Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 92


__ADS_3

"Papa!" sapa Elio yang muncul mendadak di ambang pintu. Naura menoleh ke belakang.


"Oh, anak papa," sambut Ian dengan senyum. Di belakang Elio muncul nyonya Ian. Gadis ini berhenti bekerja. Dia langsung menyibukkan diri di rumah. Karena saat menikah dengan Pak Ian, ia langsung menjadi seorang ibu.


Ian memeluk Elio. Lalu menyambut istrinya. "Selamat siang sayang," ujar Ian lembut. Ia memeluk istrinya lalu mengecup keningnya.


"Hai, Luna," sapa Naura ramah.


"Kenapa ada dia di sini?" tanya Luna melirik Naura masam. Mengabaikan sapaan perempuan ini. Naura terkejut melihat respon itu. Namun dia tidak bisa bicara banyak soal sikap dingin Luna, karena dia istri Ian.


"Entahlah," sahut Ian tidak peduli.


"Kamu masih menggunakannya sebagai model untuk perusahaan, sayang?" tanya Luna dengan remeh. Tangannya mengelus pipi Ian.


"Tentu tidak. Aku tidak akan memberi kesempatan lagi padanya karena sudah membuat kamu repot sayang ..." balas Ian dengan senyuman.


"A-apa maksud kamu Ian?" tanya Naura yang mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ma, ayo kita keluar dulu. Aku takut mama di apa-apain sama Tante Naura," kata Elio sambil menggandeng tangan Luna. Naura melebarkan matanya terkejut dengan kalimat bocah ini.


"Oh, baik sayang," sahut Luna ceria sambil menoleh pada Elio sebentar, lalu menoleh lagi pada Ian. "Aku ke ruangan Danar dulu." Luna berpamitan sembari mengecup pipi suaminya. "Selesaikan ini secepatnya," ujar Luna lembut.


"Pasti," sahut Ian tegas.


"Ayo, Elio. Kita bermain dulu di ruangan Lain." Luna dan Elio keluar dari ruangan Ian.


"Apa yang di bicarakan Luna? Apa dia mempengaruhi mu untuk mendepak aku dari perusahaan ini?" tanya Naura yang langsung paham.


"Ya," jawab Ian tanpa basa-basi.


"Mulai saat ini, kamu aku keluarkan dari daftar model perusahaan ku. Seperti yang sudah kamu ketahui. Aku juga sudah masukkan kamu dalam blacklist dunia model."


"T-tunggu. Apa maksud dari semua ini? Aku tidak melakukan kesalahan, kenapa aku harus mengalami itu?" Naura menahan tangan Ian.


"Lepaskan tanganku," desis Ian.

__ADS_1


"Oh, sorry. Katakan dengan jelas lebih dulu, apa alasan kamu melakukan semuanya. I-ini tidak masuk akal." Naura sangat terpukul.


"Jadi kamu belum sadar kalau mulut mu mengakibatkan semua kontrak mu dengan perusahaan ku hangus?"


"Apa? Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak mengatakan apa-apa." Naura bingung.


"Karena kamu mempengaruhi Putraku dengan omongan yang tidak masuk akal mu, akhirnya pernikahan ku sempat terancam gagal," jelas Ian dengan dingin.


"Putra? Elio?" tanya Naura. Sesaat memori ingatannya kembali pada saat terakhir ia ketemu bocah itu. Di pesta. Lalu ia ingat apa yang ia katakan pada Elio. Mendadak wajahnya menjadi pucat karena takut.


"Sekarang kamu ingat?" tanya Ian yang menunggu Naura sadar.


"I-itu hanya sebuah candaan saja," ujar Naura tersenyum kaku. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Aku tidak sungguh-sungguh."


"Candaan? Ya. Sebuah candaan yang berujung petaka bagi aku dan Luna. Sejak awal mulutmu itu benar-benar tidak bisa di toleransi lagi. Jadi sekarang rasakan sendiri akibat dari apa yang kamu lakukan. Sekarang keluar. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."


"Tidak bisa begini, Ian," kata Naura tidak terima. Ia panik.

__ADS_1


"Danar!" panggil Ian.


...____...


__ADS_2