
Ian terpaksa mendekat pada mamanya. "Ma, Ian mau bicara," ujar Ian. Mama agak terkejut melihat putranya berdiri di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya mama sambil mengelus pipi empuk cucunya. Ian menoleh pada Luna sejenak. Luna mengangguk samar.
"Ayo Mama duduk dulu. Lebih baik kita bicara sambil duduk." Ian membimbing tubuh mamanya menuju kursi.
"Aduh kamu ini ... Bicara sambil berdiri kan bisa," keluh mama. "Ayo, mau bicara apa sama mama? Mama siap mendengarkan."
"Hhh ...." Ian menghela napas berat.
"Apa itu? Kenapa kamu terlihat penuh beban?" tanya mama curiga. Sesekali beliau menatap cucunya dan tersenyum. Kemudian melihat lagi ke arah Ian.
"Ian mau bicara soal Elio," kata Ian.
"Ada apa dengan Elio?" Kening mama mengerut.
"Bukan. Bukan Elio yang perlu di cemaskan, tapi mama."
__ADS_1
Mama diam sejenak. "Mama? Apa yang kamu bicarakan?"
"Hhh ... " Ian menghela napas. Luna merasa kasihan pada suaminya. Membicarakan Elio mungkin membebaninya. Karena bagaimanapun memaksa mama untuk terus baik pada Elio padahal ada cucunya sendiri sekarang itu terlihat tidak adil. Namun bagaimana lagi? "Itu soal ..."
"Tunggu. Tunggu." Mama memotong kalimat Ian. "Mama tahu apa yang mau kamu katakan."
Ian diam tidak jadi meneruskan kalimatnya. Luna melirik mama dan suaminya.
"Kamu pikir mama tidak akan peduli pada Elio karena ada putri mu ini?" tanya mama yang mulai memahami arah pembicaraan Ian. Jantung Luna berdetak agak kencang. Dia berdebar melihat dua orang yang disayanginya ini bicara.
"Ya," jawab Ian.
Perlahan tubuh mama membungkuk. Beliau tengah meletakkan bayi Luna pada pelukannya. Setelah itu beliau mendekat pada Ian. Entah apa yang akan di lakukan perempuan paruh baya ini.
"Mama tahu bagaimana harus bersikap pada dua cucu mama itu. Jangan pandang mama remeh, kamu ya ...," kata mama sambil mencubit lengan putranya dengan gemas seperti pada bocah kecil. Luna tersenyum. Ian melirik.
"Ian hanya mengingatkan," kata Ian.
__ADS_1
"Tidak. Kamu menuduh mama." Bola mata mama mendelik lucu karena geregetan. "Meski Elio bukan cucu kandung mama, tapi mama ini kan sudah pernah bilang kalau mau menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas."
"Syukurlah kalau begitu," ujar Ian.
"Kamu ini ada-ada saja. Luna, bilangin suami mu ini. Jangan berpikir yang negatif dulu sama mama," kata mama mengadu pada menantunya.
"Siap ma." Luna pun tersenyum.
"Ian kan takut juga Ma." Ian mendekat pada bayi di gendongan Luna. Lalu menowel pipinya pelan. "Kalau memang mama tidak akan membeda-bedakan cucu mama, Ian tenang."
"Mama mengerti perasaan kamu. Mama juga punya perasaan kok," kilah mama. Ian tersenyum. Kemudian ia memeluk mamanya dengan sayang.
"Ian hanya ingin hidup damai dan tentram bersama mama, istri dan kedua anakku," kata Ian.
"Iya mama paham." Mama menepuk punggung putranya. "Cepat suruh Danar jemput Elio ke sini," pinta mama. Ian melepas pelukannya dan mengangguk. Setelah itu ia menelepon Danar untuk memberinya tugas.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa datang tepat waktu saat pertemuan penting tadi, Ian?" tanya mama. Luna penasaran juga. Karena kan mama sudah memberitahu kalau Ian sedang dalam pertemuan yang tidak bisa di ganggu. Lalu kenapa tiba-tiba bisa muncul tepat waktu?
__ADS_1
..._____...