Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 60


__ADS_3

"A-apa yang kamu katakan?" tanya Yuda terbata. Tangannya yang mencengkeram Luna merenggang. Namun tidak ada gerakan apapun dari mereka berdua.


Ian diam sambil menatap Yuda lurus. Dia menghela napas panjang.


"Kamu pasti mengada-ada! Tidak mungkin bocah itu adalah putraku," bantah Yuda menarik lagi tangan Luna. Pria ini tidak ingin melepaskan begitu saja.


"Jangan hanya dengar dari mulutku, Yud. Kamu bisa baca sendiri surat dari rumah sakit. Dari sana kamu akan tahu aku berbohong atau tidak!" teriak Ian tidak bisa menyembunyikan marahnya. "Lepaskan Luna sekarang. Kamu bisa membaca sendiri kenyataan itu."


Yuda langsung memegangi kedua kepalanya. Dia kebingungan. "Elio ... Elio putraku?" tanya Yuda terbata-bata. Luna ingin berlari ke Ian, tapi melihat Yuda yang kebingungan dengan kalimat Ian, dia menjadi iba.


Tiba-tiba Yuda mendorong tubuh Luna ke depan dengan keras.


"Luna!" Ian segera sigap untuk menangkap tubuh itu agar tidak jatuh. Lalu segera mendekap Luna agar tidak lagi bisa di tangkap oleh Yuda. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Ian cemas.


"Ya, Pak." Luna menganggukkan kepala.


"Ternyata kalian berdua tidak tergoyahkan. Bahkan kalian mengarang cerita soal Elio. Hahaha ... " Yuda tertawa. Tawa putus asa sepertinya. Juga tawa kesedihan. "Kalian mengatakan hal yang tidak mungkin!"


Ian melepas tangannya dari Luna dan mendekat pada Yuda yang masih kebingungan. Ia mencengkeram kemeja pria ini.


"Jangan hanya kebingungan seperti orang bodoh, Yuda!" teriak Ian. Bug! Tanpa peduli lagi, Ian memukul wajah Yuda. Hingga pria itu mundur dan terhuyung ke belakang.


"Pak Ian!" Luna berteriak. Ia mendekat untuk menghalang-halangi Pak Ian menghajar pria ini lagi. Karena Yuda sekarang hanya berdiri dengan seutas tali yang tipis. Ian menoleh sekilas pada Luna yang mendekat padanya, lalu kembali melayangkan pukulan pada Yuda. "Pak ..." Luna memeluk tubuh Pak Ian. Gerakan Ian terhenti.


"Aku hanya ingin memberi pelajaran padanya sedikit, Luna," ujar Ian dengan napas naik dan turun. Luna mengangguk mengerti. Setelah mengambil napas, Ian menoleh pada Yuda.


"Tidak mungkin ... Tidak mungkin ..." Yuda masih bergumam sendiri terus menerus.


"Aku sudah memberikan kamu kesempatan melihat sendiri bukti bahwa Elio adalah putramu! Jadi jangan membantah lagi." Ian mendorong tubuh Yuda yang sudah lunglai karena terkejut hingga pria itu terjatuh di atas lantai. "Telepon aku jika kamu sudah siap untuk membacanya sendiri. Jangan ingkar." Ian menunjuk Yuda dengan marah. "Kita pergi Luna."


"Y-ya ... " Bruk!


Seiring dengan suara Luna yang memelan, tubuh gadis ini ikut lunglai.


"Luna!" Ian langsung menangkap tubuh Luna. "Danar! Danar! Masuklah! Luna pingsan!" teriak Ian. Suara gaduh terdengar dari luar, Danar muncul dengan wajah cemas. Luna segera di bawah ke rumah sakit. Mereka meninggalkan Yuda yang masih menatap ke udara dengan mata kosong.


***

__ADS_1


Karena Yuda juga tidak melukai Luna, Ian tetap berpikir waras. Ian tidak melanjutkan kasus ini ke polisi. Semua berakhir dengan damai. Meskipun sebenarnya belum jelas apa selanjutnya yang terjadi kedepannya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ian yang menemani Luna di samping ranjang rumah sakit. Gadis ini sudah siuman. Meski tidak terluka karena Yuda, tiba-tiba saja tubuh Luna jatuh terkulai lemas. Tidak pingsan hanya lemas tak berdaya. Kemungkinan Luna lelah berpikir saat berusaha menenangkan Yuda. Ia bekerja keras untuk itu.


"Ya, Pak. Saya baik-baik saja."


"Syukurlah. Dokter bilang kamu bisa pulang besok. Sebaiknya sekarang istirahat dengan benar. Jadi tubuhmu bisa segar besok," pesan Ian sambil mengelus kepala gadis ini.


"Bagaimana Yuda?"


"Dia baik-baik saja. Sekarang tinggal melihat ke depannya. Apa dia mau terus mengusikku dan menghancurkan ku, atau dia berhenti untuk melakukannya."


"Kasihan Elio jika Yuda memaksa menyerang Bapak. Itu artinya dia sedang menyengsarakan putranya sendiri. Juga ... sebenarnya dia hanya kesepian, Pak. Dia ..."


"Aku mengerti soal itu, Lun. Dia dan Mina saling mencintai. Aku dan Mina memang hanya sekedar di jodohkan." Pak Ian rupanya pria paling pengertian sedunia. Luna jadi merasa bersalah sudah membuka cerita soal mereka.


"Maaf, membuat Bapak terluka."


"Itu sudah lama. Aku sudah baik-baik saja. Apalagi ada kamu," kata Pak Ian sambil menyentuh pipi Luna.


Aghhh. Dunia memang indah. Luna merasa sangat bahagia.


"Kenapa? Kamu tidak menyukai Elio karena dia anak Yuda?" potong Ian.


"Kenapa Bapak bicara dengan sadis seperti itu?" Luna melebarkan matanya kesal. "Tanpa tahu dia anak Bapak, aku juga sudah baik ke Elio. Elio kan enggak salah jadi anak Yuda. Yuda-nya aja yang menyebalkan." Luna menggerutu. Dia membela dirinya sendiri.


Ian tersenyum geli. "Iya, aku tahu. Makanya itu aku tertarik padamu. Karena Elio itu sangat sulit dekat dengan orang lain."


"Hmmm ..." Luna menipiskan bibir sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Kamu ngambek ya?" goda Ian.


"Enggak. Enggak mungkin Pak Ian yang tampan ini membuat aku marah dan ngambek," jawab Luna sedikit jutek. Ian tergelak. Lalu mengelus kepala gadis ini.


"Akhirnya waktunya sudah tiba, Lun."


"Apa maksud Bapak?" tanya Luna tidak mengerti.

__ADS_1


"Akhirnya datang waktu kita menjadi pasangan suami istri yang sah."


"A-apa yang bapak katakan?" tanya Luna gugup.


"Lho, bukannya kamu mau menerima cintaku kalau masalah aku dan Naura selesai?" Ian masih ingat janji Luna. "Apa hatimu berubah?"


"B-bukan itu Pak," bantah Luna cepat.


"Lalu?" kejar Ian.


"A-apa kita akan menikah secepat itu?" tanya Luna.


"Ya. Aku ingin menikahi mu segera."


"Yuda ... Masalah Yuda masih belum selesai, Pak? Lalu Naura? Apa mungkin dia melepas pria tampan dan kaya seperti Pak Ian?" Luna mereka semua ini belum tuntas.


"Aku sudah membuat Naura kalah. Dia tidak akan mengusikku. Soal Yuda. Aku tahu cintanya pada Mina. Seperti dia tahu aku juga mencintai Mina waktu itu. Dia pasti menyerah menyerang ku demi Elio," terang Ian.


Luna menipiskan bibir tanpa sadar saat Ian mengatakan itu.


"Ada apa Lun?" tanya Ian mengejutkan.


"Hah? Ada apa Pak?" tanya Luna balik.


"Bibir mu tertarik ke atas. Itu artinya kamu tidak setuju," ujar Ian.


"Bibirku tertarik? Benarkah?" Luna menyentuh bibirnya. Tidak menyangka.


"Yang mana yang membuat mu tidak setuju? Aku tahu Yuda mencintai Mina, apa soal Yuda tahu aku yang mencintai Mina?" serbu Ian.


"Enggak. Bukan," jawab Luna seraya menggelengkan kepala panik. Ian mencondongkan tubuhnya pada Luna yang duduk di ranjang rumah sakit.


"Katakan saja. Pilihannya hanya itu. Apa kamu masih memikirkan Yuda?" tebak Ian.


"Itu tidak mungkin. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Pak," tepis Luna seraya menahan tubuh Ian yang condong padanya.


...____...

__ADS_1



__ADS_2