Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 87


__ADS_3

Makam?


Meskipun tidak paham, Danar mengarahkan mobil menuju ke pemakaman besar yang letaknya bisa di capai sekitar setengah jam dari tempat acara.


"Lebih cepat, Danar. Aku tidak ingin kehilangan mereka berdua," pinta Luna.


"Ya." Danar tahu harus apa.


**


"Ian!" panggil Yuda yang melihat pria itu berjalan di pemakaman. Ian yang masih memakai jas terkejut dan heran melihat pria ini disini.


Perasaan Ian tidak enak.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Ian.


"Aku bersama dia," tunjuk Yuda dengan dagunya ke arah bocah keriting. Ian menoleh. Matanya melebar melihat Elio tengah asik berlarian di sekitar makam ibunya.


Dugaannya benar. Bocah itu ada di sini. Bahkan tidak sendiri. Dia bersama bocah itu.


"Jadi kamu menculiknya?" desis Ian marah.

__ADS_1


"Kalau aku ingin menculiknya, aku tidak akan memanggil mu barusan. Aku akan memilih bersembunyi. Bahkan segera mengajaknya pergi dari sini sebelum bertemu dengan mu," kata Yuda tenang.


Ian melihat ke arah Elio yang masih tidak menyadari keberadaannya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ian sambil menoleh ke sekitar.


"Kamu pasti tahu apa yang aku lakukan melihat tempat pemakaman ini." Yuda menunjukkan dengan tangannya.


Ian tahu. Itu makam istrinya. Tepat di depannya.


"Jadi coba saja katakan apa yang sebenarnya terjadi?" desak Ian.


"Papa!" panggil bocah itu yang akhirnya menyadari kemunculan Ian.


Bocah itu berlari menuju ke Ian. Pria ini menangkap tubuh bocah itu yang meloncat ke arahnya tanpa aba-aba.


Hup! Tubuh Elio langsung masuk ke dalam pelukan Ian. Dia memeluk Elio dengan erat. Meskipun dia dan bocah ini tidak ada hubungan darah sama sekali, dia sudah menyayanginya.


Yuda melihat itu, lalu melihat ke makam Mina.


"Putramu sudah bahagia dengan lelaki itu. Jadi jangan membuatnya mencari mu lagi, Mina. Biarkan dia bahagia dengan wanita sebentar lagi akan jadi mamanya," lirih Yuda seakan berdialog dengan seseorang.

__ADS_1


"Papa tidak menjemput ku kan?" tanya Elio berharap.


"Kenapa? Kamu enggak mau pulang?" Ian balik bertanya. Mendengar nada bicara Elio, bocah ini seakan tidak ingin Ian membawanya pergi. Elio masih ingin di tempat ini.


"Aku masih mau main sama Om Yuda di sini," jawab Elio lugu. Wajahnya ceria saat mengatakannya. Ian menatap Elio lama. "Kenapa papa diam? Elio bolehkan, main lagi disini?"


Ian tidak pernah melarang bocah ini main asal tidak berbahaya. Namun di sini ... di tempat ini ...


"Pasti boleh. Iya kan, Papa Ian?" tanya Yuda menjadi juru bicara Elio.


Ian menoleh pada Yuda. Tidak menyangka Yuda akan berkata seperti itu. Ian melihat Yuda geram.


"Boleh kan Pa?" tanya Elio lagi. Dia merajuk. Ian ragu. Ada banyak orang yang harus dia perhatikan. Ada banyak hal yang harus ia lakukan.


"Elio bisa bersama ku," kata Yuda.


"Baiklah." Ian mengalah.


"Horee!!! Asyik! Aku masih bisa main disini." Elio bersorak kegirangan. Dia terlalu senang. Ayo Pa. Turunkan aku. Aku mau main," pinta Elio. Ia terburu-buru ingin berlari-lari seperti tadi.


"Iya, iya. Papa akan turunkan kamu," kata Ian sambil tersenyum. Dia pun merunduk untuk menurunkan kaki Elio pada tanah. Dengan hati-hati akhirnya Elio menapak di tanah.

__ADS_1


Bocah itu pun berlari kegirangan mendapat ijin untuk menambah jam bermain di sini.


..._____...


__ADS_2