
Suara detak jantung Ian yang berdegup kencang membuat Luna tenang.
"Jangan membuat rencana ini gagal, Pak. Saya bisa marah juga sama Bapak kalau rencana ini gagal. Karena apa? Karena akan membuat saya sulit untuk menikah dengan Bapak," tegas Luna percaya diri dan nekat.
"Hemm ... Iya aku tahu. Maafkan aku. Jadi kamu memang ingin menikah denganku ya?" goda Ian membuat Luna memejamkan mata. Ia suka kelepasan bisa kalau sedang kesal.
"Jangan tanya kalau sudah tahu, Pak. Saya bisa makin memerah karena sangat malu," kata Luna.
"Tidak mungkin kamu malu. Karena kamu gadis paling tidak tahu malu yang membuat aku jatuh hati, Luna," kata Ian dengan tersenyum simpul.
Karena sudah terlanjur mencium dan di peluk, kenapa enggak sekalian saja aku bersandar pada dadanya, iseng Luna.
Ian menyadari bahwa Luna ingin bersandar. Jadi ia menenggelamkan kepala gadis ini pada dadanya. Merasa di sambut, gadis ini pun melingkarkan lengannya pada tubuh Ian.
"Maafkan saya, Pak karena jadi ingin meminta lebih," kata Luna karena berinisiatif memeluk. Ian tersenyum lagi.
"Ya, ya ... Lakukan saja sesukamu. Aku senang kok kamu melakukannya," kata Pak Ian jujur.
"Mesum," lirih Luna.
"Setelah mencium ku dengan mendadak, sekarang bersandar di dadaku. Setelah itu malah memelukku. Sepertinya mesum itu lebih tepat untuk kamu," balas Ian bercanda.
Luna mencebik. Ia lupa kalau sudah melakukan banyak hal dengan tubuh pria ini hari ini. Jadi memang sebenarnya dirinyalah yang mesum.
"Jadi lakukan hal mesum itu hanya padaku. Jangan ke pria lain. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan pada orang itu jika kamu melakukannya," ancam Ian. Luna hanya tersenyum tipis. "Untuk urusan Yuda, aku beri kamu dispensasi. Jadi cobalah jangan sampai berlebihan," pinta Ian.
"Ya, saya tahu Pak." Luna menganggukkan kepalanya.
Setelah beberapa menit.
"Sudah. Cukup." Luna menjauhkan tubuhnya dari dada Ian. Lalu meminta Ian melepas pelukannya. "Pak Yuda pasti curiga kita tidak muncul dalam waktu yang lama."
"Aku tidak rela," ungkap Pak Ian sambil tetap memegang tangan Luna.
"Jangan. Kita harus tetap menjalankan rencana demi kedamaian Bapak," kata Luna seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, baik. Keluarlah lebih dulu," kata Ian. Luna menganggukkan kepala. "Tunggu." Baru beberapa langkah, Ian mencegah Luna melangkah.
Gadis ini menghentikan langkah kakinya. "Ada apa, Pak?" tanya Luna heran. Ian melangkah maju menuju tempat Luna berdiri. Bola mata Luna mendelik saat tangan Pak Ian menyentuh dagunya. Kemudian menyentuh bibirnya.
"Lipstik mu bergeser. Sepertinya harus di pulas ulang," nasehat Ian membuat Luna menghela napas lega. Helaan napas ini mendapat sorotan dari Ian. "Apa kamu ingin aku mencium mu?" tantang Ian.
"Pak Iannn ...," ujar Luna geregetan.
"Sepertinya kamu ingin aku melakukannya." Ian tersenyum simpul.
"Bukan. Sudah, biarkan saya melakukan tugas ini sampai selesai." Luna melebarkan mata gemas. "Oh, ya. Saya harus memulas lipstik dulu." Luna mengeluarkan lipstik dan memulas bibirnya dengan satu sampai dua usapan seraya bercermin pada ponselnya.
"Cantik," puji Ian singkat, tapi membuat Luna berjuta-juta bahagianya. Dia bergegas keluar karena kalau tidak, akan ada banyak godaan.
***
Melihat Luna muncul lagi tanpa Ian, Yuda segera mendekat. Ternyata Naura sudah ada di dekat pria itu.
"Ada apa?" tanya Luna yang merasa ada hal penting karena Yuda sampai menyusulnya.
"Oh," sahut Luna datar. Dari tempatnya berdiri, Naura memperhatikan Luna dan Yuda dengan melipat tangan. Tak lama, Ian muncul juga.
"Ian!" Naura ikut menghampiri Ian sambil tersenyum senang. Ian menyambut Naura setelah sesaat melirik ke arah Luna yang ternyata memperhatikannya. Namun saat tatap mata mereka bertemu, Luna langsung melihat ke arah lain.
Hmmm ... Kamu mengawasi ku, Luna? Kamu tidak ingin aku dengan Naura? Ternyata perasaan kita sama. Menjalankan sandiwara, tapi juga tidak suka saat melihat aku dan kamu bersama dengan yang lain. Lucu.
"Kamu sudah selesai menelepon?" tanya Ian pada Naura.
"Y-ya."
"Ada masalah?" tanya Ian.
"T-tidak," jawab Naura dengan cepat. Seakan tidak mau kalau Ian bertanya lebih jauh. Ian tidak peduli tentang percakapan Naura di telepon. Dia hanya berbasa-basi.
"Kita ke meja itu, Luna?" tanya Yuda ingin berpencar dari Ian dan Naura.
__ADS_1
"Oh, ya." Luna setuju. Namun Ian merasa harus tetap mengawasi Luna. Ia ingin menjalankan cerita dengan tetap mengawasi gadis ini.
"Kita ikut bersama, Ian?" tawar Naura menguntungkan.
"Boleh." Ian langsung setuju. Dia tidak ingin jauh-jauh dari Luna dan Yuda. Pengacara ini melirik. Sepertinya dia tidak ingin Ian dan Naura bergabung. Namun ia membiarkan keduanya mengikuti mereka.
"Aku pikir kamu sudah mabuk, Ian," kata Naura yang melihat Ian minum minuman beralkohol tadi.
"Hanya beberapa teguk saja tidak akan membuatku mabuk," kata Ian sambil melirik ke Luna. Tanpa sadar gadis ini menyentuh bibirnya.
Makanya tadi masih terasa ada aroma alkohol di mulutnya, batin Luna.
"Berbeda dengan Yuda. Sepertinya dia mudah mabuk," tunjuk Naura seperti sengaja mengejek. Yuda mendengus. Naura tertawa. "Oh, ya ... kamu Luna kan? Aku pikir Yuda sudah mendapatkan wanita yang bisa membuatnya tertarik setelah sekian lama. Ternyata hanya karyawan Ian." Kali ini Naura mengganti korban dari celaannya.
Mendengar ini, Ian langsung menoleh pada Naura dengan tajam.
"Benar. Saya hanya karyawan Pak Ian," sahut Luna dengan senyum. Yuda melirik Luna, lalu tersenyum tipis. Dia merasa Luna cukup tangguh menanggapi Naura. Gadis ini tidak menunjukkan gelagat tidak nyaman saat mendengar Naura bicara dengan kentara bahwa tengah mengejek profesinya yang hanya sebagai bawahan saja.
"Aku sempat takjub karena Yuda bisa tertarik dengan wanita lain," kata Naura sambil mengelus lengan Ian dengan lembut. Deg! Ian merasa ada yang tengah menatapnya tajam.
Itu Luna. Gadis ini tengah melihat dirinya dengan pandangan tidak bersahabat. Mungkin interaksi Naura barusan membuatnya gusar. Merasa ia sedang di amati, Luna mengalihkan pandangan ke arah gelas yang ada di meja dan mencondongkan tubuh untuk mengambilnya.
Kamu pasti kesal melihat Naura menyentuhku ya? Sungguh menggemaskan.
"Sepertinya ini hari yang baik untuk minum," kata Yuda. Luna menoleh.
"Hmm ... Apa hatimu sedang kacau?" tanya Luna mendapat kabar baik.
"Kamu mengejekku? Apa itu karena kamu sedang mendapatkan hari yang baik?" tanya Yuda dengan setengah bergurau. Namun bagi Luna senyuman pria ini terlihat aneh.
"Aku tentu selalu berharap setiap harinya adalah hari baik, Pak Yuda," sahut Luna tidak jelas. Dia harus bersikap apa adanya seperti biasa, tapi juga tetap peduli pada apapun yang Yuda katakan. Karena dia sedang berperan menjadi seseorang yang mendekati pria ini.
...____...
__ADS_1