
"Benar. Kamu akan punya adik. Dalam perut mama ini ada adik yang akan menemanimu di rumah. Jadi kamu tidak akan kesepian lagi," kata Ian sambil mengelus perut istrinya. Luna mengangguk-anggukkan kepala membenarkan.
"Adik? Seperti yang di katakan Oma?" tanya Elio sambil menoleh pada oma-nya. Ia ingat bahwa Oma pernah mengatakan kalau beliau ingin mama segera punya adik.
"Ya. Kamu benar." Mama Ian tersenyum Elio masih ingat.
"Wahhh ... Aku akan punya teman untuk main robot nih ..." Elio antusias. Wajahnya berubah bahagia. Rupanya dia menerima dengan baik.
"Ya. Kamu akan dapat teman bermain," imbuh Luna jenaka. Elio tampak senang. Ini menular pada semua orang yang ada di sana. Mereka pun ikut tersenyum bahagia.
"Aku mau ambil mainan ku dulu ya, Ma." Elio segera melompat dari pangkuan Ian dan melesat pergi.
"Dia tampak senang dapat adik," ujar Oma. Semua membiarkan bocah itu pergi karena bibi pengasuh yang menemani.
__ADS_1
Mama Ian menghela napas lega. Begitu mendengar kabar bahwa Elio bukan putra kandung Ian, beliau banyak berdoa agar putranya segera mendapatkan seorang putra. Mama ingin Luna segera hamil karena itu akan menutupi rasa cemas beliau pada keharmonisan rumah tangga putranya.
***
Beberapa bulan berikutnya.
Tidak banyak yang berubah dari kebiasaan Luna ketika hamil. Dia masih bisa bermain dengan Elio meskipun tidak boleh se-aktif dulu. Ian melarang. Luna pun tidak ingin melanggar. Dia patuh.
Soal mengidam, Luna tidak banyak merengek meminta ini dan itu. Atau bahkan yang aneh-aneh yang terasa sulit di cari. Hampir di kata, Luna tidak mengidam. Proses ini tidak ada pada Luna. Mertua sampai Herna karena dulu beliau saat hamil Ian, mengidam banyak hal.
Yang menjadi sorotan dalam kehamilan Luna justru suaminya. Ada hal baru yang ada pada Ian.
"Oughh ..." Ian menutup mulut dan hidungnya ketika dia memasuki dapur. Kala itu mama dan pembantu tengah memasak sarapan pagi. Luna juga ada di sana sedang membantu mereka sedikit-sedikit. Seperti memotong sayuran atau hal kecil lainnya. Meski tidak boleh membantu karena perut Luna mulai kelihatan karena sudah berumur, dia enggan bersantai.
__ADS_1
"Ng?" Luna spontan mendongak karena terkejut. Tangannya berhenti memotong sayuran.
"Oughh ..." Ian makin tidak tahan. Ia tidak jadi mendekat. Tubuhnya hanya berdiri di dekat pintu sambil menutup mulut dan hidung. Luna meletakkan pisau dan mendekati suaminya.
"Sayang, ada apa?" tanya Luna cemas. Mama dan pembantu ikut menoleh.
"Aku tidak tahan dengan bau masakan. Rasanya tidak nyaman di perut. Aku terus saja ingin ... Hoek!" Ian menutupi mulutnya dan bergegas ke kamar mandi. Luna cemas.
"Ma! Aku temani Ian dulu. Potong-potongnya aku tinggal," ijin Luna membiarkan sisa pekerjaannya tadi.
"Ya. Hati-hati Luna!" teriak mama cemas saat melihat menantunya mempercepat langkahnya. "Aduh ... Itu anak. Bagaimana ini? Kasihan Ian." Mama terlihat cemas. Rupanya beliau tahu penyebab Ian seperti itu.
Ada apa dengan Ian?
__ADS_1
...______...