
Luna terdiam mendengar Karin bicara. Kemudian mengerjap setelah beberapa detik diam.
"Naura? Bukannya dia kekasih Pak Ian? Lalu Yuda ... dia kan temannya Pak Ian."
"Kamu mungkin enggak percaya aku ngomong begini, tapi aku benar Luna. Pak Ian dalam bahaya. Kamu harus beri tahu Pak Ian, Lun. Dia terancam bahaya. Kamu juga harus hati-hati dengan mereka berdua," pesan Karin masih dengan wajah horornya.
"Iya. Aku percaya, tapi maaf belum seratus persen Karin."
"Kamu salah Lun kalau enggak percaya sama aku." Karin kecewa.
"Iya, ngerti. Aku akan coba cari tahu juga. Supaya aku bisa punya bukti ke Pak Ian kalau kata-kata kamu benar. Karena orang itu tidak akan langsung percaya begitu saja Rin. Bisa-bisa aku yang di tuduh mengarang cerita. Berbahaya buat aku juga kan?" Luna berusaha memberi pengertian.
Karin menghela napas masih dengan ketakutan yang tersisa. Luna mengelus lengan perempuan ini untuk menenangkan.
"Kamu harus bisa tenang, Rin. Kamu masih jadi panitia acara ulang tahun yang belum kelar. Jangan hilang fokus. Nanti kamu keteteran. Itu akan membuat dampak buruk buat pekerjaan mu. Bahkan Pak Ian juga akan memandang negatif ke kamu kalau acara puncak ulang tahun enggak sukses."
"Mati aku." Karin seperti putus asa.
...***...
Luna sengaja tidak langsung pulang. Dia yang tahu Yuda masih di perusahaan menunggu di tempat parkir. Saat mendengar ada suara langkah sepatu, dia bersiap membuat kejutan untuk pria itu. Seperti pura-pura tertabrak. Karena ia butuh alasan untuk akrab lagi. Tidak mungkin ia langsung mendatangi Yuda dan bersikap manis. Bukannya dia sudah menunjukkan sikap dingin tadi pagi?
Setelah yakin suara itu dekat dengan tempat ia menunggu, Luna langsung menabrakkan diri dengan sengaja. Hingga tubuhnya berpura-pura hampir jatuh.
"Luna?"
Suara itu mengejutkan Luna. Dia yang sudah di tangkap oleh tangan kuat itu mendongak.
Pak Ian? Aduh! Salah sasaran nih.
__ADS_1
"Kamu enggak apa-apa Luna?" tanya Ian cemas.
"I-iya, Pak." Luna berusaha bangkit dari jatuh pura-pura-nya dengan cepat. Ia tidak menduga pria ini yang muncul lebih dulu dari Yuda. Luna ingin secepatnya menyalakan mesin motor dan pergi menjauh.
Namun takdir justru membuatnya jatuh sungguhan. Gara-gara kakinya yang berpijak kurang benar, tubuhnya limbung, dan ini sungguhan. Bukan sandiwara yang di tujukan untuk Yuda. Tubuh Luna hampir saja terjungkal ke lantai kalau Pak Ian tidak segera menangkapnya.
"Hhh ... Hhh ..." Napas Luna terengah-engah karena terkejut. Juga merasa lega karena akhirnya dia selamat dari jatuh.
"Kamu enggak apa-apa, Lun?" tanya Pak Ian kedua kalinya. Luna ingin menjawab tapi ia mendelik hebat saat menyadari sedang memeluk tubuh pria ini.
Apa-apaan ini? batin Luna panik. Dia bergerak untuk melepas pelukan. Namun tidak di sangka, justru lengan Pak Ian tidak mau melepaskan.
"Pak ..."
"Diam saja dulu. Nanti jatuh lagi, Luna. Aku cemas," kata Ian membuat Luna yang tadi sudah deg-degan karena terkejut mau jatuh, kini makin deg-degan. Namun kali ini beda sebab. Luna berdebar karena pelukan Pak Ian. Juga karena kata-kata manisnya.
Luna jadi diam saja. Malu karena berdebar tidak karuan. Oh, aku berdebar-debar.
"Kaki kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Ian.
"Iya. Saya permisi, Pak." Luna langsung pamit. Ia ingin segera kabur. Namun Pak Ian masih menahannya dengan memegangi lengannya.
"Aku akan antar pulang," kata Pak Ian.
"Saya ... bawa motor, Pak." Tangan Luna menunjuk ke arah lain. Dimana motornya di parkir.
"Tinggalkan saja di sini." Ian memberi solusi yang seenaknya sendiri. Luna jadi ingat saat motornya di tahan setelah membuat mobil Pak Ian mengerem mendadak.
"T-tidak mungkin Pak. Saya kan berangkat kerja naik motor. Jika motor ada di sini, saya kerepotan naik angkutan umum," ujar Luna memberi alasan. Namun itu bukan bohong belaka. Itu kebenaran. Dia akan kerepotan kalau motor harus menginap di sini.
__ADS_1
"Aku akan menjemput kamu kerja besok. Jadi kamu tidak akan kerepotan naik angkutan umum," kata Ian membuat Luna melebarkan mata.
"T-tidak, Pak. Saya akan pulang sendiri. Saya tidak apa-apa." Luna tetap pada pendiriannya untuk pulang naik motornya sendiri. Pak Ian kenapa sih? Luna merengek di dalam hati.
"Kamu mungkin tidak apa-apa, tapi aku yang tidak bisa terima," kata Ian mengejutkan.
Luna mengerjapkan mata. Ia belum bisa langsung mencerna kata-kata Pak Ian. Ia perlu berpikir sejenak arti dari kalimat tersebut. "Tidak ... bisa ... terima? K-kenapa, Pak?" Meski terbata dan gugup, Luna masih punya kekuatan bertanya karena penasaran. Karena kalimat itu penuh dengan makna tersembunyi. Luna takut salah mengartikan, jadi ia bertanya langsung.
"Hhhh ..." Pak Ian menghela napas terlebih dahulu. "Karena hari ini aku ingin sekali mengantar kamu. Meskipun kamu bilang baik-baik saja pun aku tetap ingin mengantar kamu pulang, Luna," tegas Ian.
Apa? Luna langsung menundukkan pandangan karena wajahnya panas karena malu. Ia yakin pendengarannya masih normal.
"Lebih baik masuk ke dalam mobil dan aku antar pulang," ujar Ian lagi membuat Luna kebingungan. Tanpa permisi, Ian menarik tangan Luna dan membimbingnya menuju ke mobilnya yang dekat dengan mereka. Luna hanya terbengong-bengong sambil mengikuti apa yang di suruh Ian.
Satpam yang jaga di area parkir sempat terkejut. Namun ia langsung menunduk saat melihat bola mata Ian melihat ke arahnya. Seakan mengatakan tutup mata dan mulutmu!
...***...
Luna yakin sekarang ia sedang tidak bermimpi. Namun kenapa yang terjadi barusan mirip sekali dengan mimpi. Karena mendadak saja semuanya berubah. Dari niat Luna yang ingin mendekati Yuda untuk tahu lebih jelas soal apa yang di katakan Karin dengan memainkan sandiwara, sampai ia harus terjebak dalam mobil pria ini.
Semuanya bagai mimpi!
"Maaf memaksamu," kata Ian di dalam mobil. Rasanya permintaan maaf itu sia-sia saja. Toh, pria ini sudah memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Tidak apa-apa, Pak." Luna terpaksa mengalah. Kalau melawan atasan pasti kalah.
"Kaki kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Ian sambil memperhatikan kaki Luna.
"Tidak. Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja. Hanya kejadian seperti tadi tidak akan membuat saya tidak bisa jalan, Pak," kata Luna malu di perhatikan sedemikian rupa karena sakitnya tergolong tidak seberapa. Bahkan dia selamat karena sudah di tolong Pak Ian, bukan?
__ADS_1
...______...