
Luna tersenyum geli. Ia menepuk lengan suaminya pelan. "Sudah dari tadi aku temani kamu kan? Sekarang waktunya makan. Aku juga lapar ini." Luna menyentuh perutnya yang sudah nagih meminta makan.
"Baiklah." Ian terpaksa rela melepaskan tangan istrinya. Dia bisa menahan diri dari rasa lapar untuk selalu berdekatan dengan istrinya, tapi ketika istrinya lapar, dia tidak harus menahannya untuk pergi makan. Ian tahu Luna begitu suka makan. Meski begitu, tubuhnya tidak bisa cepat melar.
"Tunggu, ya sayang. Aku akan segera balik kesini. Nanti aku suapin," kata Luna sambil memamerkan senyum di bibirnya. Ian mengangguk.
***
Luna turun dari lantai atas menuju ke dapur. Dapur terlihat lengang. Entah di mana mama dan Elio. Tiba-tiba tubuh Luna oleng. Dia menepi untuk berpegangan pada meja dapur. Berusaha menenangkan diri dengan memejamkan mata sejenak. Setelah beberapa menit merasa baikan, ia membuka mata.
"Kenapa aku ini?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Ia memijit kepalanya. Ada rasa pening yang menyerangnya tiba-tiba. "Oh, aku mungkin kelaparan hingga kepalaku pusing sekali." Luna ingat ia tidak jadi makan karena 'di ganggu Ian suaminya'.
Luna mengambil kesimpulan untuk menenangkan dirinya. Setelah itu ia membuka tempat makanan yang sudah siap. Mengambilkan seporsi makanan untuk dirinya dan Ian.
__ADS_1
Setelah menyiapkan makanan dengan lengkap, Sora kembali menuju kamar dengan nampan di tangannya. Sebelum sampai di depan pintu, Ian sudah muncul dengan tubuh atasnya yang polos tanpa pakaian. Luna melebarkan bola matanya terkejut.
"Eh, kenapa keluar tanpa pakai baju?" tegur Luna.
"Aku ingin menjemput kamu di dapur." Ian langsung mengambil nampan dari tangan Luna. Dengan cepat nampan itu berpindah dengan cepat pada tangannya.
"Kayak yang pergi jauh aja jadi di jemput." Luna tersenyum mendengar itu. Ian ikut tersenyum. "Ayo cepat masuk kamar. Aku tidak mau tubuh bagus kamu di lihat oleh banyak orang. Ini tidak untuk di bagi pada semua orang." Luna dorong tubuh suaminya untuk segera masuk ke dalam kamar.
Ian tergelak.
"Ughh ..." Langkah Luna terhenti. Tangannya memegangi kepalanya. Ia merasa sangat pusing.
"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Ian langsung menghampiri Luna dengan cemas. Ia menyentuh lengan Luna dan garis pipinya. Mencoba melihat keadaan istrinya. "Kamu pucat sekali. Ayo cepat duduk." Ian membimbing istrinya menuju ke ranjang.
__ADS_1
"Sepertinya aku anemia," keluh Luna. Ian menyentuh kening istrinya. Tubuhnya tidak panas. Suhu badannya sepertinya normal.
"Sebaiknya kita ke dokter." Ian langsung mengambil keputusan.
"Tidak. Aku tidak apa-apa," tolak Luna seraya menggelengkan kepalanya. Ian menghela napas melihat ini.
"Oke. Lebih baik kamu segera makan." Ian berdiri, lalu mendekat pada meja dimana ia meletakkan nampan yang Luna bawa dari dapur tadi. Ia mengambil seporsi kecil lalu membawanya pada Luna. "Ayo aku suapi." Ian langsung menyendok nasi.
"Padahal aku janji untuk menyuapi kamu. Ternyata aku malah yang di suapi." Luna tersenyum tipis.
"Lain kali kamu bisa menyuapiku. Sekarang kamu yang lebih penting. Wajah mu pucat. Mungkin itu salahku membuat kamu harus menghabiskan banyak tenaga di atas kasur," kata Ian langsung membuat Luna tersipu.
"Hoek!" Setelah mengatakan dia tidak apa-apa. Perempuan ini justru mual ingin muntah.
__ADS_1
"Sayang ... kita harus ke dokter sekarang juga." Ian kembali menegaskan. Luna mengangguk pelan karena melihat tatapan tegas dan cemas dari bola mata suaminya. Itu artinya tidak boleh di bantah.
...***...