapi dia juga tidak ingin mengakui.
"Ya, dia memang Luna," sahut Ian akhirnya.
Naura yang mulai bisa menguasai diri dari rasa terkejutnya, pun tersenyum sinis pada akhirnya.
"Kenapa? Kamu terkejut dia bisa jadi cantik?" tegur Ian mengejutkan.
"Emmm ... Karyawan mu oke juga jika di dandani seperti itu. Wajar saja Yuda terlihat ingin mendekatinya. Dasar pria, lihat wanita cantik sedikit saja langsung di serbu. Padahal tampilan Luna terlihat biasa saja," dengus Naura sambil menggandeng lengan Ian.
Namun bagi Ian itu seperti bagai minyak yang siap menyiram api agar makin besar. Ia. mengambil minuman. Beralkohol yang di bawa oleh petugas catering. Ia meneguknya dengan cepat. Rasa marah membuatnya ingin minum alkohol.
"Kamu ingin mabuk dalam pesta ini, Ian?" tanya Naura heran. Karena ia jarang melihat Ian minum alkohol. Jadi ia yakin daya tahan tubuh Ian terhadap alkohol pasti lemah. Ian hanya melirik tajam sebentar. Naura menghela napas. Karena di matanya itu seperti kalimat, 'Diam'.
Ponsel Naura berdering. Itu dari pria yang berkencan dengannya. Naura mengabaikan. Karena ia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya. Ia ingin fokus pada pernikahan ini. Menurutnya ia tidak merugi jika harus menikah dengan Ian. Pria ini kaya dan tampan. Meksipun ia harus berkorban menjadi ibu sambung bocah nakal itu.
Ian yang masih memandang ke arah Luna menoleh ke samping.
"Bisa kau hentikan dering itu? Kepalaku pusing mendengarnya," ujar Ian penuh amarah. Naura terkejut. Tidak biasanya pria ini berkata kasar seperti ini. Makanya dia sedikit panik dan hendak mematikan ponselnya. Namun sungguh mengejutkan saat ada pesan dari pria yang seorang di kencaninya itu.
"Aku permisi sebentar Ian. Pihak agensi meneleponku, sepertinya penting." Naura berbohong. Ian tidak peduli dan membiarkan model ini pergi.
__ADS_1
Luna yang tadi berniat menerima uluran tangan Yuda karena keadaan, masih tetap membiarkan tangannya di pegang. Namun setelah sampai pada lantai pesta yang datar ia meminta Yuda melepaskan tangannya.
"Bisa lepaskan tanganku? Jalannya sudah datar, tidak ada undakan lagi," kata Luna.
"Oh, ya." Yuda patuh dan melepas tangan perempuan ini. "Itu Ian. Sebaiknya kita bergabung di sana."
Pria itu sedang memperhatikannya. Ian tengah menatapnya tajam.
Apakah Pak Ian sudah memperhatikan aku sejak tadi? Sejak Yuda memegangi tanganku? tanya Luna cemas.
Ia menoleh pada Danar untuk bertanya keadaan Pak Ian.
Akhirnya kamu sadar juga Luna, kalau pria ini akan meledak! Danar merasa lega sekaligus tidak. Mungkin ia senang kalau pada akhirnya Luna bisa menyadari aura menggelap atasannya.
Danar memberi kode bahwa pria ini marah besar.
"Oh, tidak," celetuk Luna spontan. Dia terkejut mendapat informasi kalau Pak Ian akan meledak.
"Ada apa, Luna?" tanya Yuda.
"Kenapa kamu terkejut barusan?"
Oh, pasti Yuda mendengar aku terkejut melihat Pak Ian marah. "Tidak. Tidak apa-apa. Mungkin karena sepatuku. Kakiku sakit memakai high heel," kata Luna sambil tersenyum.
Luna bermaksud mencari alasan. Namun sungguh mengejutkan kalau pria ini ternyata menanggapi dengan serius apa yang di katakannya. Bahkan Yuda merundukkan tubuh dan jongkok untuk melihat keadaan kakinya.
"Yang mana yang sakit?" tanya Yuda seraya memperhatikan kaki Luna di bawah.
"Hei, apa yang kau lakukan?" seru Luna seraya mundur. Menjauhi tubuh Yuda yang bersimpuh untuk melihat keadaan kakinya.
Pria ini mendongak. "Aku sedang memeriksa kakimu, Luna. Kamu bilang kamu kesakitan karena sepatumu," jawab Yuda polos.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Luna mundur lagi. Ia merasa sangat tidak nyaman. Baik pada Yuda ataupun ... Pada pria yang terus saja mengawasinya dengan mata nyalang di sana.
Glek, glek. Ian menambah minuman alkohol yang di tegukknya.
__ADS_1
Ampun! Pak Ian menggila karena melihat interaksi Luna dan Yuda. Lakukan sesuatu agar kamu tidak sia-sia harus bersandiwara, Luna. Danar menyoroti Luna.
Luna sadar itu. Makanya dia tidak nyaman sekaligus panik.
"Sebaiknya kita segera ke Pak Ian. Sebagai bawahannya aku seharusnya memberi salam pada beliau lebih dulu, Yuda." Luna memberi alasan.
"Kakimu tidak sakit?" tanya Yuda masih belum berdiri.
"Tidak. Ada hal yang lain yang lebih penting. Ayo kita segera ke Pak Ian. Aku tidak mau membuat beliau marah dan di pecat karena tidak hormat." Luna bersikeras membuat Yuda berdiri.
"Baiklah." Yuda pun berdiri. Mereka pun mendekat ke arah Ian yang sudah tidak bisa lagi mengontrol ekspresi wajahnya.
Oh, tidak!!! teriak Luna meringis dalam hati.
"Halo, Ian," sapa Yuda. Pria ini tidak menjawab. Luna kembali meringis di dalam hati.
"Oh, ya. Ada pesan dari klien Pak." Luna menunduk dan mengaduk isi pestanya. Lalu mengambil ponsel dan menunjukkan pada Pak Ian.
Ian masih diam seraya menatap ke arah Luna dan Yuda tajam.
"Apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Ian membuat bola mata Danar dan Luna melebar. Mereka syok.
"Yang aku lakukan?" tanya Yuda bingung.
"Ya, kamu tadi ..."
"Pak! Saya mendapat pesan dari klien," kata Luna menyela dengan keras.
"Aku masih ..." Ian ingin melanjutkan bicaranya pada Yuda.
"Anda ingin melihat pesan yang di kirim oleh klien itu kan, Pak?" tanya Luna agak memaksa. Ian menoleh pada Luna tidak paham. "Iya kan?" paksa Luna. Gadis ini melebarkan mata agar Pak Ian paham kodenya.
..._____...
__ADS_1