
"Pegang tanganku," kata Yuda seraya mengulurkan tangan.
"Untuk apa?" tanya Luna enggan.
"Kamu akan kesulitan naik melewati undakan di depan kita dengan gaun mu itu. Kamu butuh pegangan,” kata Yuda. Luna melihat ke arah undakan di depan mereka. Yuda Benar. Ia butuh pegangan untuk bisa sampai ke tempat Pak Ian.
Kenapa harus ada undakan itu, sih.
Tangan Luna terulur dengan terpaksa. Yuda tersenyum melihat bujukannya mempan. Namun bujukan itu bukan tanpa alasan. Luna juga tahu bahwa itu benar adanya.
Saat itu Naura yang juga datang, berdiri di samping Ian. Danar yang juga berada di dekat mereka melirik. Saat ini dia yakin atasannya itu tengah menahan diri untuk bersikap lembut pada model cantik yang menjadi tunangannya.
.
.
.
Rapat penting di rumah Ian waktu itu.
“Bapak harus bisa tetap bersikap seperti biasa di depan nona Naura. Dengan begitu, Pak Yuda pun akan merasa tidak ada yang perlu di waspadai.” Luna mengatakan idenya.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Ian penasaran.
“Saya akan membuat Pak Yuda mabuk. Dengan alasan itu, Danar dan saya bisa mengantarkannya pulang. Dengan begitu saya bisa mendapat akses mudah menuju apartemen Pak Yuda. Jadi kedatangan kita ke apartemen Pak Yuda tidak mencurigakan,” jelas Luna.
Entah kenapa dia merasa idenya mengalir dengan lancar. Apakah dia sedang berambisi untuk menikah dengan Pak Ian?
Tentu. Wanita mana yang akan membiarkan duda tampan dan kaya itu sendirian dalam waktu lama. Kalau bisa ia menikah sekarang juga, tapi apa daya ... banyak hal yang harus di bereskan demi kelancaran pernikahannya kelak.
Luna menggelengkan kepala dengan apa yang ada di dalam otaknya sekarang. Belakangan otaknya banyak dengan ide cemerlang. Ia dalam kondisi menakjubkan. Semuanya demi menjadi pasangan Pak Ian tentunya.
Aku bisa gila.
“Jadi kamu akan terus menemani Yuda?” tanya Ian seraya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Sepertinya begitu,” jawab Luna.
“Tidak. Aku tidak setuju,” tegas Ian.
“Kenapa tidak setuju, Pak?” tanya Luna dengan wajah polos. Meskipun ambisi Luna menikah dengan Pak Ian besar, ternyata otaknya kecil juga. Dia terlalu fokus pada penyelesaian masalah hingga kurang peka pada perasaan pria itu.
Danar menghela napas mendengar pertanyaan Luna. Ingin rasanya ia berteriak dengan kencang pada telinga Luna, "Karena dia mencintai mu, tahu!!” Namun apa daya, dia bukan pria yang membiarkan hasrat ingin marahnya meluap. Dimana itu akan membuat pekerjaannya terancam bahaya. Dia masih waras jika itu soal penghasilan.
“Karena kamu Luna. Aku tidak mau melihat kalian berduaan saja. Aku bisa marah,” kata Ian tidak peduli pada Danar yang sejak tadi menemukan banyak keganjilan dalam sikap Pak Ian pada Luna. Ya. Danar sudah menduga itu karena cinta.
Bola mata Luna melebar terkejut. Ia baru sadar. Pak Ian tidak rela ia bersama Yuda. Itu artinya pria ini tidak ingin terbakar cemburu.
“Ini bukan seperti yang Bapak pikirkan. Saya hanya menemaninya secara profesional. Kita hanya sebatas karyawan perusahaan Bapak saja,” kata Luna memberi pengertian.
“Benarkah?” tanya Ian ragu. Pria ini bagai bocah yang tengah merajuk.
“Tentu saja. Bapak bisa lihat antara saya dan Danar,” kata Luna menunjuk orang kepercayaan Ian dengan tiba-tiba. Ini membuat Danar melebarkan mata sekilas. Ingin ia berteriak memprotes Luna yang memilih dirinya sebagai contoh. Namun ia tahu itu mustahil. Ia akan di hardik oleh Pak Ian jika melakukannya. Karena wanita ini sangat spesial untuk Pak Ian.
Bola mata Ian melihat Danar dengan sorot mata dingin.
“Apa kamu bisa menjamin itu?” tanya Ian menegaskan. Drrt ... Drrt ... Ponsel Danar bergetar. Sepertinya itu sebuah panggilan, tapi karena sudah di atur, jadinya hanya bergetar saja.
Danar bermaksud mengabaikan karena ia sedang dalam situasi yang mengharuskan untuk tidak melakukan hal-hal di luar isi rapat.
“Kenapa tidak mengangkat teleponnya, Danar?” tegur Ian. Danar terkejut mendapat teguran itu. “Angkatlah. Mungkin saja itu penting.”
“Baik, Pak.” Danar mengeluarkan ponselnya dan menatap ke layar monitor. Beberapa detik ia memindah pandangannya dari gawai pipih di tangannya, ke arah Ian. “Bolehkah saya menerima telepon di luar Pak?” tanya Danar.
"Siapa?"
"Keluarga saya," jawab Danar.
“Baiklah.” Ian memberi ijin. Setelah mendapat ijin, Danar pun berjalan mendekati pintu dan keluar.
“Aku ulangi, Luna. Jika aku mengikuti skenario mu, apa kamu bisa menjamin tidak akan membuatku marah?” tanya Ian masih ingat dengan pertanyaannya yang tadi. “Karena sudah aku katakan bahwa aku ini mudah cemburu.”
__ADS_1
Kalimat-kalimat Ian selalu bisa membuat Luna memerah, tersipu dan gonjang-ganjing. Ia harus berusaha menahan diri terlihat sangat gembira pria ini begitu terobsesi padanya.
Aku bisa gila.
“Soal itu ... Bukankah saya pernah bilang kalau saya ini sebenarnya juga suka sama Pak Ian, tapi karena keadaan seperti ini, saya tahan dulu menerima cinta Bapak. Bahkan saya mengancam Bapak untuk segera menyelesaikan masalah ini, dan datang pada saya. Jadi saya yakin seratus persen kalau saya bisa bersikap profesional saat dengan Pak Yuda.”
Luna sangat malu saat mengatakannya. Untung saja saat ini Danar tidak ada di dalam ruangan. Jadi saat telinganya memerah, ia tidak perlu ketahuan orang lain selain pria yang tengah tersenyum puas di depannya.
Argghhh!! Aku beneran gila nih!
.
.
Di area pesta.
Luna naik undakan satu persatu. Ternyata gaun yang di kirim dari butik pilihan Pak Ian membuatnya tidak bisa bebas bergerak. Jadi dia butuh penopang untuk naik. Tangan Yuda yang di tawarkan mungkin akan lebih baik. Juga terlihat lebih meyakinkan bahwa dia dalam mode damai dengan pria ini.
Namun ia lupa bahwa di sana juga ada Ian.
Naura yang melihat Yuda muncul tersenyum. "Yuda datang Ian," kata Naura memberitahu. Ian menoleh. Bola matanya menemukan kedua sosok ini, pandangannya terpaku. "Siapa wanita cantik di sampingnya itu?" tanya Naura yang belum sadar itu adalah Luna.
Luna. Dia ... cantik! Bukan. Dia memang selalu cantik di mataku.
Degup jantung Ian berdetak kencang. Manik matanya tidak berhenti pada perempuan itu. Namun seketika rasa bahagia yang penuh cinta itu musnah tatkala Ian melihat tangan Luna di pegang oleh Yuda.
Danar melebarkan mata sekilas melihat itu. Awalnya ia bukan sengaja menunggu kedatangan gadis itu dan Yuda. Namun saat menemukan bola mata Ian berubah menjadi tajam, Danar ikut menoleh ke asal mula pria ini mengubah wajah takjubnya menjadi keruh.
..._____...
__ADS_1