Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 77


__ADS_3

Luna meraba wajahnya dengan gugup. "A-aku enggak mikir apa-apa. Hanya merasa panas saja," tepis Luna. Tangannya mengipasi wajahnya yang mendadak panas.


"Padahal angin malam ini agak kencang lho," sindir Ian. Dia tidak bohong soal ini. Angin malam ini memang agak kencang sampai rambutnya berkibar barusan. Luna pura-pura tidak dengar.


Elio melambaikan tangan bahagia karena main perosotan bersama teman barunya. Luna melambaikan tangannya juga.


"Dia semakin besar. Aku harap senyumnya selalu terlihat seperti ini," kata Ian mendoakan bocah gondrong itu.


"Ya." Luna ikut tersenyum. Ian membuka jaketnya. Lalu meletakkan jaket itu pada punggung gadis ini. Luna terkejut.


"Udaranya dingin sekali, Lun. Jangan berpura-pura kuat," kata Ian. Luna tergelak. "Oh, ya. Aku ada undangan di luar kota."


"Luar kota?" tanya Luna tegang. Ian mengangguk. "Berapa hari?"


"Dua hari."


"Oh, hanya dua hari." Luna bersyukur hanya dua hari.


"Itu lama Lun. Bukan hanya dua hari," kata Ian tidak setuju kalimat Luna terdengar mengentengkan.


"Aku tahu," sahut Luna geregetan. Karena dia sendiri sebenarnya enggak rela di tinggal pria ini. Sudah sangat terbiasa berdua.


"Kamu tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Ian menyelidik.


"Tentu saja. Kamu pikir aku juga suka jika di tinggal-tinggal kamu?" protes Luna menunjukkan kesedihannya.


"Aku pikir hanya aku saja yang berpikir begitu." Ian tersenyum dan membetulkan letak jaket di punggung Luna. Ternyata pikiran mereka sama.


**


Suasana di kantor sebenernya tidak jauh beda. Luna dan Ian juga ruangannya juga jauh. Namun terasa lain karena saat makan siang, tidak ada lagi pesan atau telepon yang membombardir dengan permintaan makan siang bersama.


"Lun! Aku mau minta uang buat acara reward karyawan tahun ini," kata Karin yang muncul membuka pintu tiba-tiba. "Hei, kenapa lesu? Apa kamu bertemu camer lagi?" tanya Karin setelah melihat wajah temannya lesu.


"Enggak. Aku belum bertemu setelah pertemuan waktu itu."


"Sekarang apa? Pacaran dengan pria tampan dan kaya kok malah enggak karuan begini, huh ...," cibir Karin.


"Aku sekarang lagi LDR-an."


"Ah, kemana Pak Ian?"


"Dia keluar kota sama Danar."


"Oh, lagi menjanda nih ... Berapa bulan?"


"Bukan berapa bulan, tapi dua hari."

__ADS_1


"Dua hari? Hanya dua hari?!" seru Karin terkejut. Kepala Luna mengangguk. "Hanya dua hari aja seperti di tinggal se-abad."


"Kalau seabad keburu tuwir dan enggak bisa dijamah Pak Ian, tahu," protes Luna.


"Huh, dasar. Udah enggak tahan di belai Pak Ian ya?" cibir Karin. Luna mencebik saja.


"Kamu enggak mengerti rasanya kangen sih ..."


"Nggak bakal ngerti emang. Ayo cepat kasih aku uang buat acara reward karyawan," tagih Karin.


"Aku dapat enggak?" selidik Luna.


"Kenapa kamu masih minta reward? bukannya kamu sudah dapat sumber reward-nya? Enggak perlu penghargaan apapun, kamu sudah nomor satu untuk Pak Ian. Paham?"


"Iya, aku paham banget. Makanya sekarang stress mikirin tuh laki jauh dariku." Luna meletakkan kepalanya di atas meja dengan malas. Tubuhnya pun menunduk mengikuti kepalanya.


"Hei, nih orang malah tiduran. Bangun. Ayo, ambilkan aku uang buat acara." Karin menarik tangan luna untuk bangkit dan ambil uang di dalam brankas.


"Iyaaa ... Bentar deh."


"Nanti malam nginap di rumahku ya ...," rengek Luna sembari menyerahkan uang pada Karin. "Tanda tangan."


Karin menerima uang itu lalu membubuhkan tanda tangannya pada selembar kertas estimasi yang di sodorkan Luna.


"Kenapa? Bukannya kamu kudu setor muka ke Pak Ian. PAP," ingat Karin.


"Setor muka ya tetap lah ... Pingin ada teman malam ini."


"Iya. Aku akan cepat nikah. Nunggu waktu yang tepat aja. Pak Ian juga sudah kasih tahu kalau ingin cepat nikah."


"Padahal dia baru saja putus dari Naura kan? Pasti Pak Ian ngebet nikah nih. Sama Naura pasti belum ngapa-ngapain tuh," kata Karin.


"Tentu saja, kampret. Pak Ian itu orangnya bersih. Sama aku aja masih cuma ciuman," kata Luna tidak terima.


"Iya. Pak Ian emang bersih, tapi kamunya yang enggak. Buktinya kamu nyosor aja nyium Pak Ian di belakang panggung. Hehh ... dasar mesum." Karin masih ingat kejadian itu. Dia geleng-geleng kepalanya.


"Itu situasi gawat darurat, Rin. Beda!"


"Beda apanya ..."


"Ih, kamu enggak tahu pokoknya."


"Emang ... Sudah. Aku mau pergi. Nanti pulang kerja bareng aku ya ... Kan aku mau nginap di rumah kamu," kata Karin.


"Oke. Sip." Luna menunjukkan jempolnya. Drrt. Ponsel Luna bergetar. Ada pesan masuk. Itu dari Pak Ian.


"Aku sudah sampai di kota ini terus langsung berangkat ke lokasi kerja," tulis Ian. Mungkin pria itu lelah jadi hanya menulis pesan.

__ADS_1


"Ya sudah. Syukurlah baik-baik saja. Nanti malam aku telepon ya ..." balas Luna.


"Ya. Aku juga sibuk sebentar lagi. Bye Luna. Jangan macam-macam di kantor."


"Justru Ian sayang yang enggak boleh macam-macam." Luna geli sendiri mengetiknya.


"Jadi pingin pulang bacanya."


Hah?


"Sudah. Baik-baik saja di sana. Cepat selesaikan lalu pulang."


"Oke."


Hhh ... Luna menghela napas. Dia juga jadi ingin segera ketemu Ian.


***


Pulang kerja, Luna sudah ada di tempat parkir menunggu Karin. Itu anak memang sedikit lebih lama pulangnya dari dirinya. Tidak lama gadis itu muncul juga.


"Sori agak lama," kata Karin.


"Sudah biasa."


"Langsung ke rumah kamu atau gimana?" tanya Karin.


"Kamu mau ambil baju dulu atau enggak?" tawar Luna.


"Pinjam punyamu aja lah ..."


"Kalau begitu ... nongkrong dulu lah," usul Luna.


"Nanti Pak Ian tahu bisa marah," nasehat Karin.


"Hhhh ... Ya sudah. Kita mampir ke minimarket saja buat beli makanan, lalu pulang." Luna menyerah untuk bersenang-senang di luar. Bisa gawat juga jika tiba-tiba ada yang mengintainya dan lapor ke Pak Ian.


Motor Karin berhenti tepat di depan minimarket yang agak besar. Di sini lengkap ada cafe sama jualan buah. Karena Luna ingin beli buah juga.


Mereka pun ambil keranjang dan memilih Snack dan minuman.


"Jangan lupa beli buah," kata Luna. Mereka menuju rak buah. Luna sedikit kalap kalau beli buah. Ada anggur merah, nanas, semangka, apel, dan pir. Keranjang pun penuh dengan segera.


Drrt, drrt. Ponsel Luna di saku bergetar. Meskipun tidak ada nama di layar ponsel, Luna tetap mengangkat telepon itu.


"Halo selamat malam," sapa Luna.


"Malam. Ini Luna?" tanya suara di seberang. Suara perempuan! "Ini mama, Lun."

__ADS_1


Mama?


...____...


__ADS_2