
Sementara itu di dalam kamar mandi, Ian meringis memegangi perutnya. Dia langsung lemas karena memuntahkan isi perutnya. Rasanya seperti perutnya di peras.
Padahal dia hanya minum air putih dan buah sedikit. Karena Mama masih menyiapkan sarapan pagi di dapur. Dia sudah meminimalisir apa yang menyebabkan mual dan muntah masuk ke dalam mulutnya, tapi nyatanya tidak berhasil.
Hidungnya begitu sensitif! Itu penyebab dasar perutnya mual tadi.
"Kamu enggak apa-apa sayang?" tanya Luna yang muncul di ambang pintu. Raut wajahnya terlihat cemas melihat suaminya pucat setelah muntah. Tubuhnya mendekat untuk melihat keadaan suaminya.
"Jangan. Tidak perlu merunduk. Perutmu sudah besar," cegah Ian saat Luna ingin membungkuk untuk melihat keadaannya.
"Aku bisa melakukannya tanpa membuat perutku sakit, Ian sayang ..." Meskipun orang lain melihat dengan khawatir tatkala ibu hamil melakukan sesuatu dengan perut membesar, tapi sebenarnya mereka juga punya cara tersendiri untuk menghindarkan rasa sakit pada perut mereka. Hingga itu aman bagi ibu hamil.
"Tidak. Cukup. Diam saja. Jangan melakukan apa-apa," kata Ian sambil memajukan tangannya mencegah Luna maju.
"Aku cemas," kata Luna dengan mata menatap sedih. Tubuh Ian perlahan mencoba tegak. Kemudian menghela napas. Kakinya melangkah menjauh dari closet duduk. Lalu keluar dan menyentuh pipi istrinya.
__ADS_1
"Aku tahu. Terima kasih sayang ... tapi aku akan lebih cemas kalau kamu harus memaksakan punggungmu membungkuk. Sudah cukup kamu terlihat membawa beban pada perutmu." Ian sudah bisa tenang sekarang.
Luna memajukan tubuhnya dan memeluk Ian. Ia tidak bisa memeluk dengan erat karena terbentur dengan perutnya yang mulai besar dan terlihat.
"Maafkan aku. Kamu jadi tersiksa begini," ujar Luna merasa sedih. Ya. Jika biasanya ibu hamil akan tersiksa oleh aksi mual dan muntah, tapi pada Luna ... kasus itu menjadi beda. Karena yang mengalami semua itu justru suaminya.
"Enggak apa-apa. Daripada aku yang harus melihat kamu tersiksa, lebih baik begini ..." Ian mengelus kepala Luna dengan penuh sayang.
***
Dengan berjalan agak lambat, Ian menghampiri ranjang. Luna mengikutinya dari samping.
"Berbaringlah," pinta Luna.
"Tidak. Itu membuat perutku tidak nyaman," tolak Ian.
__ADS_1
"Kalau begitu duduk saja bersandar. Aku letakkan bantal di punggung kamu, ya ...," kata Luna. Ian menganggukkan kepala.
Luna dengan telaten melayani Ian. Dia tahu betapa menderitanya mual dan muntah. Entah dia patut bersyukur atau bersedih. Satu sisi dia aman, tapi sisi lain dia ikut sedih melihat suaminya amburadul karena rasa mual-nya pindah pada pria itu.
Dia sempat mengalami itu tapi hanya sebentar.
Mama datang dari dapur membawa secangkir teh lemon untuk pereda mual. Beliau yang tahu kebiasaan baru ini terjadi pada putranya cepat tanggap. Tanpa perintah, beliau langsung membuatkan minuman pereda mual.
"Berikan pada suami kamu," kata mama menyerahkan cangkir bening pada Luna. Tangan Luna menerima sodoran cangkir dari mama mertua.
"Ini minumlah," pinta Luna sambil memegangi cangkir. Ian meneguk teh lemon hangat itu. Rasa hangat mulai menjalari perutnya. Teh lemon ini begitu manjur untuk menekan rasa mual dan tidak nyaman setelah muntah.
Setelah merasa nyaman, Ian melepaskan cangkir dari bibirnya. Luna mengerti dan menjauhkan cangkir.
..._____...
__ADS_1