
"Suasana pesta ramai ya, Yuda?" sapa Danar berusaha mengalihkan perhatian pria ini dari ekspresi Ian yang tidak melihat kondisi.
"Ah, iya. Benar Danar." Yuda tersenyum.
Namun pria ini masih sempat melirik ke arah Ian dan Luna.
"Pasti ada pesan penting soal keuangan ya?" Danar berusaha ikut nimbrung. Dia menegaskan bahwa yang di bicarakan Luna memanglah penting.
Karena melihat Luna sungguh-sungguh ingin bicara, Ian terpaksa diam. Dia tidak lagi menanyakan soal Luna dan Yuda yang berpegangan tangan.
"Oh, sebaiknya kita bicara di tempat lain karena ini masalah penting. Aku tinggal dulu, Pak Yuda." Luna meminta ijin pada Yuda. Kepala pria ini mengangguk lambat. "Mari Pak," ajak Luna pada Ian yang masih juga kebingungan.
Namun karena melihat Luna sungguh-sungguh, Ian terpaksa ikut
Ian mengikuti langkah Luna menuju ke sudut pesta yang sepi.
"Aku masih ingin bicara pada Yuda," geram Ian.
Namun karena merasa masih tidak aman, Luna minta ruangan pada Karin yang melintas.
"R-ruangan itu," tunjuk Karin gugup. Dia tahu soal rencana Luna dan Pak Ian. Namun dia tidak mengerti kenapa mereka justru berdua dan mencari tempat aman. Pasti ada sesuatu yang tidak terduga.
"Oke, terima kasih. Ayo, Pak," ajak Luna.
"Berhenti Luna," tegas Ian menarik lengan Luna yang berjalan di depannya. Hingga akhirnya gadis ini berhenti mendadak karena tarikan tangan Pak Ian.
Tempat mereka mulai sepi karena berada di belakang panggung. Tidak banyak yang lewat kecuali yang berkepentingan.
"Lebih baik saya menunjukkan pesan di dalam ruangan saja, Pak." Luna tersenyum dan memaksa pria ini untuk masuk ke dalam ruangan. Luna sudah mulai kesal.
"Tidak. Kita bicara di sini." Ian menegaskan bahwa ia tidak mau mengikuti ajakan Luna. Gadis ini menghela napas. Tidak bisa lagi membujuk Pak Ian. "Kenapa kalian berdua bergandengan tangan?" tanya Ian tanpa basa-basi. Untung saja Luna bisa membawa pria ini ke tempat ini.
"Itu hanya sedikit improvisasi saja," kata Luna asal sambil melihat ke sekitar.
__ADS_1
"Improvisasi? Bukankah sudah aku katakan jangan sampai kalian berdua terlihat mesra sebagai pasangan, tapi apa yang aku lihat? Kamu justru terlihat serasi dengan Yuda." Ian menumpahkan amarahnya.
Luna bersyukur amarah ini tidak meledak saat di depan Yuda tadi.
"Namun itu terjadi tidak di rencanakan, Pak. Karena gaun yang di beri Bapak, saya tidak bisa berjalan dengan bebas karena harus naik undakan di depan pintu tadi," kata Luna pelan.
"Walaupun begitu, apa harus berpegangan tangan?" Ian masih tidak terima. Luna menggeram di dalam hati. "Aku tidak mau melanjutkan rencana ini. Berhenti saja Luna. Aku akan bilang pada Yuda kalau kamu harus bersamaku." Ian hendak pergi dengan tekad kuat di matanya.
"Tidak, Pak. Jangan lakukan." Luna langsung menarik lengan Pak Ian. Menahan tubuh itu pergi dan mendorongnya ke dinding.
"Apa yang kamu lakukan Luna?" tanya Ian terkejut. Luna menunjukkan raut wajah kesalnya. "Aku harus memberi peringatan pada Yuda untuk tidak menyentuh ... " Suara Ian memelan. Bukan karena ia kehabisan suara, tapi melainkan karena Luna membekap mulutnya dengan sebuah ciuman.
Bola mata Ian melebar mendapat serangan mendadak dari Luna. Bukannya menjauhkan wajah Luna darinya, Ian malah meraih punggung Luna untuk semakin dekat dengannya. Bahkan ia menyambut ciuman apa kadar milik Luna dengan ciuman yang dahsyat. Luna terhenyak kaget mendapat sambutan seperti itu.
Karin yang hendak melintas lagi melotot melihat pertunjukan ini. Dia panik melihat Luna dan Pak Ian berciuman di lorong. Akhirnya ia kerepotan mengusir orang-orang yang akan melintas di sana.
Akhirnya Ian melepaskan bibirnya dari bibir Luna. Padahal Luna yang memulai, tapi ia menjadi lemas dan gugup sendiri. Melihat Karin sibuk mengusir orang, Ian melirik. Dia sadar harus segera pergi dari lorong ini.
Merasa di awasi, Karin membungkukkan badan. Luna ikut menengok ke belakang karena merasa ada orang di sana. Bola matanya mendelik melihat ada Karin.
**
Di dalam ruangan, Luna terdiam tidak mengatakan apapun. Dia malu setengah mati karena tindakan yang berlebihan tadi.
"Kamu tidak ingin melihat ke arahku?" tanya Ian sudah mulai tenang. Pria ini tahu kenapa Luna sejak tadi diam saja.
"B-bukan." Luna menjawab dengan gugup.
"Kenapa menunduk?"
Luna diam.
"Siapa yang mengirimi kamu pesan?" Bahu Luna yang duduk, berjingkat karena kaget. Lalu kepalanya menggeleng. "Tidak ada?" ulang Ian. Luna menganggukkan kepala tanda iya.
__ADS_1
Gadis ini masih syok karena ulahnya sendiri. Masih teringat dengan jelas ciuman tadi. Ciuman Pak Ian begitu bergelora. Mungkin sudah terlatih karena ia adalah duda.
Bukan tidak suka, tapi Luna malu. Bukan Pak Ian yang memulai, tapi dirinya. Luna syok!
Dari kakinya, Luna tahu pria ini mendekatinya. Maka dari itu ia makin gugup.
"Luna. Angkat kepalamu," perintah Pak Ian. Luna berdecih. Namun ia mencoba mengangkat kepalanya perlahan. Pak Ian ternyata sudah menunggunya. Bola mata pria ini menatap ke arahnya dengan lembut. Ini membuat Luna memalingkan muka tanpa sadar. Ia merasa harus menghindari bertatapan.
Namun sungguh mengejutkan bahwa Ian memilih menyentuh dagu Luna dan memaksa gadis ini melihat ke arahnya.
"Kenapa ingin menghindari ku?" tanya Ian berhasil membuat Luna menatap ke arahnya.
"S-saya malu setengah mati Pak."
"Karena menciumku?" tanya Ian membuat wajah Luna merona.
"Jangan mengatakannya dengan santai dan mudah, Pak," protes Luna. Ia mengibaskan tangan Ian dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hahaha ..." Ian tergelak. Dari marah yang sudah membuncah tadi, sikap Ian sekarang begitu berbeda 180 derajat. Mungkin itu murni karena ciuman dadakan yang di lakukan oleh Luna.
Sial. Pak Ian menertawaiku, dengus Luna si dalam hati.
"Luna ..." Pak Ian mengambil tangan Luna dan meminta gadis ini membukanya. "Jangan malu. Aku tidak apa-apa."
"Tentu saja, bukannya aku yang mencium Pak Ian duluan? Makanya aku malu setengah mati."
"Jangan mati, kita belum menikah. Kita belum melakukan banyak hal indah bersama," kata Ian dengan senyum menawan.
Curang. Wajah tampan itu curang sekali!, pekik Luna dalam hatinya. Ian memeluk Luna.
"Maafkan aku marah tidak terkendali. Aku sudah bilang padamu kalau aku ini mudah cemburu jika sudah mencintai seseorang. Jadi saat melihat Yuda memegang tanganmu, aku ingin langsung menghajarnya," ungkap Ian seraya menempelkan kepala Luna pada dada bidangnya. Lalu ia mencium pucuk kepala gadis ini.
...____...
__ADS_1