Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 53


__ADS_3

Pesta ulang tahun perusahaan belum usai, Luna dan keempat orang lainnya masih berada di lokasi acara.


Luna yang menemani Yuda terpaksa ikut minum meskipun hanya sedikit demi formalitas. Itu pun dia meringis karena pahit. Meskipun ada minuman yang mirip sirup tapi dengan rasa gula yang tidak terlalu tegas, dia tetap tidak minum.


Selain karena tidak bisa minum, dia juga harus tetap fokus. Danar yang sejak tadi harus fokus, juga tidak minum. Dia hanya mencoba minum soda saja.


Bola mata Luna tertambat oleh Naura yang berusaha mendekati Pak Ian. Mencoba mesra karena mereka sedang di awasi oleh yang lainnya. Ck! Luna berdecih tanpa sadar. Yuda menoleh.


"Decihan mu untukku atau Ian?" tanya Yuda membuat Luna menoleh cepat. Masih dengan suara berat.


"Apa? Ini tidak ada hubungannya denganmu," sahut Luna pelan.


"Jadi ada hubungannya dengan Ian?" tanya Yuda yang mungkin hanya bisa di dengar oleh Luna saja karena pelan.


"Memangnya pilihannya hanya ada Pak Ian dan kamu?" tanya Luna balik. "Lebih baik kamu berpikir yang lain saja daripada terus mengamati ku," pesan Luna.


"Karena kamu datang denganku, aku jadi ingin mengamatimu," tukas Yuda sambil tersenyum.


"Kamu memang pria yang tidak ada kerjaan," tukas Luna dengan nada bercanda. Yuda hanya mengangkat bahu menanggapi celaan Luna.


"Kenapa kamu hanya minum itu, Danar?" tanya Yuda dengan suara berat.


"Dia harus bangun karena menyetir," kata Luna memberi penjelasan. Pria itu harus selalu siap.


"Oh, begitu ya ..." Yuda menganggukkan kepala. Luna melipat tangan karena mulai dingin. Tiba-tiba Yuda melepas jasnya dan memakaikan pada Luna. Gadis ini terkejut.


"Apa?" protes Luna.


"Kamu kedinginan. Jadi aku pikir sebaiknya kamu memakai jasku," kata Yuda. Ian yang duduk tidak jauh dari Luna menoleh cepat. Luna juga sama. Dia melirik ke arah Ian dengan cemas.


"Wah, Yuda. Aku pikir dia memang tertarik dengan Luna. Lihatlah bagaimana dia memperlakukan gadis itu. Ini jarang sekali terjadi bukan?" kata Naura makin membuat Ian panas. Dasinya mulai terasa menekan lehernya. Ia pun melonggarkan dasinya perlahan.

__ADS_1


Naura heran.


"Kamu kenapa Ian? Aku bantu?" tanya Naura yang langsung menjulurkan tangan pada dasi Ian. Namun pria ini menepisnya.


"Aku bisa sendiri Naura," kata Ian dingin. Perempuan ini terkejut.


"Kamu kenapa belakangan ini Ian? Seperti terus saja gusar. Itu menyebalkan. Kamu tidak seperti Ian biasanya." Naura mulai mendrama. Dia menyadari keanehan Ian makin menjadi.


"Bukan hanya belakangan ini, Naura. Bukankah sudah aku katakan kita break dulu menjalani hubungan."


"Kamu selalu saja begitu. Pasti ini karena Elio. Hhh ... Okelah. Aku yang harus bersabar." Naura langsung memilih tenang karena Ian mulai membahas lagi untuk break dari hubungan ini. Ia takut Ian mulai membuangnya. Padahal rencananya belum terlaksana. Atau ... ia ingin pria ini benar-benar menikahinya?


Danar menghela napas melihat semuanya. Ia yang hanya sebagai penonton jadi ikutan lelah.


"Aku tidak apa-apa, Yuda. Pakai kembali jas kamu." Luna melepas jas yang ada di punggungnya.


"Santai saja. Aku tidak masalah. Pakai itu sementara aku akan menghabiskan minumanku," kata Yuda dengan senyum. Tangannya menahan Luna melepaskan jas. Ck! Luna terpaksa setuju.


"Nah begitu. Jadi kamu tidak kedinginan," kata Yuda.


Baru setelah setengah jam, Yuda bersandar di tubuh sofa dan memejamkan mata. Ian sendiri sudah tidak ada di tempat mereka. Pria itu tengah mengantar Naura pulang terlebih dahulu. Karena kalau tidak, perempuan itu akan mengganggu rencana. Sementara Danar tetap di tempatnya. Menunggu kode dari Luna untuk mengantarkan Yuda pulang.


Luna menengok ke samping. Yuda masih memejamkan mata. Lalu ia menoleh ke Danar untuk bertanya. Apakah Yuda pingsan? Danar menggelengkan kepala.


"Hei, Yuda. Kamu harus pulang," kata Luna mencoba membangunkan pria ini. Berbeda dengan tadi, kali ini nada bicara Luna lebih kasual dan seenaknya.


Namun Yuda tidak bergerak. "Hei, pembohong." Luna menekan telunjuknya pada pipi Yuda untuk membangunkannya.


"Hmm?" tanya Yuda merespon. Namun mata pria ini masih tetap terpejam. Luna sempat berjingkat kaget.


"Ternyata kamu belum pingsan," cela Luna. "Ayo pulang. Mumpung masih ada Danar jadi dia bisa mengantarmu," usul Luna.

__ADS_1


"Hmm." Yuda menyahut tidak jelas. Entah dia setuju atau tidak. Namun dia mulai menjauhkan punggungnya dari sofa. Luna menganggap itu setuju.


"Bantu aku memapahnya, Danar," kata Luna seraya melambai pada pria itu. Danar berdiri dan membantu Luna untuk memapah.


"Aku bisa berjalan sendiri," kata Yuda dengan suara yang di seret berat. Bola matanya juga sedikit merah. Dia benar-benar menghabiskan banyak minuman hari ini. Apa dia sudah mabuk berat?


"Oh, kalau begitu Danar akan menyiapkan mobil. Kamu pasti tidak bisa menyetir dalam keadaan begini." Luna setuju. Dia menoleh pada Danar yang baru saja mendekat. "Danar, kamu siapkan mobil saja dulu." Luna memberi perintah baru.


Padahal baru saja ia mendekat dan hendak menyentuh Yuda untuk membantu. Namun gadis ini sudah memberi perintah baru. Luna mengibaskan tangannya menyuruh Danar untuk pergi.


Danar melebarkan mata memprotes Luna yang seenaknya saja memberi perintah padanya. Namun dia tidak bisa protes karena sebentar lagi perempuan ini akan jadi nyonya. Ya ... setelah dia tahu Pak Ian punya perasaan spesial pada Luna, ia harus tahu bagaimana memperlakukan gadis ini dengan baik dan hormat. Ia tidak boleh sembarangan.


"Ya," sahut Danar menahan kesal. Lalu berjalan keluar untuk menyiapkan mobil. Sementara itu Yuda berjalan dengan sedikit bersandar pada Luna.


Untung saja enggak ada Pak Ian. Kalau dia tahu aku berjalan sangat dekat dengan Yuda seperti ini, pasti dia heboh lagi, keluh Luna sekaligus lega.


Yuda dan Luna pun berjalan menuju ke area parkir. Disana, Danar sudah siap dengan mobil milik perusahaan.


Karena lelah Yuda bersandar padanya, Luna memanggil Danar yang sudah terlihat dari tempatnya berdiri. Ia melambaikan tangan untuk meminta bantuan pria itu.


Dasar perempuan ini seenaknya saja, geram Danar. Namun dia bisa menekan kesal karena ingat Luna adalah calon istri atasannya.


Danar mendekat dan berganti memapah Yuda. Luna maju lebih dulu. Ia harus membuka pintu untuk Danar mendudukkan kepala Yuda.


"Awas kepalanya Yuda kejedot," ingat Luna pada Danar.


"Aku tahu," sahut Danar.


"Hanya ngingetin." Luna membalas. Setelah tubuh Yuda di dudukkan di mobil, Luna ikut masuk ke dalam. Sementara Danar masuk ke mobil lewat pintu depan. Mereka siap mengantar Yuda pulang ke apartemennya.


...____...

__ADS_1



__ADS_2