Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 75


__ADS_3

"Ada apa Lun?" tanya Karin ikut tegang. Luna hanya kasih kode dengan tangannya untuk melihat ke arah lain. Karin menoleh dan terkejut juga melihat atasannya itu muncul di sana. Karin langsung tersenyum sambil mengangguk saat pria itu melihatnya.


Ian mengangguk menyambut sapaan Karin.


"Sejak kapan ada di sini?" tanya Luna segera mendekat sambil tetap menempelkan ponsel pada telinganya. Baru sampai di depan pria itu persis, Luna menutup sambungan teleponnya.


"Baru saja." Ian menoleh ke sekitar. Ke kanan dan kiri.


"Oh. Lalu kenapa muncul di sini?" tanya Luna heran.


"Ingin jemput saja."


"Aku kan sama Karin. Kenapa di jemput?" Luna tersenyum. Merasa Ian lucu.


"Iya," jawab Ian singkat. Sepertinya Ia sempat ke kantin tadi untuk melihat Luna, tapi ternyata gadis ini tidak ada. Jadi Ian sedikit panik. Mungkin saja Luna sedang melakukan sesuatu yang tidak ingin diketahuinya. Seperti makan siang dengan teman kerja prianya.


Ia pun mencari tahu kemana perginya gadis ini bersama Karin. Akhirnya dia melihat gadis ini duduk di dekat dinding kaca tempat makan di depan perusahaan.


"Kalau kamu jemput aku, gimana Karin?" tanya Luna menunjuk ke Karin. Gadis itu terkejut saat keduanya melihat ke arahnya.


Alhasil, Luna tetap jalan dengan Karin di depan. Sementara Ian berjalan di belakang mereka.


"Lun, lain kali kalau mau keluar bareng, enggak usah pakai bodyguard lah ... Lihat semua orang. Mereka menatap kita heran," bisik Karin.


"Kamu pikir aku sengaja?" balas Luna sambil menggeram. Ian bukan hanya berjalan di belakang mereka. Pria ini juga melirik ke kanan dan kiri. Sepertinya ia masih curiga kalau-kalau Luna bertemu dengan teman prianya.


**


Di rumah Ian.


Mama Ian masih ada di rumah ini. Sepertinya masih lama. Beliau yang sedang mengupas buah melihat Ian melintas sambil bicara di telepon.


"Iya, iya sayang. Bye." Ian mengakhiri obrolannya di telepon.


Mama langsung menunduk saat Ian sudah menyelesaikan obrolannya di telepon. Berpura-pura tidak memperhatikan. Ternyata Ian sedang berbincang dengan kekasihnya.

__ADS_1


"Mama lagi mengupas buah?" tanya Ian yang mendekat. Lalu melongok ke buah apel yang di pegang mama.


"Ya, ini ..." Mama bermaksud menyuapi putranya. Ian mendekat sambil membuka mulut. Lalu mama menyuapkan potongan buah apel ke dalam mulut Ian. "Gimana pekerjaan mu?"


"Baik." Ian memilih duduk di sana menemani mamanya. "Elio kemana, Ma?"


"Dia sudah tidur tadi. Sepertinya capek karena main terus." Mama menyuapkan lagi satu potong buah. "Jadi dia kekasih baru kamu?" tanya mama.


Ian menyelesaikan kunyahannya."Luna? Ya, dia kekasihku."


"Dia masih anak-anak," kata mama singkat.


"Hmm ..." Ian tersenyum geli. "Luna bukan anak-anak, Ma. Dia hanya masih muda daripada aku."


"Ya. Itu."


"Kenapa Ma? Mama enggak suka kalau calon istriku lebih muda atau enggak suka sama Luna?" tanya Ian tanpa basa-basi. Dia yang berencana bertanya pada mama soal Luna, seperti mendapat angin untuk membicarakan ini.


Apalagi ia sempat mendengar percakapan Luna dengan Karin di tempat makan siang tadi. Gadis itu pasti panik dan jadi aneh gara-gara mamanya. Ia harus memberi pengertian pada mamanya demi kelancaran hubungannya dengan Luna.


"Kenapa enggak suka? Kenal saja masih tadi," bantah mama. Namun wajah beliau menunjukkan ketidaksukaannya.


"Kamu sudah memutuskan?" tanya mama terkejut. "Semudah itu?" Tangan beliau sampai berhenti mengupas buah.


"Tidak mudah. Namun Ian sudah memutuskan."


Mama meletakkan buah dan pisaunya. Lalu mengelap tangan dengan tisu dapur. "Kenapa tidak bisa menunggu dulu Ian?" tanya mama sambil meremas lengan putranya.


"Aku sudah mengenalnya, Ma. Agak lama. Dia kan staf di perusahaan."


"Karena itu ... Kenapa kamu bisa langsung ingin menikahinya? Lagipula kamu baru saja pisah dari Naura, si model itu."


"Apa mama lebih suka Ian dengan model itu?" selidik Ian.


"Tidak juga. Mama kurang suka. Sikapnya terlalu di buat-buat." Mama mendengus.

__ADS_1


Ian tersenyum. "Kalau soal itu, mungkin Luna lebih unggul karena dia apa adanya."


"Tapi untuk menikah ... Apa tidak bisa di pikirkan dulu Ian?" Mama masih mencoba mempengaruhi putranya. "Apa kamu merasa sangat kesepian hingga harus segera menikah dengan wanita itu?"


"Dia Luna, Ma."


"Iya, dia kan wanita bukan pria." Mama malah menyahuti dengan candaan.


"Ian sudah berpikir tentang semua itu. Aku ingin dia jadi istriku Ma," tegas Ian. Mama menatap putranya agak lama. "Jangan permasalahkan soal status dia Ma. Kalau mama menentang karena dia bukan dari kalangan orang kaya seperti Mama, aku akan marah." Mata Ian menunjukkan keseriusannya.


"Kamu bahkan mengancam Mama." Bola mata mama Ian melebar.


Ian tergelak dan memeluk mamanya. "Kalau tidak begitu, mama akan terus menentang Ian. Dia pilihanku Ma. Tolong terima dia dengan baik. Jangan permasalahkan hal-hal lain. Dia pasti bisa menjadi istri yang baik."


"Kenapa kamu jadi seenaknya sendiri, Ian." Mama cemberut dalam pelukan putranya.


"Tidak. Aku sedang mengajak mama untuk berbahagia. Luna itu orangnya lucu, Ma. Aku yakin dia bisa menghibur mama," kata Ian setelah melepas pelukannya.


"Memangnya dia pelawak bisa menghibur mama? Kamu ini cari istri atau bukan sih?" Mama melirik tajam sambil mencibir.


"Hahaha ... Tentu saja cari istri, Ma." Ian tertawa. "Gimana? Mau mengenal Luna lebih dalam?" tawar Ian seraya melepas pelukannya.


"Entahlah." Beliau menjawab dengan tanpa antusias.


"Jangan begitu. Mama wajib saling mengenal dengan calon menantu mama. Lagipula soal mengurus Elio, mama sudah lihat sendiri, kan?" tanya Ian.


"Elio itu sudah besar. Dia bisa di sogok."


"Mama lihat tadi dia bisa menenangkan Elio tanpa menyogok. Dia hanya menggunakan kata-kata untuk bisa melawan bocah itu."


"Hmmm ..." Soal itu mama Ian tidak bisa menyangkal. Beliau sudah melihat sendiri buktinya.


"Jangan sakiti dia, ya Ma. Bagaimanapun di mata mama dia banyak kurangnya, jangan menyakiti Luna. Seperti pada mama, aku akan sakit hati saat ada orang yang menyakiti mama. Sama halnya dengan Luna."


"Kamu ini malah menasehati mama," ujar mama Ian sambil menipiskan bibir.

__ADS_1


"Bukan. Aku bukan menasehati mama. Ian ini hanya sedang merajuk. Meminta mama melembutkan hati untuk bisa menerima Luna sebagai istriku nanti." Ian kembali memeluk mamanya dengan sayang dan hormat.


..._____...


__ADS_2