Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 73


__ADS_3

"Protes? Protes soal apa?" tanya Bu Muti heran.


"Bukannya pilihan mama Pak Ian itu salah, Bi. Buktinya Elio saja yang di anggap cucu kandungnya ternyata bukan anak Pak Ian. Berarti pilihan orang tua enggak musti benar kan?"


"Mama Ian belum tahu itu anak siapa?" tanya Bi Muti terkejut.


"Dari cara bicaranya, aku rasa begitu. Sepertinya Pak Ian tetap menyembunyikan soal itu," terang Luna.


"Ya ampun." Bi Muti sampai menutup mulutnya karena terbuka. Luna mengedikkan bahunya. "Pak Ian memang pria baik sedunia," ucap Bi Muti setelah hilang rasa terkejutnya. "Yahh ... Meskipun begitu, enggak mungkin mama Pak Ian sengaja memilihkan istri untuk putranya dengan perempuan enggak baik kan?" Bi Muti membela keluarga Pak Ian. Luna menipiskan bibir kesal. "Benar kan? Masa iya seorang ibu menjodohkan putranya dengan perempuan enggak baik-baik. Enggak mungkinlah ..."


Sebagai orangtua, Bi Muti paham.


"Kenyataannya kan begitu, Bi," kata Luna ngeyel.


"Soal itu memang kita tidak bisa menjamin seratus persen, Lun. Buktinya Pak Ian bisa menjadi orang baik. Menerima istrinya yang sudah punya anak dari pria lain. Kebesaran hati itu mungkin turunan dari keluarganya juga. Jadi jangan langsung menghakimi ibu Pak Ian dengan cap buruk." Bi Muti menasehati.


"Bi. Aku ini yang curhat lho," kata Luna ingin bibi memihak dirinya dengan jenaka.


"Tahu, bibi tahu. Kalau kamu memang mau Pak Ian jadi suami kamu, ya kamu tetap coba dekati orangtuanya dong. Masa kamu mau sama anaknya, orangtuanya mau kamu cuekin."


"Bukan mau cuekin, aku agak keder saat ditanyai semacam itu, Bi."


"Biar saja di tanya macam-macam. Kamu harus menunjukkan kalau kamu kuat dan mampu jadi pendamping Pak Ian. Kamu akan merugi sendiri kalau mau melepas pria semacam Pak Ian. Tampan, kaya dan baik. Mungkin saja enggak ada keberuntungan untuk kamu lagi jika kamu melewatkan yang satu ini."


"Itu lebih menakutkan, Bi." Luna bisa membayangkan jika keberuntungan seperti ini akan menjauh darinya.


"Benar kan? Lebih baik terlihat kuat saja menghadapi mama Pak Ian. Toh, Pak Ian enggak akan tinggal diam karena dia mencintaimu," ujar Bi Muti memberi semangat.


Luna mengangguk. "Aku tahu itu. Dia akan selalu memihak ku."


Dia tahu Pak Ian akan berjuang untuknya. Pria itu punya pengertian sekali tentang hal itu. Saat itu ponselnya berbunyi. Ada pesan yang masuk.


"Lagi istirahat? Maaf tadi enggak bisa nganterin pulang." Mendadak Ian mendapat telepon penting yang tidak bisa di abaikan. Jadi Luna yang sedikit memaksa pulang, di antar oleh sopir rumah keluarga Ian.


"Ya. Nggak apa-apa," balas Luna.


"Besok pagi aku jemput. Sekarang istirahat saja."


"Ya," balas Luna.

__ADS_1


**


Pagi hari. Waktu Ian menjemputnya untuk berangkat kerja.


"Halo, selamat pagi sayang," sapa Ian sambil membuka pintu mobil.


Sayang? Dia benar-benar memanggilku seperti itu? Lelah karena mamanya kemarin langsung lenyap.


"Pagi juga," sahut Luna sambil tersenyum. Saat Luna sudah masuk ke dalam mobil, Ian menyusul.


"Tidur kamu nyenyak?"


"Lumayan," bohong Luna. Karena dia terus berguling kesana-kemari karena cemas dan gelisah.


"Maaf aku tidak memberi tahu kalau di rumah ada mama kemarin," kata Ian sambil tetap menyetir.


"Enggak apa-apa. Aku juga salah tidak memberi kabar terlebih dahulu kalau mau ke sana," kata Luna menyadari kejutannya terbalaskan dengan kejutan yang lebih dahsyat.


"Mama tidak bicara macam-macam?" tanya Ian merasa ada yang di sembunyikan Luna darinya.


"Tentu saja bicara macam-macam," sahut Luna.


"Benarkah?" tanya Ian terkejut.


"Tentu saja begitu," kata Ian sambil tersenyum mendengar itu. "Tapi jika mama bicara macam-macam soal hubungan kita, lebih baik kamu katakan saja semua padaku," kata Ian dengan raut wajah agak serius.


Luna mengalihkan pandangan ke arah lain saat Ian menatapnya sekilas. Dia tidak ingin pria ini tahu kegelisahan di dalam matanya.


"Iya, tentu."


"Aku tahu bagaimana mama. Jadi jika ada sedikit kalimat mama yang menyakitimu, sebaiknya katakan padaku. Janji?"


Luna menoleh dan mengangguk untuk melegakan hati pria ini. "Kenapa Pak Ian ..."


Mendengar sebutan itu, Ian melirik tajam. Ah, iya aku lupa. Aku harus memanggilnya dengan panggilan sederhana. Bukan Pak Ian karena terdengar formal.


Luna mengerjapkan mata. "Ah, iya. Kenapa kamu tidak menyuruh ku berbaik-baik pada mama?"


"Kenapa?" tanya Ian balik.

__ADS_1


"Bukannya setiap pria biasanya memberi semacam ultimatum bagi setiap calon istrinya untuk bersikap baik pada orangtuanya. Bukannya memberi nasehat semacam itu, kamu justru ingin aku mengadukan mama jika ada kata-kata mama yang menyakitkan," terang Luna.


Ian menoleh pada Luna dengan mengernyitkan dahinya. Tanpa aba-aba, tiba-tiba pria ini memutar kemudi. Menepikan mobil dan berhenti.


Luna tegang juga. Ia sudah merasa pertanyaannya keliru. Jadi berpura-pura melihat ke arah lain demi menghindari tatapan Ian.


Kenapa aku tanya yang aneh-aneh? Lebih baik tetap diam saja seperti tadi kan? Kalau begini aku kebingungan saat dia justru memasang wajah serius.


"Lun, lihat aku," panggil Ian.


Sial. Dasar mulut tidak bisa di kontrol.


"Ya?" Luna memalingkan wajah dari jendela dan menoleh ke Ian. Pria itu menatapnya lurus.


"Aku tidak perlu mendikte kamu untuk baik pada orangtuaku. Karena aku tahu kamu pasti melakukan itu tanpa aku beri nasehat. Kamu cukup dewasa untuk tahu hal semacam itu kan Lun?" tanya Ian sambil menatap Luna.


"Aku ... senang kamu berpikir aku seperti itu, tapi sejujurnya aku takut," kata Luna jujur.


"Takut?" tanya Ian terkejut.


"Ya. Ini pertama kalinya aku menghadapi ibu dari kekasihku," kata Luna sambil tersenyum kaku. Berusaha tampak biasa saja.


"Oh, Luna." Ian mendadak memeluk Luna.


Apa? Apa? Kenapa aku mendadak dipeluk? Luna mengerjapkan mata bingung.


"Aku tidak tahu, kamu berpikir seperti itu. Kenapa harus takut? Bukannya ada aku?" tanya Ian masih memeluk gadis ini.


"Iya, tahu," sahut Luna singkat. Lalu Ian melepas pelukannya.


"Ini bukan hal yang perlu kamu khawatirkan. Pasti mama bicara yang aneh-aneh kamu jadi setakut ini. Aku akan bicara pada mama nanti."


"Tidak. Jangan. Tidak ada pembicaraan aneh. Kita hanya mengobrol biasa saja." Luna panik. Dia tidak mau di cap sebagai pengadu.


"Semakin kamu menyangkal, aku semakin yakin kalau mama bicara yang aneh-aneh."


"Tidak. Biarkan saja. Meskipun mama kamu memang bilang aneh-aneh, aku wajib mendengarkan dengan baik," sergah Luna.


"Sekarang kamu mengaku sendiri kalau mama bicara aneh, Lun ..." ungkap Ian.

__ADS_1


Oh?


...______...


__ADS_2