
Luna berangkat kerja. Dia datang pagi sekali. Lebih pagi dari biasanya dia datang. Itu ada sebabnya. Luna tidak ingin bertemu dengan Pak Ian. Meskipun itu tidak mungkin karena mereka pasti ada hubungannya, tapi setidaknya ia bisa selamat dari tatapan saat datang kerja. Itu mengurangi intensitas pertemuan mereka.
Perempuan ini sudah bersiap masuk ke dalam gedung perusahaan setelah memarkir motor bututnya. Hatinya riang karena merasa pagi ini akan aman. Tidak ada tanda-tanda keberadaan pria itu. Jadi dia tidak perlu merasa malu atas kalimat gilanya waktu itu.
"Aku pikir kamu selalu datang siang, Luna. Ini pagi sekali." Sebuah suara di belakangnya membuatnya terkejut. Luna menoleh cepat ke belakang. "Selamat pagi," sapa Pak Ian sembari tersenyum.
Tidaakkkkk!!
"P-pagi, Pak!" Luna membungkuk membalas sapaan Pak Ian. Dalam hati ia meringis sedih harus bertemu atasannya. Bahkan sepagi ini! Itu artinya akan ada banyak waktu mereka bertemu.
"Aku suka. Kamu terlihat bersemangat hari ini," tutur Ian dengan wajah senang yang elegan.
__ADS_1
Aku bukan sedang bersemangat! Aku panik!
"Ayo, kita masuk ke dalam," ajak Pak Ian sangat ramah. Luna mengangguk saja. Mereka masuk ke lift. Jika seperti ini, Luna menyesal sudah datang pagi. Dia ingin berangkat siang saja. Namun apalah daya, dia sudah satu lift dengan pria ini.
Ian melirik ke arah Luna. Tubuh Luna menegang tiba-tiba. Napasnya berat. Lift yang sempit ini makin membuatnya terhimpit saja. Setelah beberapa detik menatap Luna, Ian kembali melihat lurus ke depan.
"Namun kemudian aku merasa masih ingin bertemu dengan mu meskipun Elio tidak mengajakku ke rumah kamu. Aku pikir agak aneh jika aku datang sendiri menemui kamu tanpa alasan Elio. Setelah aku tahan untuk tetap bersikap seperti biasa, ternyata aku tidak bisa. Jadi aku memaksakan diri ke rumah kamu tanpa alasan Elio. Apa itu aneh?" tanya Ian menoleh ke Luna.
Ini membuat Luna terdiam di tempatnya. Sebuah kejutan untuknya. Kata perkata Pak Ian membuatnya membeku karena tertegun.
__ADS_1
Pak Ian tetap menatapnya dengan senyum yang masih ada. Pria ini mengatakan sesuatu yang terasa merdu di telinganya, tapi juga mengguncangnya. Luna melebarkan matanya. Dia tidak bisa menjawab.
"Aku tahu ini tidak benar. Aku sudah punya kekasih, tapi aku masih menginginkan orang lain. Namun perasaan ini tidak bisa di bohongi. Aku tetap ingin serakah meski tahu perasaan ku salah. Aku mencintaimu, Luna. Bukan sebagai seorang atasan dan bawahan, tapi sebagai pria yang ingin kamu di sampingku."
Luna menatap Pak Ian tidak percaya.
“Apakah aku benar kalau hati kita sama?" tanya Ian. Pandangan mereka beradu. Ian dengan sorot mata yang hangat dan penuh harap. Sementara Luna dengan mata bulat tertegun, juga tidak percaya.
Lift mulai berhenti dan pintunya akan terbuka. Namun mereka masih tetap di sana. Tetap saling bertatap tanpa ada yang mengakhirinya. Luna masih belum bisa membuka mulutnya untuk bicara. Pintu lift terbuka.
..._______...
__ADS_1