Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 114


__ADS_3

Bulan ke sembilan.


Luna meringis memegangi perutnya yang terasa kaku. Napasnya naik turun merasakan rasa sakit yang luar biasa. Mama yang menemaninya, mulai ikut panik.


Menurut HPL (Hari perkiraan lahir) yang di katakan dokter, Luna kemungkinan akan melahirkan bulan depan. Namun ternyata awal bulan ini, Luna sudah menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Padahal Ian masih berada dalam pertemuan penting dengan klien.


Memang kelahiran bayi tidak bisa di perkirakan dengan pasti, tapi ini terlalu jauh dari perkiraan. Semua rencana yang sudah disiapkan sedikit kacau. Rencana dimana Ian akan menemani Luna melahirkan gagal.


Tanpa pikir panjang, Mama membawa Luna ke rumah sakit. Sampai di sana Luna langsung di tangani. Luna di bawa ke Ruang observasi untuk melalui tahap pertama persalinan atau yang biasa disebut Kala 1. Ini adalah fase di mana berlangsungnya pembukaan serviks, mulai dari bukaan 0 sampai 10.


Kamar ini seperti kamar perawatan di rumah sakit yang biasa kita lihat atau seperti suasana ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di mana ada beberapa dipan pasien berjejer dengan tirai penyekat.


"Mama yang temani ya sayang ... Ian sedang ada pertemuan penting," kata mama lembut. Beliau ikut cemas melihat Luna. Kepala Luna mengangguk.


Ia tidak peduli lagi siapa yang menemaninya sekarang. Rasa sakit yang luar biasa mengalahkan kehadiran Ian yang kosong dalam momen penting ini.

__ADS_1


"Argh ..." Luna mengerang sakit saat bayi yang di dalam perutnya seakan bergerak aktif. Ini memicu kontraksi pada perut dan menyebabkan sakit yang luar biasa hebatnya.


Mama memegang tangan Luna dengan erat. Meskipun pernah melahirkan, mama masih saja meringis dan sedikit gemetar tatkala melihat Luna kesakitan.


"Ini belum waktunya melahirkan, Ma?" tanya Luna tidak sabar dengan wajah pucat.


"Belum sayang. Kata dokter masih pembukaan enam," kata mama sambil mengelus kepala menantunya. Mencoba membuat


Dokter mencoba melihat mulut rahim sudah ada pada pembukaan ke berapa.


"Baik Dok."


**


Di lain tempat.

__ADS_1


Ian sedang menemui klien untuk membicarakan kerja sama. Ini tender besar. Bisa di katakan ini sangat penting. Namun pesan yang di sampaikan mama setelah berulang kali menelepon, membuatnya tidak tenang.


"Luna mau melahirkan. Jika ada waktu, pulang dengan cepat. Namun jika tidak bisa di tinggal, mama sudah siap menemani. Sekarang mama sedang bersama Luna." Begitu pesan yang di sampaikan mama. Ian yang berpikir bahwa kelahiran bayinya masih bulan depan, sungguh tidak percaya.


Bukan tidak percaya mama akan siaga dalam menemani Luna, tapi ini lebih kepada ego dirinya sendiri. Dia ingin menemani kelahiran anak pertama yang menjadi darah dagingnya.


"Ada yang masalah, Pak Ian?" tanya seorang pria yang merupakan pemilik dari perusahaan textil.


"Ah, tidak. Tidak ada masalah apa-apa." Ian berusaha mengaburkan rasa gelisah-nya. Namun pria yang akan bekerja sama dengannya sudah menemukan rasa gelisah yang menyerang Ian.


Pria itu tersenyum. "Bagiamana kabar istri Anda?" tanya pria itu tiba-tiba. Ian agak terkejut. "Saya mendengar istri Anda sedang hamil besar." Rupanya pria ini sudah tahu tentang Ian lebih jauh daripada yang dia tahu.


"Anda benar." Ian mengangguk sambil tersenyum. Ia teringat lagi soal pesan dari mama. Wajah cemasnya kembali muncul.


"Apa istri Anda mau melahirkan hari ini?" tanya pria itu mengejutkan.

__ADS_1


...____...


__ADS_2