
Suasana aula yang di pilih sebagai tempatnya resepsi pernikahan terlihat indah. Lalu lalang orang yang berkepentingan menyukseskan acara pun terlihat sejak tadi. Dari banyaknya orang-orang ini, tidak terlihat satu pun dari keluarga Ian. Kemana mama Ian? Kemana bocah berambut kriwil? Kemana Ian?
Di salah satu ruangan yang dibuat untuk merias, di temukan calon pengantin. Itu Luna. Gadis ini tampak sedang di rias. Karin yang di tunjuk sebagai bridesmaid dari pihak perempuan tampak menemani di sampingnya.
"Tidak terpikir kamu akan menikah lebih cepat dari aku, Lun," kata Karin sambil menatap Luna dari samping. "Padahal kelihatannya kamu tidak di dekati cowok sama sekali karena terlihat bekerja terus sepanjang waktu."
"Heh, emangnya aku enggak laku?" protes Luna. Karin tersenyum tipis.
"Nyatanya kamu malah dapat ikan kakap premium. Tampan, baik, kaya pula," timpal Karin menggelengkan kepala melihat keberuntungan Luna.
"Kebiasaan bilang ayang ku itu kakap. Mulutmu ku plagban ya ...," kata Luna geram.
"Iya ... itu ayang beb ...," kata Karin.
"Luna. Mana Luna?" tanya mertua yang entah kenapa mencarinya.
"Luna di sini, Ma," jawab Luna sambil mengangkat tangan. Melihat itu mama mendekat. "Ada apa, Ma?"
"Ian tidak kesini?" tanya mama aneh.
__ADS_1
"Tidak. Kenapa Ma?" tanya Luna sedikit was-was.
"Tidak. Mama takut dia mengganggu mu saat di rias. Padahal kan kamu enggak boleh di ganggu biar cepat selesai," kata Mama sambil tergelak. Luna tersenyum.
"Luna pikir apa ..." Luna menghela napas lega. "Elio mana, Ma?" tanya Luna tidak melihat bocah itu sama sekali sejak tadi. Padahal biasanya bocah itu berkeliaran di dekatnya.
"Oh, dia ... Ada. Sama bibi pengasuh," ujar Mama sempat tersendat saat menjawab pertanyaan Luna.
"Sejak tadi enggak ketemu sama Elio, Luna jadi ingin ketemu buat mencubit pipinya," kata Luna.
"Nanti juga ke sini. Ya sudah. Mama pergi dulu ke depan ya? Lihat kondisi di depan," kata mama sambil menepuk punggung Luna dengan lembut.
"Ya, Ma."
"Baik, Buk." Karin mengangguk. Selain sebagai teman Luna, Karin juga adalah bawahan mama Ian sebagai pemilik utama perusahaan.
Mama Ian terlihat terburu-buru. Luna kembali di rias. Hanya tinggal beberapa pulasan saja. Bola matanya terlihat menatap pantulan di cermin mama mertuanya dengan serius.
Riasan Luna sudah selesai.
__ADS_1
"Sepertinya mertuamu terburu-buru dan panik ya, Lun," kata Karin. Luna melirik dari pantulan cermin.
"Kamu lihat itu?" tanya Luna merasa sepaham dengan Karin. Gadis ini mengangguk. "Aku pikir aku aja yang mikirnya begitu. Ternyata kamu juga."
"Memangnya ada apa, Lun?" tanya Karin.
"Aku enggak tahu," kata Luna. Pintu ruang rias Luna terbuka. Bibi pengasuh muncul. "Oh, bibi." Luna menoleh dengan senang. "Mana Elio?" tanya Luna.
"Non, Elio tidak ada," kata bibi pengasuh dengan wajah ingin menangis.
"Tidak ada?" tanya Luna bingung. "Tapi mama bilang kalau tadi sama bibi."
"Ya, itu tadi. Elio menghilang. Elio kabur."
"Menghilang?" tanya Luna terkejut. Dia langsung berdiri dengan mata membola.
"Ya. Sejak tadi Pak Ian mencari Elio, tapi tidak ketemu," kata bibi pengasuh cemas.
"Lalu sekarang Pak Ian?"
__ADS_1
"Ibu belum memberitahu Non Luna?" tanya Bibi membuat Luna was-was.
..._____...