Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 45


__ADS_3

Pintu lift terbuka. Luna mengerjapkan mata masih kebingungan dengan pernyataan cinta Pak Ian. Ia bengong.


 


Sebuah tangan menariknya keluar dari lift bersama-sama. Itu tangan Pak Ian. Pria itu rupanya mengajaknya keluar dari lift karena dirinya tidak berdiam diri.


 


"Sepertinya aku tidak bisa mendapat jawaban ini sekarang," kata Ian menyadarkan Luna dari kekosongan pikirannya barusan. Pak Ian melepas pegangan pada tangan Luna. "Kamu pasti menganggap semua yang aku katakan tadi adalah bohong."


 


"Ma-maafkan Saya, Pak."


 


"Kenapa minta maaf?" tanya Ian heran.


 


"Sa-saya bingung."


 


"Karena aku mengatakan perasaanku padamu?" tanya Ian. Luna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Ia benar-benar bingung sekarang. Jika ia tidak memikirkan hal lain, itu akan mudah. Namun ia masih tahu diri. Dia sudah punya tunangan. "Apa statusku yang menjadi penghalang?" tanya Ian.


 


"T-tentu saja bukan. Duda atau pun single menurutku Pak Ian ... pria yang sempurna," ujar Luna seraya menunduk. Ian mengerjap. Luna memujinya secara terbuka. Ini agak mengejutkan. Sejurus kemudian pria ini tergelak.


 


"Kamu pintar membolak-balikkan hati ku, Luna."


 


"T-tidak. Saya tidak melakukan itu," ujar Luna panik. Dia menggerakkan ke sepuluh jarinya untuk membantah. Pria itu tersenyum geli.


 


"Beberapa detik yang lalu kamu bingung seakan mau menolak ku. Detik berikutnya kamu memujiku dengan wajah merah merona. Apa ini satu cara kamu menarik perhatianku?"


 


"S-saya tidak begitu, Pak," tepis Luna seraya melempar pandangan ke arah lain. Dia terkejut dianggap berusaha menarik perhatian pria kaya dan tampan ini. Meskipun kalimat yang di keluarkan Ian bukanlah yang berarti negatif, Luna tetap harus protes.


 


"Jadi ... Jawaban apa yang akan kamu katakan padaku saat ini, Luna?" tanya Ian seraya mendesak Luna pada tembok di belakangnya. Lalu mengurung gadis itu dengan lengannya. Lorong masih sepi karena pagi.


 


A-apa yang Bapak Lakukan? Luna panik lagi. Oh, tidak! Mau apa Pak Ian? Masa dia mau mencium ku?


 


"Katakan sekarang, Luna. Aku pikir bisa menunggu kamu memikirkan jawabannya. Ternyata tidak. Aku ingin jawaban sekarang," ujar Ian. Luna memalingkan wajah karena jarak antara dia pria ini sangatlah dekat.


 


"Saya ... saya menerima perasaan Bapak," ujar Luna yang langsung membuat wajahnya merah merona karena malu. Ian tersenyum puas. "Namun saya tahu, kalau ada wanita lain yang menginginkan Bapak." Luna melanjutkan kalimatnya. Selanjutnya senyum Pak Ian hilang.


 


"Apa maksud kamu Luna?” tanya Ian tidak percaya.


 


"Nona Naura. Saya tidak ingin bersaing dengan wanita cantik itu. Karena bagaimanapun Bapak ini sudah bertunangan dengan dia. Jadi saya rasa ... Bapak tidak bisa menjadi kekasih saya meski saya juga menginginkannya." Luna akhirnya bisa melenyapkan kegalauan hatinya. Dia mau, tapi keadaan tidak memungkinkan.


 


"Aku bodoh sepertinya." Ian tersenyum mengerti. Luna melirik. "Sudah punya tunangan, tapi mendekati wanita lain." Ian melepas kurungannya. "Hubunganku dengan Naura sebenarnya sudah tidak ada, tapi aku tidak bisa bergerak karena wasiat. Istriku menginginkannya."


 

__ADS_1


Luna diam sejenak. Dia paham soal wasiat itu. Dia juga ragu karena itu.


 


"Jika begitu, bukankah saat ini Anda sedang mempermainkan saya?" tanya Luna sedikit kesal. Mendadak dia badmood.


 


"Tidak. Aku serius dengan apa yang kukatakan padamu. Aku akan menyelesaikan dengan Naura. Jadi tunggu aku, Luna. Aku akan kembali padamu," tekad Ian.


 


...***...


 


Siang hari.


 


"Aghhh. Kesalll ... Kenapa aku enggak langsung iya aja sih?" keluh Luna saat sudah masuk toilet. Dia menggeram mengingat sudah menolak pria itu. Ini sungguh menggelikan. "Kenapa tadi sok-sokan kalau Pak Ian mempermainkan aku segala ... Bukannya tinggal bilang iya, beres. Urusan dia punya tunangan atau tidak itu urusan belakang. Harusnya begitu kan? Kenapa jadi mikir yang rumit sih? Dasar otak dodolll ..."


 


"Tenyata kamu enggak waras juga, Lun," tegur Karin mengejutkan.


 


"Eh, dasar dodolll." Luna terkejut. Dia menepuk lengan Karin. Namun gadis itu tidak merespon. "Kamu kenapa?" tanya Luna heran.


 


"Aku masih syok dengan perkara atasanmu yang ganteng dan rupawan itu."


 


"Pak Ian?" tanya Luna ingin jelas.


 


"Ya. Soal model itu yang berniat buruk."


 


 


"Lupa ya? Kenapa? Karena sudah di tembak sama Pak Ian?"


 


"Eh, kamu dengar aku ngomong banyak ya?" tanya Luna meringis.


 


"Jadi beneran, kamu di tembak Pak Ian?" tanya Karin terkejut. Rupanya dia bertanya itu bukan karena mendengar ocehan Luna, tapi karena asal bunyi saja. Herannya itu adalah kebenaran. Jadi Karin heboh.


 


"Kok kamu masih nanya? Kan kamu dengar sendiri saat aku ngomel tadi."


 


"Enggak. Aku enggak dengar dengan jelas."


 


"Ya ampun." Luna kembali menepuk jidatnya. Ternyata mulutnya sendiri yang mengungkap itu. "Ya. Pak Ian nembak aku."


 


"Ow, dahsyat."


 


"Jangan heboh. Jangan di sebarkan. Jangan sampai ada yang tahu. Kalau sampai mulutmu ember, aku enggak bakal mau temenan. Hubungan kita putus," kata Luna tanpa jeda. Mirip rapper.

__ADS_1


 


"Iya tahu. Kamu terima?"


 


"Enggak."


 


"Ih, bodoh banget."


 


"Sialan," umpat Luna.


 


"Ya iya. Secara orang itu adalah orang nomor satu di perusahaan ini, tapi kamu malah menolak dia yang sudah mempersembahkan cintanya ke kamu." Mereka berjalan keluar. "Eh, kamu enggak ke toilet?"


 


"Eh, iya. Tunggu aku ya." Luna masuk ke dalam salah satu toilet. Setelah menunggu sekitar lima menitan, mereka keluar.


 


"Aku menolak Pak Ian karena dia kan masih terikat sama wasiat yang kamu katakan itu. Dan Naura juga masih ada di dekatnya, kan? Jika orang liat aku dekat, mereka akan berpikir aku ini yang terlalu halu. Sok-sokan dicintai pria tampan dan kaya. Meskipun kenyataannya Pak Ian sendiri yang bilang suka ke aku."


 


Karin mengangguk-anggukkan kepala.


 


"Kalau di lihat dengan mata telanjang nih, kamu dan Naura sudah jelas perbedaannya. Kalau Pak Ian wajar jatuh cinta sama wanita cantik macam itu, tapi kalau ke kamu ..." Karin memindai Luna dari atas sampai bawah. Membuat Luna ingin menendang nih anak. "Orang langsung berpikir kalau enggak mungkin Pak Ian suka ke orang macam kamu. Bahkan kamu yang mungkin di bully mereka karena ganjen dan nekat deketin Pak Bos. Karena perbedaannya langit dan bumi."


 


"Kamu tuh, ya ... Emang enggak ada bela temannya sedikitpun."


 


"Trus gimana tanggapan Pak Ian saat kamu tolak? Dia pasti syok kan?"


 


"Mungkin."


 


"Bukan mungkin, tapi pasti. Syoknya karena, wanita macam ini berani menolak ku? Begitu ...."


 


Luna menipiskan bibir mendengar itu.


 


"Lalu kamu enggak akan kasih tahu Pak Ian agar hati-hati soal Yuda dan Naura?"


 


"Itu yang mau aku lakukan."


 


"Kan kamu sudah menolaknya. Gimana ketemunya nanti sama Pak Ian? Bukannya canggung, tuh?"


 


Oh, tidak. Luna menundukkan kepala.


 


"Ya sudah. Selamat berjuang ya." Karin menepuk bahu Luna dan pergi.

__ADS_1


...____...



__ADS_2