Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 42


__ADS_3

Mobil Ian tiba di rumah Luna agak lama. Sepertinya Pak Ian sengaja memperlambat laju mobilnya karena ingin berlama-lama di jalan dengan Luna.


 


"Terima kasih, Pak," ucap Luna sebelum turun dari mobil.


 


"Tidak ada tawaran minum kopi atau apa?" tanya Ian mengherankan.


 


"Emm ..." Luna bingung sambil mengerjapkan mata.


 


"Aku akan turun dan mampir," ujar Ian mulai menggunakan jurus memaksa. Bahkan saat Luna belum keluar dari mobil karena masih kebingungan dengan pertanyaannya, pria itu sudah keluar lebih dulu. Bahkan membuka pintu mobil untuk Luna. "Ayo." Pak Ian bahkan mengulurkan tangannya untuk menjadi pegangan Luna keluar dari mobil.


 


"Jangan begini, Pak. Saya kerepotan nanti," keluh Luna. Namun Ian tidak peduli.


 


"Sepertinya kamu wanita pertama yang repot saat aku membantu," ujar Pak Ian membuat Luna sadar.


 


Soalnya nanti aku kerepotan kalau jatuh cinta sama Anda, Pak, batin Luna asal.


 


Bi Muti terkejut melihat kemunculan pria ini. Karena Pak Ian hanya datang sendirian tanpa bocah kecil itu. Beliau memperhatikan mereka berdua dari dapur.


 


"Selamat malam, Bi Muti," sapa Pak Ian. Bi Muti yang terlihat dari pintu dapur bengong. Sampai-sampai beliau tidak menjawab sapaan Pak Ian.


 


"Eh, iya Pak." Bu Muti baru sadar saat pria itu sudah berjalan menjauh dari belakang rumahnya.


 

__ADS_1


Luna membuka pintu perlahan dan agak lama. Karena ia tidak ingin cepat masuk ke rumah. Itu artinya dia akan berdua saja tanpa Elio.


 


"Tidak bisa di buka, Luna? Biar aku bantu." Pak Ian sudah maju dan berdiri sangat dekat dengannya. Membuat Luna menahan napas sejenak.


 


"B-bisa," sahut Luna sambil sedikit merundukkan tubuhnya untuk menghindari wajah Pak Ian yang berjarak tipis dengannya. Luna menyegerakan membuka pintu.


 


Bahaya! Bahaya!


 


"Silakan masuk, Pak." Luna mempersilakan pria ini masuk setelah ia masuk lebih dulu.


 


"Ya, terima kasih," sahut Ian.


 


"Saya buatkan Pak Ian minum dulu."


 


 


"Masa tamu di kasih air putih saja, Pak. Saya yang enggak enak," ujar Luna.


 


"Tidak apa-apa. Kamu mau ganti baju dulu kan?" Pak Ian justru mempersilakan perempuan ini untuk ganti baju. Luna sampai mengerjapkan mata heran.


 


"Tapi ..." Dia memang mau ganti baju, tapi kalau ada Pak Ian lebih baik tidak ganti baju saja.


 


"Aku akan sabar menunggu," kata Ian. Luna mau membantah, tapi pria ini sepertinya tidak akan mendengarkannya.

__ADS_1


 


"Kalau begitu saya ganti baju dulu." Luna meminta ijin ke kamar. Di dalam kamar, Luna menggumam perihal sikap Pak Ian. "Pak Ian lagi kenapa sih? Kok sempat-sempatnya menyuruh aku ganti baju segala. Mana ada baju yang bagus di rumah. Semua baju untuk jadi gembel nih. Enggak ada yang bagus buat tebar pesona di rumah," keluh Luna. "Eit, kenapa aku mikir mau tebar pesona? Gila." Luna memukul kepalanya sendiri supaya sadar.


 


Akhirnya piyama dengan motif bintang yang ia pakai.


 


"Meksipun kecil, aku merasa nyaman di rumah ini," celetuk Pak Ian saat Luna baru saja keluar dari kamar.


 


"Hmmm ..." Luna manggut-manggut. Menurutnya kecil ya kecil. Rumahnya yang sempit ini tentu ada karena keterpaksaan saja. Bukan karena ingin. Beginilah orang yang hidup pas-pasan.


 


"Gimana dengan pekerjaan di kantor?" tanah Ian.


 


"Baik," jawab Luna singkat.


 


"Kenapa kamu duduk jauh seperti itu?" tanya Pak Ian heran melihat Luna duduk dengan jarak yang lumayan jauh. "Kalau mau ngobrol, lebih baik kamu mendekat. Tidak nyaman bicara dengan jarak berjauhan seperti ini."


 


Justru dengan jarak yang seperti ini, itu nyaman, Pak.


 


"Enggak apa-apa, saya bisa dengar kok kalau Bapak ngomong," ujar Luna dengan senyum sopan.


 


"Hhh ... Luna. Tidak mungkin kita itu bicara dengan berjauhan," kata Pak Ian seraya mendekat. Luna waspada. Pria ini pindah duduk yang lebih dekat dengannya. "Jadi lebih baik aku yang mendekat," ujar Ian mengambil keputusan.


 


Luna mendelik.

__ADS_1


..._______...



__ADS_2